Kamis, 16 September 2021

OVERDOSIS

 

Di depan cermin, terlihat  perutku semakin besar. Lalu kuelus bulatan di perut ini. Penyakit yang aku takuti, mungkinkah itu terjadi. Bagaimana nasib kedua anakku yang masih kecil.

Berusaha menolak penyakit itu, kucoba untuk melakukan tes kehamilan. Meskipun rasanya tidak mungkin, karena aku menggunakan alat kontrasepsi, yaitu implan. Kata bidan yang memasang implan, kemungkinan sangat kecil bahkan tidak bisa hamil.

Setelah membeli dari apotek, kugunakan tespack itu. Satu garis merah. Artinya aku tidak hamil. Lantas benjolan apa yang ada di perutku ini?

Rasa takut ini semakin menghantuiku. Seperti yang pernah kubaca tentang penyakit yang menyerang rahim ini, rasanya benjolan ini memang benar kista.

Disarankan oleh bidan yang memasang implan ini, untuk periksa kandungan ke Puskesmas.  Dengan ditemani suami dan kedua anakku., menunggu antrean panjang, hingga akhirnya bertemu dengan bidan di Puskesmas itu.

“Sudah dites belum, Buk?” Bidan itu bertanya, setelah mendengar penjelasanku.

“Sudah, Bu,” jawabku.

“Pakek tespack yang harganya sepuluh ribu itu, ya?” tebaknya.

“Iya, Bu. Yang merk nya ****.”

“Tak tes lagi, ya. Ini pakek tespack yang lebih bagus,” jelasnya.

Aku menurut saja yang dikatakan bidan itu.

Lima menit kemudian, bidan menunjukkan tespack itu dengan satu garis merah yang tajam, dan satu garis lagi yang samar. Tidak mau menduga-duga, bidan itu menyarankanku untuk melakukan USG ke dokter kandungan.

Risau dihatiku belum kelar. Belum ada kejelasan atas perutku yang membuncit. Kuraba lagi, tak ada gerakan apapun. Jika ini janin, detak jantungnya tak pernah kurasa. Padahal dengan perut yang sebesar ini, kuperkirakan usia kehamilan lima bulan.

Seperti saran bidan, aku melakukan pemeriksaan ke dokter kandungan. Sama halnya di Puskesmas, di klinik inipun antrean sangat panjang. Lagi-lagi kedua anakku rewel  menunggu sekian lama. Hingga akhirnya aku dipersilakan masuk ruangan oleh seorang asisten dokter. Kedua anakku tinggal diluar dengan ayahnya.

Setelah tanya jawab dengan dokter , aku berbaring di atas ranjang. Asisten dokter menyiapkan peralatan pemeriksaan. Sejurus kemudian Dokter Sonia mulai memeriksa. Kulihat layar kecil di atas kepalaku, yang juga dilihat oleh dokter Sonia. Selesai, kurapikan bajuku lalu turun dari ranjang itu.

“Ibu pakek implan, ya?” tanya Dokter Sonia.

“Iya, Bu. Minggu kemarin  baru saja diganti,” jelasku. Dokter Sonia terlihat terkejut.

“Loh, udah diganti? Gak dites dulu sama bidannya?”

“Enggak, Bu. Mungkin karena langsung. Setelah di lepas terus dipasang lagi yang baru,” jelasku.

“Tapi seharusnya harus dites sebelum memasang alat kontrasepsi,” ujar Dokter Sonia.

“Jadi aku gimana, Bu?”

“Kamu hamil, Bu. Janinnya juga udah besar. Sekitar 24 minggu.”

“Berarti ini bukan kista kan, Bu?” tanyaku.

“Tidak, Bu. Itu janin. Segera dilepas ya implannya!” perintah Bu Sonia.

“Iya, Bu. Tapi kalau ini janin kok belum ada gerakan sama sekali, ya?” penasaran kutanyakan hal itu.

“lha ... itu, makanya saya suruh Ibu lepas implannya. Mungkin efek hormon dalam implan tersebut. Setelah dilepas nanti periksa kesini lagi, ya!” kata Bu Sonia, tangannya sibuk menulis resep untukku.

Aku lega. Ternyata bukan kista yang bersemayam di perutku. Melainkan calon jabang bayi. Hatiku gembali gelisah. Si sulung berusia lima tahun, sedang yang kedua masih berusia tiga tahun, dan sebentar lagi akan punya adik. Tak bisa membayangkan jika harus mengurus tiga anak kecil. Ya Allah ... haruskah aku bahagia? Atau sebaliknya?

Keesokan harinya, aku ke tempat bidan yang memasang implan, dan hendak melepasnya. Kuceritakan yang terjadi, namun bidan hanya diam. Aku tak mempermasalahkan hal ini.

Setelah implan terlepas, betapa terkejutnya aku. Janin yang sebelumnya diam, sekarang bergerak sangat aktif. Kuelus perutku perlahan. Tak kusadari, bulir bening menetes dari kedua mata ini. Aku merasa bersalah. Seakan tak menerima janin dalam perut ini. Aku pasrah. Entah bagaimana nanti repotnya mengurus tiga anak. Dua anak laki-laki sudah membuat penuh pekerjaan harianku.

Kali ini hanya bersama suami, aku pergi ke klinik Dokter Sonia. Kedua anak kutitipkan ke rumah kakak ipar yang tak jauh dari rumah.

“Sudah dilepas, Bu, implannya?” ujar Bu Sonia.

“Sudah, Bu. Alhamdulillah janinnya bergerak aktif sekali.”

“Oh iya ... ngomong-ngomong bayiku cowok atau cewek ya, Bu?” kutanyakan hal ini yang kemarin belum sempat bertanya.

“Sebentar, nanti dilihat lagi, ya.”

“Jadi gini ....” Bu Sonia membenarkan tempat duduknya, hendak menjelaskan sesuatu kepadaku.

“Ibuk itu hormonnya sangat tinggi. Kelebihan hormon. Overdosis istilahnya. Pakek kontrasepsi apapun pasti kebobolan juga. Kasus seperti ini seharusnya harus diganti setengah dari masa aktif  kontrasepsi itu. Misalnya Ibuk pakek implan jangka 3 tahun, setahun setengah harus sudah diganti. Agar hormon diperbarui.”

Aku manggut-manggut mendengarnya. Berpikir hal yang masuk akal. Sebelumnya mempertanyakan hal ini. Kenapa aku bisa hamil. Namun sekarang sudah paham, setelah mendengar penjelasan dari Bu Sonia.

“Terima kasih, Bu.”

“Iya, sekarang mau lihat gak jenis kelamin anaknya?” Senyum Bu Sonia mengembang, mencairkan suasana yang tegang.

“Mau dong, Bu,” celetuk suamiku.

Aku berbaring di atas ranjang, siap diperiksa oleh Bu Sonia.

Beliau menggerak-gerakkan alat di atas perutku, lalu berkata, “kayaknya kok cowok, ya.”

Aku tertawa kecil.

“Cowok lagi!” pekik suami yang berdiri di samping ranjang.

“Inikan cuma prediksi tho, Pak. Bisa saja salah,” ucap Bu Sonia. Sedang aku hanya diam.

***

Aku mulai mempersiapkan peralatan bayi. Rasanya baru kemarin aku ada diposisi seperti ini, sekarang sudah berkemas gurita, bedong, dan gendongan lagi. Untung bekas kakaknya masih bagus, sehingga hanya membeli beberapa saja.

Tanggal perkiraan lahir sudah jatuh dua hari yang lalu. Kembali periksa ke bidan, aku dirujuk ke rumah sakit.

Untung saja aku memiliki kartu KIS, sehingga tidak memikirkan biaya operasi. Iya, akhirnya dokter memutuskan untuk tindakan operasi. Selain mundur dari HPL, riwayat kehamilanku yang mengharuskan untuk dilakukannya operasi.

Aku terbaring di atas ranjang, dengan lampu-lampu diatasnya. Seorang perawat memasang tirai memisahkan bagian dada ke atas dan ke bawah. Sebelumnya dokter memberikan injeksi anestesi di tulang punggungku.

Mata ini terbuka meski terlihat kabur. Dentingan alat operasi terdengar lirih di telingaku. Mungkin dokter sudah menyayat perutku. Mulutku komat-kamit mengucap lafal Allah. Meminta kekuatan kepada Sang Pencipta, juga keselamatan untukku dan bayiku.

Lima belas menit kemudian terdengar tangisan bayi, namun aku merasa sangat lelah. Hingga kemudian tak ingat lagi yang terjadi.

Kubuka mata perlahan. Badanku menggigil. Kulihat ruangan penuh dengan alat entah apa itu namanya. Tak ada seorangpun disini. Kemudian seorang perawat mendekati.

“Ibu sudah sadar, alhamdulillah anaknya sehat dan ganteng,” kata perempuan berbaju putih itu.

“Alhamdulillah .... Suamiku mana, Bu?”

“Ada diluar, nanti saya panggilkan. Saat ini ibu masih harus disini dulu, sampai efek obat bius itu hilang. Nanti setelahnya, Ibu bisa dipindah di ruang rawat,” jelasnya.

Aku hanya mengangguk. Rasa dingin yang sangat kurasakan di tubuhku, membuat sulit untuk bicara. Tak lama kemudian suamiku datang lalu memelukku.

Efek obat bius itu sudah hilang. Badanku sudah normal. Aku dipindah di kamar rawat bersama pasien yang lain. Kamar kelas tiga yang berisi enam pasien.

Aku lega, telah melewatinya. Tak lama kemudian seorang suster membawa bayiku. Segera kuberi ia ASI pertama. Katanya ini bisa menjadi antibodi untuk si bayi.

Kuelus kepalanya. Kupegang jarinya yang mungil. Bayi yang tak bergerak beberapa bulan dalam kandungan, kini sudah ada di pangkuan. Suami dan kedua anakku masuk ke ruangan. Nampaknya anak-anak senang dengan hadirnya si adik. Dicubiti pipinya lalu menciumnya.

Aku tersenyum. Kebahagiaan menyelimutiku, suami dan ketiga jagoanku.

Pentingkah Mengenalkan Literasi Pada Anak?

 

Hampir semua orang sependapat dengan ungkapan ‘Membaca adalah jendela dunia’. Benar, tidak ada orang cerdas tanpa membaca. Tidak ada professor handal yang tak suka membaca. Tidak ada seorang penulis yang enggan membaca. Membaca adalah sebuah aktivitas mengumpulkan ide, pengetahuan, serta teori yang akan membuat seseorang menjadi paham dan mengerti terhadap sesuatu hal. Lantas, kapan aktivitas membaca itu bisa dimulai?

Di kurikulum pra sekolah tidak diajarkan membaca. Di usia mereka lebih ditekankan bermain yang mengandung edukasi. Istilahnya bermain sambil belajar, dan belajar sambil bermain. Selain permaian edukatif, juga dianjarkan pembiasaan-pembiasaan terkait perilaku positif terhadap lingkungan sekitar. Lingkungan rumah, sekolah dan juga lingkungan alam. Namun, saat memasuki sekolah dasar, anak dituntut untuk bisa membaca. Memang ada sedikit ganjal rasanya. Kurikulum yang tidak ada kemampuan membaca, tetapi saat masuk SD anak harus bisa membaca. Apa yang sebaiknya dilakukan oleh pendidik maupun orang tua?

Beberapa pra sekolah mengajarkan membaca melalui permainan-permainan yang mampu memicu anak yang mampu mengembangkan kemampuan bahasa sekaligus membaca. Hal ini menuntut pendidik lebih kreatif dalam menciptakan permainan edukatif tersebut. Bukan hanya perkembangan bahasa, tetapi juga aspek perkembangan lainnya seperti kognitif, sosial emosional, dan juga sosialnya.

Kenapa harus melalui permainan untuk menjejalkan teori dan pengetahuan pada anak usia dini? Pertama, dunia anak adalah bermain. Sebaiknya tidak memaksa anak untuk melakukan suatu hal di luar permainan, kecuali jika anak menghendakinya. Kedua, dengan bermain akan melatih interaksi anak dengan lingkungan sekitarnya. Apalagi pada permainan kooperatif yang membutuhkan komunikasi dan kerjasama antar anak satu dangan anak yang lain.

Selain dengan permainan edukatif ada beberapa cara lain yang bisa dilakukan untuk menstimulus perkembangan bahasa pada anak. Sebelum pada tahapan membaca, pastikan anak sudah menyukai buku. 5 tipsnya diantaranya adalah sebagai berikut:

1.      Kunjungi Toko Buku atau Perpustakaan

Jika menginginkan anak menyukai buku, pertama yang dilakukan adalah menciptakan atmosfir yang sesuai. Toko buku atau perpustakaan adalah tempat yang tepat untuk mengenalkan anak pada buku. Kunjungi secara berkala dan belilah beberapa buku yang anak suka.

2.      Membacakan Buku pada Anak Setiap Hari

Buku yang dibacakan bisa dari cerita atau tokoh yang digemari anak. Sebaiknya mencari buku yang disertai gambar. Karena anak lebih cepat menangkap gambar daripada tulisan. Dengan mendengarkan guru atau orang tua bercerita anak akan menghubungkannya dengan gambar yang dilihat, sehingga kosakatanya bertambah.

3.      Menciptakan Suasana yang Menyenangkan Saat Membaca

Suasana sedikit memberikan pengaruh ketika anak mendengarkan cerita atau pun membaca. Menjelang tidur adalah waktu yang bisa Anda lakukan untuk melatih anak untuk membaca atau sekadar mendengar cerita.

4.      Melatih Membaca Setelah Bercerita

Perlahan, latihkan anak membaca setelah Anda bercerita. Buatlah jadwal khusus untuk anak bercerita menggantikan Anda. Meskipun belum sempurna, tetap berikan apresiasi dan motivasi agar anak lebih semangat membaca.

5.      Menyiapkan Rak Khusus Untuk Menyimpan Buku

Terdengarnya sepele memang. Namun, hal ini adalah cara kita mengajarkan anak untuk menghargai buku. Biarkan anak untuk menata sendiri buku-bukunya.

Membaca adalah aktivitas vital untuk menguasai dunia. Membaca bisa dimulai sejak usia dini dengan cara yang tepat dan tidak membosankan

 

Selasa, 14 September 2021

Kenali Perbedaan Tulisan Fiksi dan Nonfiksi Berikut Sebelum Memulai Menulis

sumber gambar : https://kitabelajar.github.io/belajar/post/novel-fiksi-dan-non-fiksi/





Menulis adalah kebutuhan manusia. Dalam kehidupan kita tidak terlepas dengan menulis dan tulisan. Koran, majalah, berita online, buku referensi, resep masakan adalah sebuah tulisan. Pernahkah kalian berfikir tidak hanya menjadi penikmat, tetapi juga menciptakannya? Inilah yang disebut dengan menulis profesional. Menulis yang memperhatikan kaidah tata bahasa serta ejaan yang berlaku.

Ada banyak jenis tulisan. Ada jurnal, karya tulis ilmiah, deskripsi, fabel, otobiografi, puisi, surat, novel, dan masih banyak lagi. Tulisan-tulisan tersebut terbagi menjadi dua jenis yaitu tulisan fiksi dan tulisan non fiksi.

Fiksi adalah karya atau narasi yang bisa digabung dengan data dan fakta yang disajikan dalam bentuk imajinatif.  Karya yang masuk dalam kategori karya fiksi diantaranya : cerpen, novelette, novel, komik, graphic novel. Sedangkan Non Fiksi adalah klasifikasi untuk setiap karya informatif (bisa berupa berita) yang bersifat faktual, nyata dalam kehidupan kita. Karya yang masuk dalam kategori non-fiksi diantaranya : Eksposisi, argumentasi, esai, biografi, memoar, opini, jurnalisme, referensi, buku ilmiah, dan sebagainya.

Lantas apa yang membedakan antara fiksi dan non-fiksi? Yaitu pada dasar-dasar atau teknik penulisannya.

Tulisan Fiksi. Dalam sebuah karya pasti ada ide atau topik. Begitu juga dengan karya fiksi. Untuk sumber ide bisa kita dapatkan dari pengamatan atau pengalaman, gagasan dari karya orang lain, literatur, serta imajinasi. Gagasan ide tersebut kemudian kita kembangkan menjadi sebuah tema dan kerangka karangan. Selanjutnya menentukan tokoh yang terdiri dari tokoh utama dan tokoh pembantu yang memiliki sifat atau karakter masing-masing. Dalam dunia fiksi ada istilah protagonis untuk karakter tokoh baik serta antagonis untuk karakter tokoh tidak baik.

Tidak hanya itu, dalam karya fiksi terdapat konflik dan alur. Konflik adalah benturan tokoh dengan dirinya sendiri, dengan tokoh lainnya atau dengan setting. Sedangkan alur adalah kumpulan konflik yang menjadi sebuah rangkaian cerita. Terdapat tiga jenis alur dalam sebuah karya fiksi diantaranya : alur maju (progesif) yang mana cerita berjalan maju; tanpa ada kilas balik,  alur mundur (flashback) cerita dimulai dari masa sekarang, mundur menuju masa lalu; dan alur campuran (flashforward) adalah gabungan dari masa sekarang dan masa lalu.

Dalam menulis fiksi kita dituntut untuk berimajinasi, menentukan latar tempat yang menarik juga tata bahasa yang variatif sehingga menciptakan diksi yang unik.

Tulisan Non-Fiksi. Sama halnya dengan karya fiksi, karya non-fiksi pun harus memiliki ide. Namun, bedanya pada karya non-fiksi tidak membutuhkan imajinasi, justru yang dibutuhkan adalah data atau fakta. Menulis karya non-fiksi terlihat lebih mudah daripada menulis fiksi. Memang benar, tetapi letak kesulitannya adalah pada pengumpulan data dan riset serta literatur yang dibutuhkan. Jika data sudah siap, menulisnya tidak membutuhkan waktu lama.

Hal yang perlu dilakukan sebelum menulis karya non-fiksi adalah : perbanyak membaca buku, artikel serta berita-berita; melatih merangkai kata-kata; menggunakan prinsip 5W+1H ; berlatih menghubungkan kata, kalimat, dan paragraf; serta berlatih mengutip dan menempatkan rujukan.

Ada yang berpendapat bahwa menulis karya non-fiksi lebih mudah daripada karya fiksi. Hal ini bisa dilihat dari para penulis fiksi yang juga mampu membuat karya non-fiksi. Sebaliknya, meskipun ada, tetapi sedikit penulis karya non-fiksi yang membuat karya fiksi.

Namun, apa pun  karyanya adalah hal berharga. Sudahkah kalian menghargai karyamu menjadi sebuah buku? Memang tidak semua penulis  ingin membukukan karyanya, mungkin karena hanya sebagai mengembangkan hobi. Sekarang ubah mindset kalian jika masih berfikir seperti itu. Dengan mencetak dan memasarkan buku, itu artinya kita akan mendapatkan income. Bahkan bisa dengan sistem royalti. Semakin banyak buku tercetak maka semakin banyak pula income yang kita dapatkan.

            

Senin, 13 September 2021

Mengenang Arswendo Atmowiloto, Penulis Sekaligus Wartawan yang Raup Berbagai Penghargaan

 
sumber gambar : Wikipedia.com



Arswendo Atmiloto lahir di Solo pada 26 Nopember 1948 memiliki nama asli Sarwendo. Karena dianggap kurang komersil, diubahlah menjadi Arswendo dengan menambhkan nama bapaknya yaitu Atmowiloto.

Laki-laki yang telah meninggal pada 19 Juli 2019 ini dikenal sebagai penulis dan wartawan di berbagai media terkenal. Salah satu karyanya berjudul Keluarga Cemara yang kemudian diangkat di layar televisi dalam sinetron di era 90-an dan film layar lebar pada tahun 2019.

Tak hanya itu, ia juga menjadi sosok di balik sinetron populer Ali Topan Anak Jalanan di tahun1997-1998, Deru Debu di tahun 1994-1996, 1 Kakak 7 Ponakan pada tahun1996, Jalan Makin Membara II dan III di tahun 1995-1997, dan Imung pada tahun 1997.

Arswendo juga pernah memimpin Bengkel Sastra Pusat Kesenian Jawa Tengah di Solo pada tahun 1972. Ia juga menjadi wartawan Kompas, menjadi ketua redaksi di Hai, Monitor, dan  Senang.

Suatu ketika ia dijerat hukuman penjara selama 5 tahun terkait perkara penistaan agama. Pada saat itu Tabloid Monitor memuat hasil jajak pendapat tentang siapa yang menjadi tokoh idola pembaca. Arswendo terpilih menjadi nomor 10, satu tingkat lebih unggul dengan Nabi Muhammad SAW. Sebagian muslim marah dan menimbulkan masalah di tengah masyarakat.

Meski demikian, tak membuat Arswendo berhenti berkarya. Tujuh buah novel, puluhan artikel, tiga naskah skenario dan sejumlah cerita bersambung ketika hidup di penjara. Namun, untuk sebagian karya ia menggunakan identitas palsu.

Keluar dari penjara, Arswendo mendirikan perusahaan bernama PT. Atmo Bismo Sangotrah. Sebelumnya selama 3 tahun ia telah bekerjasama dengan Sudwikatmono untuk menghidupkan kembali Tabloid Bintang Indonesia yang saat itu sedang menurun reputasinya.

Beberapa karir yang lain diantaranya menjadi wartawan koran berbahasa Jawa Dharma Khanda  dan Dharma Nyata sampai tahun 1974, mendirikan Rumah Produksi PT Atmochademas Persada, Direktur dan Pemimpin Umum  dari Atmo Grup yang menerbitkan tabloid Pro TV, Bianglala, dan Majalah Anak Ina.

Atas karya yang dihasilkan, Arswendo meraup berbagai penghargaan diantaranya: Piala Vidya untuk Sinetron Pemahat Borobudur pada tahun 1987; ASEAN Award Culture Communication & Literary Works, Bangkok, Thailand pada tahun 1987; Piala Vidya Utama atas Cerita Sinetron Terbaik untuk sinetron Menghitung Hari di tahun 1995; serta Piala Vidya untuk Vonis Kepagian pada tahun 1996.


Minggu, 12 September 2021

Surat Cinta dari Ibu

 

Tidak ada surat cinta yang  lebih indah daripada ini. Surat pertamaku tidaklah datang dari orang yang tersayang. Melainkan dari seorang pengajar di sekolah tempat aku belajar.

Tiga bulan mengenyam pendidikan di lembaga itu, rasanya aku tak pernah sekali pun melakukan kesalahan. Alih-alih bertengkar, bergaul dengan teman pun jarang. Aku lebih suka mengejar binatang terbang yang kemudian kubawa pulang.

“Thomas,” panggil wanita paruh baya itu kepadaku sebelum aku meninggalkan kelas.

“Ada apa, Bu?” Sahutku seraya mengangkat tas yang kemudian kupanggul di punggung.

“Ini.” Wanita itu menyerahkan sebuah amplop yang tertutup erat.

Kuraih amplop putih itu, “Ini apa, Bu?”

“Serahkan saja amplop ini kepada ibumu. Awas! Jangan kamu buka amplop ini!”

Wanita itu membelalakkan kedua matanya. Memberikan peringatan keras kepadaku agar tak membuka surat dalam amplop itu. Seharusnya wanita di depanku itu tidak perlu khawatir. Meskipun aku membuka amplop yang ia serahkan kepadaku, mana mungkin aku memahami setiap kalimat yang ia goreskan di sana.

Kumasukkan amplop itu ke dalam saku celana dan bergegas menemui ibu.

“Ibu, ini dari Bu Guru,” kataku sesampainya di rumah dan menyampaikan amanah dari guruku.

“Apa ini, Thom?”

Ibuku penasaran, aku pun sama. “Buka saja, Bu! Aku juga mau tahu apa isi surat itu.”

Ibu menyobek ujung atas amplop. Tak sabar, jika harus membuka perekatnya yang memakan waktu lebih lama.

Begitu terbuka ibu mengeluarkan selembar kertas yang dilipat membentuk persegi panjang berukuran lebih kecil daripada pembungkusnya.

Ibu merentangkan lembaran dan berlanjut membaca tulisan. Sementara aku masih setia menunggu penjelasan dari ibu.

Masih mengenggam selembar kertas, ibu tiba-tiba duduk di kursi di sampingnya. Tanpa perintahnya, aku mengikuti gerakan ibu. Aku duduk di samping ibu. Sesekali aku menengok kertas yang dipegang ibu. Namun, sia-sia. Aku tak bisa membacanya.

“Apa isinya, Bu?”

Aku semakin penasaran semenjak raut wajah ibu berubah setelah ia mengambil posisi duduk di kursi.

Ibu melipat kembali kertas itu kemudian ia masukkan lagi ke amplop tadi.

“Thomas,” kata Ibu, “mulai besok kamu belajar di rumah bersama Ibu, ya!”

“Kenapa, Bu?” Suaraku mengeras. Terkejut dengan perkataan ibu. Apa hubungannya surat itu dengan diriku? Aku tak menurut begitu saja, meskipun ibu sudah membujukku untuk menuruti permintaannya.

“Thomas, dengarkan ibu!” Kini suara ibu yang mengeras setelah aku merancau karena tak mau belajar di rumah. Aku ingin belajar di sekolah.

“Gurumu yang meminta hal ini, Thomas.” Suara ibu melirih seiring rengkuhan di bahuku.

“Maksud Ibu apa?”

“Kamu adalah anak yang genius, Thomas. Pihak sekolah tidak bisa memberikan fasilitas untukmu. Karena kamu terlalu pintar dibandingkan teman-temanmu.”

Aku terdiam, tak mampu memahami penjelasan ibu.

Kutatap kedua mata wanita di depanku. Berkilatan disertai cairan bening yang menggenang. Aku tak bisa melihat ibu bersedih. Kuanggukkan kepala perlahan, bertanda aku menyetujui permintaan ibu. Seketika ibu merengkuh tubuh kecilku kemudian memelukku erat.

Sejak itu ibu menjadi guruku di rumah. Ibu mengajariku membaca, menulis dan menyelesaikan masalah pada hitungan kurang dan tambah. Tidak hanya itu, ibu juga mengajakku belajar di luar rumah. Ibu selalu memarahiku ketika ia menjelaskan pelajaran, aku malah mengejar belalang yang beterbangan.

“Bu, tubuh belalang ini isinya apa, sih?” tanyaku penasaran.

“Binatang itu juga makhluk hidup seperti kita, memiliki organ yang bekerja sesuai fungsinya.”

Aku semakin penasaran. Tanpa sepengetahuan ibu  diam-diam aku membelah tubuh beberapa binatang hanya ingin tahu organ yang dimaksud ibu. Sampai suatu hari aksiku ketahuan ibu. Jelas ibu melarang tindakan itu. Menurutnya apa yang kulakukan itu menyakiti binatang.

“Kalau kamu ingin tahu, kamu harus bisa membaca. Nanti ibu ajak kamu ke toko buku. Di sana kamu bisa memilih buku sesukamu, termasuk organ-organ binatang yang kamu ingin tahu.”

Semenjak itu aku tak lagi membelah tubuh binatang. Aku lebih semangat belajar membaca dan ingin segera menagih janji ibu membelikan buku.

***

“Dok, ada pasien yang harus segera ditangani. Korban tabrak lari di depan rumah sakit. Warga membawanya ke sini.”

“Baiklah, saya segera ke UGD.”

Kukenakan jas kebesaran, lalu menaikkan masker menutupi sebagian wajahku. Kupercepat langkah agar bisa segera memberikan pertolongan kepada pasien korban kecelakaan itu.

Dua perawat membantuku menyiapkan peralatan. Tak begitu parah. Untuk melihat darah yang mengucur di kaki sudah menjadi makananku sehari-hari.

Setelah membersihkan darah, kebalurkan antiseptik untuk mencegah terjadinya infeksi akibat bakteri. Setelahnya kusumpat luka pada kaki laki-laki paruh baya itu menggunakan kasa kemudian  kuliliti perban untuk menguatkan balutan.

“Apa perlu di-rontgen, Dok?” tanya perawat yang sedang mengukur  tensi darah laki-laki itu.

Aku menekan-nekan kaki laki-laki itu.

“Aduh,” teriak pasien sambil memegang kakinya.

“Iya. Kayaknya ada yang patah dan perlu dilakukan tindakan,” kataku sembari beralih ke meja petugas administrasi di UGD, “jadwalkan pemeriksaan untuk bapak itu!” perintahku pada seorang recepsionist.

“Tapi, Dok, belum ada pihak keluarga atau pun yang bertanggung jawab lainnya,” sanggah petugas muda itu.

“Biar aku yang menanggungnya.”

Aku kembali ke ruangan. Semburat oranye menerobos melalui jendela. Kulirik jam di samping bingkai fotoku bersama ayah dan ibu.

Tiba-tiba pikiranku melayang kepada kejadian beberapa tahun silam. Ibu yang seharusnya menyaksikan kesuksesanku menjadi seorang dokter, tetapi takdir berkata lain. Kecelakaan yang menimpa ibu telah merenggut nyawanya setelah beberapa hari mendapat perawatan di rumah sakit tempatku praktik.

Sebelum ibu mengakhiri hidupnya, ia memintaku mengambil sebuah kotak hitam yang disimpan di laci kamarnya. Kuturuti saja permintaan ibu.

Setelah kotak itu di tangan ibu, ia membukanya lalu mengeluarkan sebuah amplop yang sudah usang. Dilihat dari warnanya yang kecoklatan itu pasti  barang yang sudah lama disimpan.

Ibu menyerahkan amplop itu kepadaku, “Baca ini, Thom!”

Aku masih belum memahami maksud ibu menyerahkan amplop itu. Seingatku aku tidak pernah melihat ibu menyimpan benda ini.

Aku meraih benda usang kecoklatan itu. Membuka lipatannya kemudian membaca isinya.

Nyonya Nancy Yang Terhormat

Tanpa mengurangi rasa hormat kami kepada Ibu, kami dari pihak sekolah dengan terpaksa mengeluarkan Thomas, anak Ibu.

Kami merasa keberatan untuk mengajar Thomas. Ia mengalami disleksia. Untuk membaca saja kesulitan, apalagi memahami pelajaran.

Thomas anak yang bodoh. Thomas tertinggal jauh dari teman-temannya dan tidak mungkin mampu mengejar ketertinggalannya.

Sekali lagi kami mohon maaf atas kebijakan yang kami ambil.

Wali Kelas Thomas

Aku terbelalak hingga menyelesaikan kalimat demi kalimat yang kubaca.

“Kenapa ibu berbohong padaku?” tanyaku, bulir bening telah lolos dari mata ini.

“Maafin Ibu, Thom. Karena Ibu yakin kamu bukanlah anak yang bodoh. Hanya saja guru kamu tidak tahu caranya mengajarimu.”

Aku melipat kembali surat itu dan memasukkan ke tempat semula.

Suara azan menggema dari masjid rumah sakit. Kubasuh butiran bening di tepian mata. Aku tak boleh menangis. Aku harus kuat, sekuat ibu yang mampu menjadikan anak bodohnya menjadi orang yang berguna.

Wanita yang melahirkanku tidak hanya mendapatkan plakat seorang ibu. Lebih dari malaikat untukku. Terima kasih, Ibu. Kau telah membuktikan kepada dunia, bahwa tak selamanya anak bodoh tidak bisa menjadi orang yang berguna. Ibu ... engkau pahlawan dalam hidupku.

Sabtu, 11 September 2021

Platform untuk Menggali Sumber Berita


Halo sobat literasi! 

Menjadi Conten Writer pasti membutuhkan sumber informasi sebagai rujukan tulisannya. Terlebih untuk karya nonfiksi yang  harus terbukti kebenarannya. Nah, sebagai freelancer conten writer mencari sumber berita bisa dilakukan hanya dari rumah. Dari mana kita menggali sumber berita yang bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya?

Salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan mencari informasi dari berbagai platform. Media sosial bisa menjadi terobosan termudah untuk menggali informasi dari narasumber. Banyak para tokoh dan pejabat negara yang memiliki akun media sosial Twitter. Kita bisa memanfaatkan informasi dari platform tersebut. Ungkapan para tokoh di media sosial bisa menjadi sumber berita yang valid. Namun, jangan lupa menyertakan sumbernya. Seperti nama akun media sosial yang kita kutip dan tanggal dipubikasikannya. 

Untuk melihat akun media sosial tersebut terverifikasi atau tidak, mudah saja. Jika terdapat centang biru dapat dipastikan akun tersebut benar-benar milik tokoh yang dimaksud.  

Media sosial juga bisa dimanfaatkan untuk melihat topik yang tengah trending melalui hastag. Kita bisa dengan mudah mendapatkan topik yang kemudian dikembangkan lagi menjadi berita softnews dan juga hardnews. Pasti kalian sudah paham perbedaan keduanya kan? Lain kali insyaallah akan saya bahas mengenai perbedaan softnews dan hardnews

Selain dari media sosial tokoh, kita juga bisa menggali informasi dari media lain yang sudah terpercaya. Misalnya untuk hardnews kita bisa mengutip dari detik.com atau Kompas.com. kedua media tersebut merupakan media yang banyak dijadikan referensi jurnalis dan conten writer

Hal yang tidak boleh dilakukan ketika mengutip dari media lain yaitu menggunakan bahasa dan kalimat yang sama persis. Juga tidak menyertakan sumber berita. Misalkan kita mengambil informasi dari Kompas, mudah saja kita tinggal menambahkan kalimat Mengutip dari Kompas.com ..., atau bisa juga Melansir dari Kompas.com ....

Hal itu dilakukan untuk menghindari plagiarisme pada tulisan. Hal penting lainnya yaitu dengan melakukan parafrase ketika kita menulis berita. Hindari penggunaan kalimat yang sama persis, meskipun ini kerap terjadi pada konten berita hardnews

Sebelum mengguggah berita, conten writer sebaiknya melakukan pengecekan plagiarisme menggunakan aplikasi yang tersedia di internet. Kita tinggal mengcopy tulisan, kemudian aplikasi akan men-scan tulisan tersebut dan keluar prosentase plagiarisme. Setiap media biasanya memiliki kebijakan masing-masing terkait berapa besar prosentase plagiarisme. Umumnya batas maksimal mencapai 5-10%. Karena ini tulisan nonfiksi pasti akan memiliki persamaan dengan tulisan di media lain. Misalkan nama tokoh, nama tempat dan topik itu sendiri. Namun, jika kita pandai melakukan parafrase , pasti tidak akan kesulitan untuk menyusun berita.


Jumat, 10 September 2021

Jadi Freelancer Conten Writer, Why Not!


Jika dijabarkan, menulis itu sangatlah luas. Beragam jenis tulisan tersebut dibagi menjadi dua kategori umum yaitu tulisan fiksi dan nonfiksi. Saya tidak akan mengulas perbedaannya di sini. Sudah terlalu banyak artikel yang menjelaskan pengertian, jenis dan karakteristik dua kategori tersebut.

Saya hanya ingin menceritakan pengalaman ketika saya menjadi salah satu kontributor media online yang berkantor pusat di Yogyakarta. Unik memang, saya berdomisili di Nganjuk, tetapi harus menulis untuk media kota lain.

Tidak ada masalah. Kecanggihan teknologi menjawab semuanya. Meski saya tidak bisa bertemu langsung dengan pimpinan redaksi juga teman-teman kontributor lainnya, tetapi setiap hari kami berdiskusi yang hunting berita bersama-sama.

Ada beberapa teman yang bertanya kepada saya bagaimana sistematis menjadi kontributor juga jurnalis berita. Mereka juga menanyakan bagaimana saya bisa menulis berita padahal tidak keluar rumah. Inilah yang disebut sebagai freelancer.

Freelancer memiliki artian sebagai pekerja lepas yang tidak terikat kontrak jangka panjang, tetapi tetap memiliki kontrak yang kuat dan jelas. Begitu juga dengan saya. Setiap hari saya menulis berita, baik hardnews maupun softnews. Karena media tersebut merupakan media online di Yogyakarta, sudah semestinya berita lokal juga seputar Yogyakarta, terlepas berita nasional pada umumnya.

Tulisan nonfiksi sangat identik dengan sumber berita. Nah, bagaimana seorang freelancer menggali informasinya? Tenang, di sini akan sedikit saya beberkan.

Sumber informasi menjadi penguat berita yang kita tulis. Tanpa data tidak bisa dinamakan tulisan nonfiksi. Secara umum sumber berita itu bisa didapat dengan dua cara, yaitu wawancara langsung dengan narasumber dan yang kedua yaitu mencari informasi dari flatform yang terpercaya. Di blog selanjutnya insyaallah akan saya bahas tentang bagaimana cara hunting informasi dari media online.

Untuk freelancer wawancara bisa dilakukan secara daring. Biasanya saya cukup berkomunikasi dengan narasumber menggunakan aplikasi perpesanan. Bisa juga menggunakan aplikasi lain seperti Zoom, Google Meet, dan lain sebagainya. Blog selanjutnya akan saya bahas bagaimana cara menggali informasi dari narasumber yang dilakukan secara daring.

Menjadi freelancer conten writer merupakan pengalaman yang berharga buat saya. Bukan hanya untuk melatih skill menulis, tetapi juga belajar bidang lain sesuai narasumber yang kita ajak komunikasi. Salah satunya saya pernah mewancarai seorang pengusaha. Secara tidak langsung saya belajar banyak hal tentang bidang itu. Sama ketika mewancarai narasumber di bidang pendidikan juga ekonomi. Saya merangkum apa yang mereka sampaikan kemudian saya tulis menjadi berita.

Terima kasih sudah mampir di blog saya. 


 

Kamis, 09 September 2021

Mayangku yang Malang

 

sumber gambar : https://www.wallpaperbetter.com/id/hd-wallpaper-nfypt

Aku tergugu di balik tirai yang tersibak angin, menampakkan  tetesan air yang turun dari langit. Tak tersadar buliran bening menitik dari kedua netra membasahi pipi. Kepalaku berdenyut memikirkan seseorang yang entah dimana keberadaannya.

Mobil yang kukendalikan menghantam pohon besar di tengah derasnya hujan, tergelincir ke ceruk terdalam menerjang semak-semak. Aku terpental keluar mobil setelah berusaha membuka pintunya dan meloncat, sedangkan mobil terus bergulir ke dalam. Saat mobil terhenti kulihat percikan api pada kap depannya hingga api membesar. Gumpalan asap berangsur menebal, pandanganku berangsur memudar hingga aku tak mengingat apa pun setelah itu.

Kecelakaan dua minggu silam menyisakan duka. Sayatan di tubuh serta retakan tulang betis sebelah kiri menyebabkanku harus menggunakan kursi roda. Namun, luka itu tak sebanding dengan duka dalam hatiku. Mayang, istriku yang turut dalam kecelakaan itu belum ditemukan. Tim SAR sedang melakukan penyusuran di hutan dan sungai di sekitar kejadian. Sampai saat ini belum ada kabar baik tentang pencarian Mayang.

Menggerakkan dua roda di kedua sisi kursi, kuarahkan menuju keluar rumah. Tampak ranting pohon bergoyang tertiup angin kencang. Musim hujan belum juga berganti. Nyaris setiap malam bumi dihujam deraian air langit. Sesekali diiringi petir yang menggelegar. Tetes demi tetes air yang turun seakan membangkitkan rasa bersalah atas kecerobohanku waktu itu. Andai saja tak kulajukan mobil dengan kencang, mungkin musibah ini tak menimpaku juga Mayang. Ah ... kutepis perasaan yang menghantuiku. Bukankah takdir telah tergaris sebelum kita dilahirkan? Berulang kali aku menyitir istigfar seraya meminta kepada Sang Pencipta untuk melindungi Mayang di mana pun ia berada.

Ponselku berdering, tampak deretan angka tanpa nama sedang memanggil. Kutarik sebuah tombol di layar sehingga menghubungkan suaraku dengan seseorang di balik sana.

“Selamat malam, apa benar ini dengan Bapak Ardhian?” tanya seorang laki-laki.

“Iya, saya sendiri.”

“Saya ketua tim dalam pencarian korban kecelakaan,” ujarnya.

“Oh iya, bagaimana, Pak? Apakah ada perkembangan?” tanyaku antusias.

“Salah satu tim kami menemukan sepatu sebelah kiri, sepertinya sepatu wanita. Bisakah Bapak mengirim alamat Bapak agar kami menunjukkan kepada Bapak,” jelas orang itu.

“Baiklah, segera saya kirim lokasinya.”

Saluran telepon terputus, segera kubagikan lokasi kepada seseorang yang baru saja menghubungi.

Angin malam merambah ke permukaan kulit hingga ke tulang. Kujalankan kursi roda menuju ke dalam. Kuminta Mbok Lastri membuatkan coklat panas, minuman kesukaan untuk mendapatkan sensasi yang menenangkan.

***

Sebulan berlalu, luka di tubuhku telah pulih. Namun, menyisakan luka hati yang dalam. Tim SAR menghentikan pencariannya sebelum menemukan Mayang. Kedua mertuaku pun telah menganggap anaknya telah tiada. Mengirim doa untuk orang yang meninggal telah dilakukan oleh keluarga Mayang. Namun, aku masih menganggap labuhan hatiku ini masih hidup, sebelum melihat sendiri jasadnya.

Sudah cukup sebulan cuti dari pekerjaan, saatnya aku kembali bergelut dengan tumpukan berkas laporan. Bekerja di sebuah perusahaan bidang periklanan di mana menjadi awal pertemuanku dengan Mayang, hingga tumbuh benih-benih cinta diantara kita hingga ke palaminan.

Pagi yang tak begitu cerah, matahari enggan menampakkan sinarnya. Dedaunan masih basah terguyur air hujan semalaman. Kupacu mobil menuju tempat kerja di tengah kota melewati jalan pegunungan yang diapit hutan. Kulewati jalan yang berliuk-liuk dengan jejeran pohon besar di tepian. Kembali kuingat kejadian memilukan di tempat yang baru saja kulewati. Sekelebat bayangan Mayang muncul di depanku. Tubuh ini bergetar, bulu tengkuk berdiri.  Kuinjak rem seketika mobil pun berhenti. Kulihat sisi kanan dan kiri tak ada siapa pun. Kuputar tubuhku hingga terlihat deretan mobil di belakang dengan deraian bunyi klakson, memintaku untuk menjalankan mobil.

Setibanya di kantor kulihat foto Mayang di bingkai kecil di atas meja kerjanya. Kuraih foto itu,  memandangi paras cantik dengan ceruk pipi menambah manis wajahnya yang oval. Tiba-tiba aku teringat sepatu sebelah kiri yang ditemukan tim SAR sama dengan sepatu yang dikenakan Mayang dalam foto yang kupegang. Sepatu pemberianku saat pernikahan kami. Menurut keterangan sepatu itu ditemukan di cepitan batu besar di tengah sungai. Mungkinkah Mayang hanyut terbawa arus sungai? Namun, kemana jasadnya? Entahlah. Kuletakkan foto itu lalu bergegas menuju meja kerjaku.

***

Kuikuti sosok perempuan yang mengenakan baju kurung yang menjulur panjang hingga menutupi kakinya. Perempuan yang menutupi wajahnya dengan cadar itu terdiam, lambaian tangannya mengisyaratkan kepadaku untuk mengikuti langkahnya. Aku berjalan membuntut di belakang perempuan itu.

Perjalanan panjang menyusuri hutan dan semak-semak belukar. Kutatap langit yang memerah, matahari akan kembali ke peraduan.

“Kita mau kemana?” teriakku pada perempuan itu.

Perempuan bercadar hanya bergeming dan terus melangkahkan kakinya.

“Ini sudah senja sebentar lagi petang. Aku harus pulang,” kataku di belakang perempuan itu.

Tetap saja tak ada jawaban hingga kita menemui sebuah sungai dengan batu-batu besar. Perempuan itu menyeberang sungai dengan berpijak di atas bebatuan. Aku pun  mengikutinya. Kujinjing celana panjangku  agar tak basah, sedang perempuan itu membiarkan baju panjangnya tercelup ke dalam sungai.

Kami menyusuri tepian sungai hingga tiba di balik pohon bambu besar, pohonnya berayun-ayun diterpa angin kencang. Perempuan itu menghentikan langkahnya. Ia menyibak ranting-ranting di pinggir sungai hingga tampak sebujur tubuh yang mengambang.

Aku terkejut. Posisi tubuh yang tengkurab sehingga tak menampakkan wajahnya. Perempuan itu membalikkan tubuh yang mengambang di sungai. Mayang? Benarkah itu dia. Aku mendekat. Dengan jelas kulihat wajah Mayang yang pucat. Perempuan itu mengangkat Mayang dari sungai. Kugoyang-goyangkan tubuh Mayang, sepertinya tubuhnya sudah tak bernyawa.

Berkali-kali kuteriak menyebut namanya. Namun sia-sia.

“Mayang ....” Mataku terbuka, kulihat Mbok Narti di pinggir ranjangku.

“Ada apa, Mas? maaf, Mbok masuk karena mendengar Mas Ardhi teriak-teriak manggil Mbak  Mayang. Mas Ardhi mengigau, ya?”

“Tolong ambilkan air itu, Mbok!” Aku menunjuk pada gelas di atas meja.

Kuteguk habis segelas air putih menghilangkan rasa haus yang teramat.  Setelah napas ini kembali normal aku menceritakan kejadian dalam mimpiku pada Mbok Narti, asisten rumah tangga yang sejak kecil merawatku hingga kedua orangtuaku meninggal ia tetap bekerja di rumah ini. Mbok Narti menyarankanku untuk memberitahu keluarga Mayang tentang mimpi yang entah itu petunjuk atau bukan.

Di pagi buta penuh dengan embun menutupi pandangan aku bergegas menuju rumah Mayang bermaksud membicarakan perihal mimpiku semalam. Keluarga Mayang menanggapi ini sebagai petunjuk akan keberadaan Mayang. Kembali kami meminta bantuan tim SAR untuk melakukan pencarian ulang.

Sesuai jadwal yang ditentukan oleh tim SAR, kali ini aku ikut langsung dalam pencarian menyusuri hutan dan sungai di sekitar kejadian. Hampir tiga jam pencarian, tetapi belum menemukan keberadaan Mayang.

“Kita sudah menyusuri sungai ini, Pak,” ujar seorang tim SAR.

“Kita cari lagi ya, Pak. Aku yakin pasti ada petunjuk di sini,” kataku meyakinkan.

Petugas tim SAR membabat semak-semak untuk memudahkan jalan.

“Di sini gak ada pohon bambu, ya?” tanyaku pada seorang tim SAR.

“Selama perjalanan kayaknya tidak menemukan pohon bambu,” tukasnya.

“Lihat ke sini!” teriak seorang tim berseragam warna jingga itu.

“Ada anak sungai yang mengarah ke sana, tadi tertutup semak-semak,” katanya menjelaskan.

Aku dan tim pun bergegas mengikuti aliran sungai itu, ternyata anak sungai itu melebar menuju arah yang berbeda dengan induk sungai. Kenapa kemarin tim tidak menemukan anak sungai ini? tanyaku dalam hati. Mungkin karena memang jalan masuk yang kecil dan tertutup semak-semak yang lebat.

Kita berjalan menyusuri aliran sungai cukup lama. Namun, belum juga terlihat pohon bambu seperti dalam mimpiku. Kepalaku berdenyut. Lelah dan resah merambah jiwa ragaku. Aku duduk di tepi sungai. Membujurkan kaki dan kupijit pelan menghilangkan sedikit rasa nyeri.

Aku terkejut dan berdiri setelah menemukan lembaran daun bambu kering di bawah kaki. Seperti mendapat suntikan semangat. Daun bambu ini bertanda ada pohon di sekitarnya. Kuputar tubuhku melihat semua penjuru, tetapi tak melihat pohon yang menjatuhkan daunnya di sini. Kami melanjutkan penyusuran hingga terlihat dari kejauhan pohon bambu yang besar. Sedikit berlari aku menuju pohon tersebut.

Pohon bambu itu sudah di depan mata, tempatnya persis seperti dalam mimpiku. Segera aku menyuruh tim SAR untuk memeriksa sekitaran pohon.

“Pak, disana ada mayat,” kata salah satu tim.

Deg. Hatiku berdesir. Jantungku berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Kakiku lemas sedang bibir ini membeku melihat sebujur mayat Mayang. Ingin kurengkuh tubuh Mayang. Namun, tak kuasa. Hingga petugas tim SAR memasukkan jasad Mayang ke dalam kantong mayat berwarna oranye.  Tim SAR membawa mayat Mayang menuju ke rumah. Keluarga Mayang segera menyiapkan proses pemakaman jasad putrinya.

Aku bersimpuh di kaki ayah Mayang, meminta maaf untuk kesekian kalinya atas kecelakaan yang menghilangkan nyawa Mayang. Ayah mertua mengangkat kedua bahuku sehingga kita berdiri sejajar.

“Ini sudah takdir, hilangkan rasa bersalahmu,” ucapnya sembari memeluk tubuhku, “ayo kita pergi, jenazah Mayang sudah siap untuk dimakamkan.”

Dengan langkah yang gontai kuiring jenazah menuju pemakaman. Di dalam liang kulihat Mayang untuk terakhir kali dengan balutan kain putih yang dikiat sisi atas, tengah dan bawahnya.

“Semoga kamu ditempatkan ke tempat yang lebih indah di sana, Sayang.” ujarku dalam hati bersamaan dengan liang yang sudah tertutup tanah dan sebaran bunga di atasnya.

Rabu, 08 September 2021

Secangkir Abdi untuk Mas Ardhi

 


Mengapa wanita terlalu lemah untuk memilih atau pun memilah. Rumus kehidupan yang mengatakan bahwa wanita selalu benar, menurutku justru salah. Wanita seakan tak berdaya jika harus dihadapkan dengan dua pilihan yang memberatkan. Terlebih keduanya menyangkut orang yang tersayang.

Surga seorang anak memanglah di bawah telapak kaki ibu. Namun, teori itu berubah setelah anak perempuan memulai kehidupan baru dengan pasangannya. Seperti aku yang harus membagi bakti juga pengorbananku kepada orang tua dan juga Mas Ardhi, suamiku. Meskipun aku tahu, hubungan mereka sedang tidak baik. Sungguh tak kusangka, pertemuanku dengan Mas Ardhi berawal dari secangkir kopi, akankah berakhir juga karena perihal kopi?

“Lebih baik kamu tinggalkan rumah ini saja, Sari. Pergi saja dengan suamimu yang tak tahu diri itu!”

Seumur hidupku baru kali ini bapak mengusirku dari rumah. Semarah apa pun, bapak tidak pernah melontarkan kata kasar, apalagi menyuruhku angkat kaki dari sini. Air mata ini menganak sungai membasahi pipi. Aku hanya terdiam, tak berani berucap sepatah kata pun. Kekecewaan bapak rupanya masih membeku, hingga terlontarlah kata-kata yang menyayat hatiku.

 “Aku harus bagaimana, Mas?”

Kutumpahkan perasaan resah ini kepada Mas Ardhi. Bagaimana pun juga ia penyebab bapak jadi seperti ini.

“Aku juga tak habis pikir dengan bapak. Padahal aku hanya berpendapat. Urusan mau atau tidak tetap bapak yang putuskan. Aku tak masalah.”

Bukan membuatku merasa nyaman, ia justru menguapkan kegelisahaanku.

“Sekarang kamu tinggal pilih, mau ikut aku pergi apa tetap di sini?” gertak Mas Ardhi meluluh lantakkan hati ini.

“Aku beri kamu waktu untuk berpikir. Tiga hari ke depan aku ada tugas dari kantor ke luar kota. Setelahnya kamu harus menentukan pilihan itu.”

***                                                                                                                                  

Koper Mas Ardhi sudah rapi. Semalam aku mengerjakannya, saat mata ini sulit kupejamkan. Tidurku juga tak nyenyak. Bagaimana bisa tenang, tiga hari ke depan aku harus mengambil keputusan. Bapak menunjukkan keras kepalanya yang nyaris tak pernah ia perlihatkan sebelumnya. Mas Ardhi pun sama. Membuatku semakin tersiksa dengan pilihan berat di depan mata.

Kemeja, jas, celana, serta keperluan lain yang diperlukan Mas Ardhi selama tiga hari kutata rapi di dalam koper mininya. Tak lupa berkas dan laptop yang sudah disiapkan juga kuletakkan di kantong belakang penutup koper. Semuanya sudah masuk, tinggal menutup resleting kopernya. Saat menangkupkan sisi penutup koper, sebuah amplop cokelat terjatuh ke lantai. Amplop yang sudah kumuh dan koyak itu kuletakkan di atas nakas. Berniat menanyakan pada Mas Ardhi apakah amplop itu perlu dibawa atau sudah tak diperlukan. Karena kelopak mata semakin berat, segera kurebahkan tubuhku ke atas dipan. Sekejap kesadaranku sudah sirna.

Udara pagi di lereng Merapi sungguh sejuk. Embun melebur menjadi tetesan-tetesan air yang membasahi daun. Puncak Merapi pun mulai muncul di balik awan tebal yang menyelimuti. Sayup mata memandang pohon kopi yang tersibak angin sepoi. Menyalurkan hawa segar ke hidung, turun ke keronggongan, lalu menyebar ke seluruh tubuh.

Kupetik chery Arabika berwarna merah dengan tingkat kematangan yang pas. Buah yang berwarna merah tua menunjukkan buah terlalu matang, biasanya bijinya berwarna cokelat menghasilkan kopi yang kurang enak.  Sementara buah yang masih kuning ke merahan juga siap dipetik, tetapi aku selalu pilih yang merah sempurna menghasilkan rasa kopi yang istimewa. Proses madu harus menggunakan buah yang fresh jika tak ingin kekuatan rasanya terkikis, oleh karena itu mencarinya harus pagi, agar  bisa langsung diproses siang nanti. Sejak Mas Ardhi pergi selepas shubuh tadi, aku langsung menuju ke sini. Memanen kopi sekaligus mencari ketenangan hati.

Jemariku sudah terlatih memetik chery kopi. Bapak yang mengajarkanku jika mencabut chery dari pohon harus secara vertikal agar tidak merusak batang pohon kopi. Memetik dengan cara yang benar membuat batang tersebut akan tumbuh chery kopi lagi.  Bapak juga pernah bilang memanen kopi tidak boleh dengan cara merampas buah kopinya, karena kemungkinan pohon tidak akan tumbuh buah kopi lagi.

Dua hari berturut-turut aku memanen kopi. Tak terasa besok Mas Ardhi sudah kembali dan aku harus memberikan keputusan itu. Aku tak mau meninggalkan bapak ibu juga kebun kopi ini. Tanah kelahiranku terlalu indah untuk ditinggal pergi. Namun, aku juga harus tahu diri sebagai seorang istri. Aku mendengkus kesal. Kenapa mereka berdua – bapak dan Mas Ardhi-  tidak berdamai saja. Hidup bahagia seperti semula. Warung dan kafe, dua hal yang masih menghantui pikiranku. Kedua lelaki yang kusayang mempertahankan egonya masing-masing. Sementara aku dibebani oleh pilihan yang sangat sulit kuputuskan.

Kurebahkan diri di atas dipan dengan mengibaskan kerudungku yang telah basah dengan keringat. Hari ini cukup banyak buah kopi yang kupetik, hingga matahari menamparkan teriknya ke bumi aku baru selesai mengakhiri aktivitas di kebun kopi.

Kulayangkan pandangan ke langit-langit kamar juga dinding kayu  yang masih mengkilat setelah diplitur bapak mendekati hari pernikahanku dengan Mas Ardhi beberapa bulan yang lalu. Acara sakral itu masih membekas di benakku. Rasanya baru kemarin bapak ngunduh mantu yang dihadiri orang sekampung ini. Apakah besok aku akan meninggalkan kamar ini, rumah ini, juga kampung ini?

Kualihkan pandangan ke nakas sebelah dipan dengan memiringkan tubuhku ke kanan. Mataku menangkap sebuah benda berwarna cokelat tergeletak di atas nakas. Astaga! Aku terlalu sibuk memikirkan keputusan hingga terlupa menanyakan amplop Mas Ardhi yang terjatuh kemarin malam.

Segera kutarik kaki dan tubuh ini lalu turun dari dipan. Aku mencari telepon genggam berniat menghubungi Mas Ardhi. Sementara amplop cokelat masih di genggaman, aku tak berani membukanya.

Dua kali menghubungi, belum juga tersambung. Jangan tanya kenapa, jaringan di desaku memang seperti ini. Biasanya ada, tiba-tiba kembali musna. Kuletakkan amplop di atas nakas. Aku bergegas ke luar rumah mencari jaringan agar bisa bicara dengan Mas Ardhi.

“Halo ... Halo, Halo, Mas. Bisa dengar suaraku?” Setengah teriak aku berbicara. Memastikan sambungan telepon kami sudah terhubung.

“Iya, Sari. Ada apa?” Suara Mas Ardhi terdengar, tetapi sangat lirih.

“Amplop cokelat dari koper Mas ketinggalan di rumah. Apa Mas  membutuhkan amplop itu?”

Ah, sebenarnya sia-sia juga seandainya aku mengirim amplop itu ke tempat Mas Ardhi jika memang benda itu diperlukan. Besok Mas Ardhi sudah tiba di rumah, sedangkan amplopnya mungkin masih di perjalanan. Ya sudahlah, yang penting aku tanyakan dulu pada Mas Ardhi.

“Amplop? Amplop apa, Sari?”

“Amplop di koper kamu yang jatuh ....”

Tut tut tut. Tiba-tiba panggilan terputus. Kulihat signal di gawaiku menunjukkan tanda silang. Aku menggerutu kesal. Belum selesai berbicara, sudah putus saja.

***

Aku sudah menyeduh kopi kesukaan Mas Ardhi. Sebentar lagi pasti ia akan tiba dari kota. Kukenakan baju pemberian Mas Ardhi sebulan lalu sepulang kerja dari luar kota. Baju merah jambu kupadukan dengan kerudung instan dengan tali yang kukaitkan ke belakang kepala. Riasan wajahku juga tak seperti biasanya yang hanya mengandalkan bedak. Kali ini kugoreskan gincu bernuansa merah muda.

“Ini kulakukan untukmu, Mas.” Aku bersenandung dalam hati sembari menunggunya pulang.

Pintu kamar terketuk dari luar. Yang ditunggu sudah datang.

“Sari.” Mata Mas Ardhi tak berkedip melihatku, hingga ia mengabaikan uluran tangan dariku.

Mas Ardhi mendorong pintu yang terbuka sebagian. Namun, aku segera menahannya.

“Tunggu, Mas!” kataku mendorong pintu kamar agar tidak terbuka lebar.

“Tunggu apa lagi. Aku mau istirahat di dalam.”

“Kita bicara di luar,” ucapku seraya menggandeng lengan kekarnya menuju ruang tamu.

Sepertinya bapak sudah menungguku di ruang depan. Suaranya mengobrol dengan ibu terdengar dari kamar.

“Sebaiknya Mas pergi dan tak perlu kembali.”

Mas Ardhi terdiam. Raut wajahnya tampak kebingungan.

Tak perlu kujelaskan alasan kepada Mas Ardhi. Cukup selembar kertas yang kulempar di depan mukanya sebagai jawaban dari semua. Surat yang menyatakan rencana penggusuran lahan kopi pada tahun 2010 silam dan nama bapak menjadi salah satu pemilih kebun yang akan dibebaskan lahannya.


Selasa, 07 September 2021

Nestapa Metamorfora




 Part 2 

Tak pernah kulihat sebelumnya Bapak semarah ini. Meja bundar di depan kami pun menjadi sasaran tendangan kaki bapak. Saat aku mengutarakan niatanku untuk mengambil alih kendali. Berat memang meyakinkan Bapak yang kuat pendiriannya seperti ini. Apalagi menyangkut resep turun temurun dari nenek moyang kami. Menurut Bapak perubahan itu tidak perlu. Justru ketradisionalan harus dijunjung tinggi. Aku menatap Mas Ardhi. Pemuda yang menjadi suamiku tiga bulan yang lalu ini tak berani unjuk suara. Berbanding terbalik saat bicara denganku beberapa hari yang lalu.

“Sampai kapan pun Bapak tidak akan ikuti katamu!” tohok Bapak menggunakan suara tinggi. Sementara Ibu hanya menunduk di sampingnya.

Sepetak ruangan tengah mendadak mencekam. Aku dan Mas Ardhi hanya terdiam.

“Enak saja kamu akan merebut warung kami. Memang kamu siapa?” Bapak menuding Mas Ardhi dengan jari telunjuknya dengan amarah yang belum mereda.

Mas Ardhi tetap bergeming. Ia tak mengalihkan pandangannya dari lantai.

“Maksud Mas Ardhi bukan begitu, Pak.” Aku membela Mas Ardhi yang masih tergugu di sisiku.

Tak menanggapiku, Bapak justru berlalu diikuti Ibu.

Semenjak menikah dengan Mas Ardhi, aku tetap tinggal dengan Bapak dan Ibu. Ibu tidak mengizinkan Mas Ardhi membawaku ke kota menemaninya bekerja. Ibu juga tetap memintaku meracik wedhang kopi di warungnya. Tak jadi masalah untuk kami. Mas Ardhi rela pulang pergi dari kampung ke kota setiap hari demi keutuhan keluarga baru kami.

“Kamu layak jadi seorang barista, Sari,” ucap Mas Ardhi padaku beberapa hari yang lalu.

Aku tersenyum mendengar pujian darinya. Bagiku meracik kopi sudah menjadi hobi. Memang banyak yang mengagumi wedhang kopi buatanku. Bahkan kopi buatan Ibu belum bisa menandingi  racikanku.

“Seandainya kita ubah warung Bapak menjadi kafe, bagaimana?” Pelan-pelan Mas Ardhi mengutarakannya.

Aku menolak. Mana mungkin aku berani mengubah warung Bapak menjadi coffee shop dengan peralatan canggih ala barista seperti kata Mas Ardhi? Aku tahu Bapak sulit untuk diajak kompromi.

Aku juga tak bisa membayangkan tungku besar terbuat dari tanah liat yang biasa digunakan untuk menggoreng biji kopi harus diganti dengan coffee roaster. Padahal tungku itu berusia puluhan tahun. Warna merah bata pun sudah berubah menjadi hitam pekat akibat asap dari kayu yang terbakar.

Belum lagi teko berbahan aluminium itu pun sudah hangus. Lagi-lagi terkena asap saat memasak air di pawonan. Lalu selepaan kopi yang sudah ada sebelum aku lahir. Akankah berakhir sebagai rongsokan karena tak lagi digunakan?

“Tidak, Mas. Aku tidak setuju,” tegasku pada Mas Ardhi.

Perubahan zaman sungguh kentara ke seluruh penjuru dunia. Bahkan seperti kami yang tinggal di lereng Gunung Merapi pun ikut merasakannya. Kecanggihan tidak hanya pada alat, tetapi juga pola pikir manusia.

Mas Ardhi memang seorang yang modern, mengikuti perjalanan setiap perubahan zaman. Meskipun  demikian ia bisa menerimaku apa adanya sebagai gadis desa.

“Perubahan itu perlu, Sari. Bukan untuk menindas budaya. Justru untuk mengangkat kembali pamornya.”

Aku mencermati setiap kata yang diucapkan Mas Ardhi. “Apa maksudmu, Mas?”

“Anak muda zaman sekarang lebih suka kopi instan racikan pabrik tanpa tahu asal muasal biji kopi itu sendiri. Padahal negara kita memiliki perkebunan kopi terbesar keempat di Asia. Kebun kopi yang terbentang dari Gayo sampai Wamena menghasilkan rasa yang berbeda satu dengan yang lainnya.”

Aku masih tak percaya Mas Ardhi sepaham ini mengenai kopi. Padahal sebelumnya tak pernah bercerita tentang ini. Pertemuan pertama kami memang dari secangkir kopi. Namun, siapa yang menyangka Mas Ardhi mendadak menjadi pakar kopi.

Aku bergeming. Sulit rasanya harus mengubah warung tradisional Bapak yang sudah berdiri puluhan tahun ini menjadi kafe kekinian seperti yang diminta Mas Ardhi.

“Dengan mendirikan kafe kita bisa mengangkat kopi lokal menjadi sekelas Internasional. Bukankah itu bagus untuk mensejahterakan petani kopi?” Mas Ardhi melontarkan pertanyaan kepadaku. Sementara pikiranku masih buntu.

Mas Ardhi membuka laptop menunjukkan situs online beratmosfir kopi. Ia menggeser kursor hingga ke bawah. Aku mengamati gambar-gambar dan membacanya sekilas.

“Bagaimana? Masih tidak mau berubah?”

“Aku coba bicara pada bapak, ya, Mas.”

Mas Ardhi mengangguk lalu meraih kepalaku dan merekatkan di dadanya yang bidang.

Senin, 06 September 2021

Secarik Rindu dari Lembah Merapi


Ketiga kalinya pemuda itu mampir di warung ibuku. Memesan secangkir kopi arabika yang pekat dengan sedikit gula. Angkringan ini sangat sederhana, dindingnya terbuat dari anyaman bambu beratapkan daun rumbia. Di balik kesederhanaan warung ini menyimpan destinasi. Sejauh mata memandang terpampang luas hamparan hijau di lereng Gunung Merapi menambah kenikmatan menyeruput secangkir kopi. Jika beruntung, kanvas cakrawala pun menyuguhkan semburat jingga pertanda akan dimulainya hari.

“Kopi biasanya, ya, Bu!”

Kuangkat dagu melihat sosok kharismatik tengah melepas jaket kulitnya. Tanganku terus memainkan sendok di atas cangkir. Kepulan asap menghangatkan wajahku, kupalingkan pandangan dari pemuda itu.

“Njih, Mas,” teriak ibu di belakangku, mengangkat teko berisikan air mendidih, lalu menuangkan ke cangkir yang sudah terisi racikan kopi.

“Buatkan pesanan mas-mas itu, ya!” bisik ibu di dekat telingaku. Tanpa menunggu perintah pun sebenarnya meracik memang tugasku.

Aku mulai meracik kopi arabika sesuai yang diminta pemuda yang belum kuketahui namanya itu. Meskipun ini ketiga kalinya pemuda itu ngopi di warung ibu, wajahnya asing bagiku. Tak pernah kujumpai pemuda ini di kampungku atau pun di kampung sebelah. Dari penampilannya memang terlihat seperti anak kota. Lihat saja, sepatu yang dikenakan tak pernah kujumpai di pasar. Apalagi jaketnya.

“Niki, Mas, monggo!”

Secangkir kopi arabika kusuguhkan di hadapannya. Laki-laki itu sibuk memainkan gawainya. Aku masih mematung memandang sosok di depanku.

Pemuda itu mengangkat kepala, “Eh, iya, Mbak. Maaf masih sms teman saya.”

Ah, senyumannya membuat aku terpana. Kopi tanpa gula pun akan terasa manis jika diminum di depannya. Kubalas senyuman itu dengan menundukkan kepala. Aku takut jika pemuda itu mendapati pipiku yang mungkin sudah merona.

“Monggo diunjuk, mungkin mau pesan dhaharan?” tawarku kepada laki-laki yang mulai menuang kopi ke lepek bening terbuat dari kaca.

“Tidak, Mbak. Ini saja.”

Setelah mengangguk aku berpaling dari hadapannya, melanjutkan meracik pesanan dari pelanggan lainnya.

Warung ibu buka setelah shubuh sampai pukul sembilan pagi. Sejak buka selalu ramai pembeli. Kopi ibu memang beda dengan warung lainnya. Meskipun kopinya berasal dari tempat yang sama –lereng Gunung Merapi – tetapi ibu mengolahnya dengan cara yang berbeda dari penjual lainnya.

Sebagian besar petani kopi di sini menggunakan proses kering dan basah dalam pengolahan biji chery. Namun, tidak dengan ibuku. Ibu justru memilih proses madu yang memakan waktu lebih lama dibanding dua proses lainnya. Menurut ibu yang terpenting kualitas yang akan membuat pelanggan puas. Benar kata ibu, warung ibu paling diburu. Selain rasanya yang nikmat harga dibandrol sama.

“Seng penting ibu seneng,” jelas ibu saat aku memprotes soal harga yang dipatok sama di warungnya.

“Tapi untungnya, kan sedikit, Bu.”

Ibu tak menanggapi. Ia beralih pergi dengan membawa tampah berisikan chery –biji kopi.

“Mbak, tolong ke sini sebentar!”

Pemuda itu memanggilku. Aku segera menghadapnya, mungkin ia akan memesan makanan.

“Injih, Mas. Wonten nopo?”

“Ohya, Mbak namanya siapa? Aku Ardhi,” katanya seraya menjulurkan tangan kepadaku.

Aku terkejut. Kupikir pemuda ini akan memesan makanan, tak tahunya malah ngajak kenalan. Tanpa pikir panjang aku membalas uluran tangannya. Kami berjabatan.

“Puspita Sari, panggil aja Sari.”

“Sari,” ucapnya.

“Jadi gini Sari,” Ardhi mengatur duduknya menghadap tepat ke arahku, “mungkin aku akan membutuhkan beberapa orang dari kampung sini untuk membantuku membuat penelitian di perkebunan kopi.”

Penelitian? Aku masih tabu dengan arah bicara pemuda itu.

“Maksud Mas Ardhi?”

“Nanti akan saya jelaskan, boleh saya minta nomer hape kamu?”

Sebenarnya aku ragu memberi tahu nomer handphone-ku kepada pemuda yang baru kukenal ini. Setelah kupikir tak ada salahnya aku membantu dia. Entah apa yang akan dibuatnya di kampungku. Mungkin dengan memberi nomerku padanya akan membuat hubungan kami semakin dekat. Ah, bicara apa aku ini.

Aku menyerahkan secarik kertas berisikan deretan 12 digit angka, tak lupa kutorehkan namaku di bawah angka-angka tersebut.

Tak selang lama Mas Ardhi meninggalkan warung setelah membayar pesanannya. Kulihat cangkirnya telah kosong, hanya menyisakan ampas hitam di pangkal cangkir. Segera kubersihkan meja lalu membawa cangkir kosong itu ke belakang.

***

Sleman, 2015

Siapa yang menyangka setelah erupsi Gunung Merapi  lima tahun silam merubah kehidupan. Seluas 800 hektar perkebunan kopi hangus terbakar, termasuk kebun kopi milik keluargaku. Tak hanya kebun kopi Arabika, kebun Robusta pun juga mengalami hal yang sama. Tanah di kaki Gunung Merapi yang memiliki kesuburan tujuh kali dibanding tanah lainnya di Nusantara seakan tak berdaya. Padahal tanah di sini menyimpan keunikan. Kopi Arabika yang biasanya hanya bisa dibudidaya di ketinggian di atas 1000 mdpl, tetapi di lembah Merapi bisa dibudidaya Arabika di ketinggian 800-1.100 mdpl. Luar biasa.

Sejak erupsi di tahun 2010 silam, ibu menutup warungnya. Tak ada lagi produksi kopi dan memaksa sebagian penduduk kehilangan pekerjaannya.

Aku teringat Mas Ardhi. Janjinya tidak ditepati. Nomer telepon yang kuberikan mungkin sudah dibuang, karena tak ada gunanya lagi. Kebun mana yang akan dijadikan obyek penelitian, sedangkan sebagian besar telah habis terbakar. Kenapa rasa rindu menyelimuti ruang di hati? Aku menepis bayangan Mas Ardhi yang bergelayut di pikiran. Bagaimana bisa aku menaruh harapan dia akan kembali? Perlahan kutepis harapan yang tak mungkin akan terwujud ini. Semakin menghilangkan bayangannya, perih di hati semakin terasa.

Tiga tahun setelah erupsi, Reboisasi mulai digencarkan. Namun, masih seperdelapan dari luas sebelum erupsi. Produksi menurun drastis. Hanya sekitar 1-2 kwintal chery yang dihasilkan setiap tahunnya. Jauh dari angka sebelum terjadi erupsi. Seiring aktivitas kami mulai bangkit, aku bisa melupakan Mas Ardhi. Bayangan itu mulai menjauh hingga tak tersisakan.

Pagi ini bersama bapak, aku memanen kopi Arabika dari kebun. Bapak sengaja budidaya kopi jenis ini. Meskipun perawatan lebih susah, tetapi sebanding dengan harganya yang tidak murah. Apalagi bapak menggunakan proses madu untuk mengolahnya. Menambah nilai harga jual biji kopinya.

Di kampungku proses pengolahan masih menggunakan cara tradisional. Mengupas biji chery pun tidak menggunakan alat. Kulit terluar –pulp – dikupas dengan tangan di sebuah wadah yang dialiri air untuk memudahkan proses pengupasan. Lapisan kedua setelah pulp adalah mucilage. Dalam proses kering dan basah, mucilage akan ikut dikupas. Sementara pada proses madu – black honey – mucilage tidak dikupas, disertakan dalam proses pengeringan. Mucilage kaya akan kandungan gula dan acidity yang akan menembus ke dalam biji kopi saat proses pengeringan. Karena mucilage inilah proses pengeringan black honey membutuhkan waktu lebih lama.

“Cara ini sudah turun temurun dari eyangmu, Nduk,” jelas bapak kala itu saat mengajarkanku cara mengupas chery, “Bapak hanya meneruskan saja.”

Aku mengamati betul cara bapak mengolah biji chery yang dipetik dari kebun sampai menjadi biji kopi yang siap diolah menjadi wedhang kopi.

“Kalau menggunakan proses madu, biji chery harus yang fresh. Yang baru dipetik.” Bapak menjelaskan lagi sambil memilah biji chery yang bagus dan merah.

Warung ibu sudah direnovasi. Kali ini lebih modern dari sebelumnya. Berdinding batu bata dan beratapkan genting serta flavon di bawahnya. Setiap hari aku yang membantu ibu di warung. Tak diduga pelanggan kami meroket hingga dua kali lipat. Tak hanya penduduk setempat, tetapi para wisatawan turut mampir menikmati kopi Arabika dengan latar Gunung Merapi.

Semakin siang pelanggan semakin menyurut. Aku mengibaskan kipas terbuat dari anyaman bambu ke wajahku. Semilir angin menerobos menyusup ke kulit, menyejukkan. Cairan di balik kerudungku mengering. Kuletakkan kipas ini.

Meskipun tiap hari bergelut dengan aroma kopi, aku tak pernah bosan untuk menikmati kopi. Saat warung berangsur sepi, aku menyeduh kopi untuk kunikmati sendiri. Dua sendok bubuk kopi dipadukan dengan dua sendok gula adalah racikan kesukaanku. Idealnya dua sendok bubuk kopi dipadukan dengan tiga sendok gula. Aku menyukai kopi pahit. Takaran ini jugalah yang kupakai saat meracik pesanan Mas Ardhi enam tahun silam. Ah, kenapa aku teringat Mas Ardhi lagi? Aku sudah berkomitmen dengan hati ini untuk menghapus namanya dari pikiranku. Aku mendesah. Rasa rindu rupanya merayap dari secangkir kopi.

Aku bangkit dari duduk, berniat mengakhiri drama di pikiran ini. Kuangkat cangkir dan akan kubawa ke belakang. Namun, langkahku terhenti saat suara bariton itu menyebut namaku.

“Sari, kopi Arabika masih?”

Sejenak aku bergeming. Menerka suara yang tak asing di telingaku. Kupalingkan badan mengarah ke luar warung. Laki-laki berkacamata hitam berdiri di depan pintu masuk.

Laki-laki itu melepas kacamata kemudian menyunggingkan senyum di bibirnya.

“Mas Ardhi,” kataku lirih.

“Iya, Sari. Aku Ardhi, apa kabar?”

To be continue ....

 


 

OVERDOSIS

  Di depan cermin, terlihat   perutku semakin besar. Lalu kuelus bulatan di perut ini. Penyakit yang aku takuti, mungkinkah itu terjadi. Bag...