Minggu, 12 September 2021

Surat Cinta dari Ibu

 

Tidak ada surat cinta yang  lebih indah daripada ini. Surat pertamaku tidaklah datang dari orang yang tersayang. Melainkan dari seorang pengajar di sekolah tempat aku belajar.

Tiga bulan mengenyam pendidikan di lembaga itu, rasanya aku tak pernah sekali pun melakukan kesalahan. Alih-alih bertengkar, bergaul dengan teman pun jarang. Aku lebih suka mengejar binatang terbang yang kemudian kubawa pulang.

“Thomas,” panggil wanita paruh baya itu kepadaku sebelum aku meninggalkan kelas.

“Ada apa, Bu?” Sahutku seraya mengangkat tas yang kemudian kupanggul di punggung.

“Ini.” Wanita itu menyerahkan sebuah amplop yang tertutup erat.

Kuraih amplop putih itu, “Ini apa, Bu?”

“Serahkan saja amplop ini kepada ibumu. Awas! Jangan kamu buka amplop ini!”

Wanita itu membelalakkan kedua matanya. Memberikan peringatan keras kepadaku agar tak membuka surat dalam amplop itu. Seharusnya wanita di depanku itu tidak perlu khawatir. Meskipun aku membuka amplop yang ia serahkan kepadaku, mana mungkin aku memahami setiap kalimat yang ia goreskan di sana.

Kumasukkan amplop itu ke dalam saku celana dan bergegas menemui ibu.

“Ibu, ini dari Bu Guru,” kataku sesampainya di rumah dan menyampaikan amanah dari guruku.

“Apa ini, Thom?”

Ibuku penasaran, aku pun sama. “Buka saja, Bu! Aku juga mau tahu apa isi surat itu.”

Ibu menyobek ujung atas amplop. Tak sabar, jika harus membuka perekatnya yang memakan waktu lebih lama.

Begitu terbuka ibu mengeluarkan selembar kertas yang dilipat membentuk persegi panjang berukuran lebih kecil daripada pembungkusnya.

Ibu merentangkan lembaran dan berlanjut membaca tulisan. Sementara aku masih setia menunggu penjelasan dari ibu.

Masih mengenggam selembar kertas, ibu tiba-tiba duduk di kursi di sampingnya. Tanpa perintahnya, aku mengikuti gerakan ibu. Aku duduk di samping ibu. Sesekali aku menengok kertas yang dipegang ibu. Namun, sia-sia. Aku tak bisa membacanya.

“Apa isinya, Bu?”

Aku semakin penasaran semenjak raut wajah ibu berubah setelah ia mengambil posisi duduk di kursi.

Ibu melipat kembali kertas itu kemudian ia masukkan lagi ke amplop tadi.

“Thomas,” kata Ibu, “mulai besok kamu belajar di rumah bersama Ibu, ya!”

“Kenapa, Bu?” Suaraku mengeras. Terkejut dengan perkataan ibu. Apa hubungannya surat itu dengan diriku? Aku tak menurut begitu saja, meskipun ibu sudah membujukku untuk menuruti permintaannya.

“Thomas, dengarkan ibu!” Kini suara ibu yang mengeras setelah aku merancau karena tak mau belajar di rumah. Aku ingin belajar di sekolah.

“Gurumu yang meminta hal ini, Thomas.” Suara ibu melirih seiring rengkuhan di bahuku.

“Maksud Ibu apa?”

“Kamu adalah anak yang genius, Thomas. Pihak sekolah tidak bisa memberikan fasilitas untukmu. Karena kamu terlalu pintar dibandingkan teman-temanmu.”

Aku terdiam, tak mampu memahami penjelasan ibu.

Kutatap kedua mata wanita di depanku. Berkilatan disertai cairan bening yang menggenang. Aku tak bisa melihat ibu bersedih. Kuanggukkan kepala perlahan, bertanda aku menyetujui permintaan ibu. Seketika ibu merengkuh tubuh kecilku kemudian memelukku erat.

Sejak itu ibu menjadi guruku di rumah. Ibu mengajariku membaca, menulis dan menyelesaikan masalah pada hitungan kurang dan tambah. Tidak hanya itu, ibu juga mengajakku belajar di luar rumah. Ibu selalu memarahiku ketika ia menjelaskan pelajaran, aku malah mengejar belalang yang beterbangan.

“Bu, tubuh belalang ini isinya apa, sih?” tanyaku penasaran.

“Binatang itu juga makhluk hidup seperti kita, memiliki organ yang bekerja sesuai fungsinya.”

Aku semakin penasaran. Tanpa sepengetahuan ibu  diam-diam aku membelah tubuh beberapa binatang hanya ingin tahu organ yang dimaksud ibu. Sampai suatu hari aksiku ketahuan ibu. Jelas ibu melarang tindakan itu. Menurutnya apa yang kulakukan itu menyakiti binatang.

“Kalau kamu ingin tahu, kamu harus bisa membaca. Nanti ibu ajak kamu ke toko buku. Di sana kamu bisa memilih buku sesukamu, termasuk organ-organ binatang yang kamu ingin tahu.”

Semenjak itu aku tak lagi membelah tubuh binatang. Aku lebih semangat belajar membaca dan ingin segera menagih janji ibu membelikan buku.

***

“Dok, ada pasien yang harus segera ditangani. Korban tabrak lari di depan rumah sakit. Warga membawanya ke sini.”

“Baiklah, saya segera ke UGD.”

Kukenakan jas kebesaran, lalu menaikkan masker menutupi sebagian wajahku. Kupercepat langkah agar bisa segera memberikan pertolongan kepada pasien korban kecelakaan itu.

Dua perawat membantuku menyiapkan peralatan. Tak begitu parah. Untuk melihat darah yang mengucur di kaki sudah menjadi makananku sehari-hari.

Setelah membersihkan darah, kebalurkan antiseptik untuk mencegah terjadinya infeksi akibat bakteri. Setelahnya kusumpat luka pada kaki laki-laki paruh baya itu menggunakan kasa kemudian  kuliliti perban untuk menguatkan balutan.

“Apa perlu di-rontgen, Dok?” tanya perawat yang sedang mengukur  tensi darah laki-laki itu.

Aku menekan-nekan kaki laki-laki itu.

“Aduh,” teriak pasien sambil memegang kakinya.

“Iya. Kayaknya ada yang patah dan perlu dilakukan tindakan,” kataku sembari beralih ke meja petugas administrasi di UGD, “jadwalkan pemeriksaan untuk bapak itu!” perintahku pada seorang recepsionist.

“Tapi, Dok, belum ada pihak keluarga atau pun yang bertanggung jawab lainnya,” sanggah petugas muda itu.

“Biar aku yang menanggungnya.”

Aku kembali ke ruangan. Semburat oranye menerobos melalui jendela. Kulirik jam di samping bingkai fotoku bersama ayah dan ibu.

Tiba-tiba pikiranku melayang kepada kejadian beberapa tahun silam. Ibu yang seharusnya menyaksikan kesuksesanku menjadi seorang dokter, tetapi takdir berkata lain. Kecelakaan yang menimpa ibu telah merenggut nyawanya setelah beberapa hari mendapat perawatan di rumah sakit tempatku praktik.

Sebelum ibu mengakhiri hidupnya, ia memintaku mengambil sebuah kotak hitam yang disimpan di laci kamarnya. Kuturuti saja permintaan ibu.

Setelah kotak itu di tangan ibu, ia membukanya lalu mengeluarkan sebuah amplop yang sudah usang. Dilihat dari warnanya yang kecoklatan itu pasti  barang yang sudah lama disimpan.

Ibu menyerahkan amplop itu kepadaku, “Baca ini, Thom!”

Aku masih belum memahami maksud ibu menyerahkan amplop itu. Seingatku aku tidak pernah melihat ibu menyimpan benda ini.

Aku meraih benda usang kecoklatan itu. Membuka lipatannya kemudian membaca isinya.

Nyonya Nancy Yang Terhormat

Tanpa mengurangi rasa hormat kami kepada Ibu, kami dari pihak sekolah dengan terpaksa mengeluarkan Thomas, anak Ibu.

Kami merasa keberatan untuk mengajar Thomas. Ia mengalami disleksia. Untuk membaca saja kesulitan, apalagi memahami pelajaran.

Thomas anak yang bodoh. Thomas tertinggal jauh dari teman-temannya dan tidak mungkin mampu mengejar ketertinggalannya.

Sekali lagi kami mohon maaf atas kebijakan yang kami ambil.

Wali Kelas Thomas

Aku terbelalak hingga menyelesaikan kalimat demi kalimat yang kubaca.

“Kenapa ibu berbohong padaku?” tanyaku, bulir bening telah lolos dari mata ini.

“Maafin Ibu, Thom. Karena Ibu yakin kamu bukanlah anak yang bodoh. Hanya saja guru kamu tidak tahu caranya mengajarimu.”

Aku melipat kembali surat itu dan memasukkan ke tempat semula.

Suara azan menggema dari masjid rumah sakit. Kubasuh butiran bening di tepian mata. Aku tak boleh menangis. Aku harus kuat, sekuat ibu yang mampu menjadikan anak bodohnya menjadi orang yang berguna.

Wanita yang melahirkanku tidak hanya mendapatkan plakat seorang ibu. Lebih dari malaikat untukku. Terima kasih, Ibu. Kau telah membuktikan kepada dunia, bahwa tak selamanya anak bodoh tidak bisa menjadi orang yang berguna. Ibu ... engkau pahlawan dalam hidupku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

OVERDOSIS

  Di depan cermin, terlihat   perutku semakin besar. Lalu kuelus bulatan di perut ini. Penyakit yang aku takuti, mungkinkah itu terjadi. Bag...