![]() |
| https://ceritakhun.com/ubud-writers-readers-festival-2021-bertema-mulat-sarira/ |
Tak banyak orang yang mengenal sebuah kompetisi berskala nasional yang menduduki ratting lima besar se-dunia dalam jagat literasi. Adalah UWRF atau Ubud Writers and Readers Festival. Sesuai namanya, festival ini diselenggarakan di Ubud, Bali, Indonesia oleh sebuah yayasan yakni Yayasan Mudra Swari Saraswati atas gagasan Janet DeNeefe.
Latar
belakang berdirinya festival UWRF adalah sebagai proyek pemulihan terhadap Bom
Bali 2002 sebagai bagian dari upaya pemulihan pariwisata. UWRF pertama kali diselenggarakan
pada tahun 2004 dan setiap tahun hingga saat ini.
UWRF
merupakan festival tata bahasa dan gagasan terbesar di Asia yang ikuti oleh
penulis, seniman, pemikir dan pementas tersohor dari seluruh dunia. Untuk
menembusnya tentu tidak mudah. Dari ratusan bahkan ribuan peserta yang ikut
seleksi, diambil Top Five yang akan
mendapat kesempatan emas datang dan mengikuti puncak festival yang
diselenggarakan di Ubud, Bali. Hanya lima naskah yang harus mampu menyisihkan
ratusan naskah yang turut meramaikan seleksi. Lantas apa saja kiat-kiat untuk
menembus ajang yang sangat bergengsi ini?
Heru
Sang Amurwabumi, penulis yang lahir di Nganjuk merupakan salah satu dari lima
penulis yang berhasil menduduki sebagai Penulis Emerging di UWRF 2019. Menurut penuturannya
secara live di Instagram @karyamurnipublisher (9/7/2021), setelah tiga kali
mengirimkan naskah, baru yang ketiga kalinya lolos seleksi.
Hal
ini menunjukkan betapa ketatnya seleksi UWRF ini. Butuh persiapan dan riset
data yang tentunya membutuhkan waktu yang cukup lama. Dalam live Instagram
tersebut, Heru Sang Amurwabumi membeberkan kiat-kiat untuk menembus UWRF
mengacu pada pengalamannya selama tiga kali mengikuti seleksi.
Yang
pertama, penulis harus memahami pihak penyelenggara sebuah kompetisi. Yayasan
Mudra Swari Saraswati sebagai penyelenggara UWRF merupakan yayasan yang
bergerak di bidang seni, budaya dan kearifan lokal. Tiga tema besar yang sangat
bisa dikembangkan oleh penulis menjadi sebuah karya yang fantastis.
Yang
kedua, penulis harus mengumpulkan data pada saat riset sebuah tema. Karena juri
pada festival ini tidak hanya dari pakar bahasa, tetapi juga tokoh-tokoh berintelektual
tinggi yang pastinya sangat paham akan kevalidan sebuah data. Meskipun yang
diseleksi merupakan karya fiksi, bukan berarti hanya mengandalkan imajinasi
semata.
Seperti
halnya karya Heru Sang Amurwabumi yang dua kali tidak lolos seleksi, menurutnya
yang pertama karena hanya sebatas imajinasinya saja, tanpa riset dan data yang
kuat. Kemudian naskah kedua, ia sudah melakukan riset, tetapi pada kenyataanya
belum membuat juri melirik karyanya. Barulah naskah yang ketiga, selain
melakukan riset data, Heru juga melakukan observasi terhadap tempat yang
dijadikan obyek pada naskahnya.
Tantangan
terberat yang dirasakan Heru saat menyelesaikan naskah diantaranya dari sisi metafisik
atau kekuatan supranatural. Pada naskahnya yang ketiga, ia bahkan sempat
mendatangi sebuah tempat di tengah-tengah makam tua di Trowulan, Mojokerto yang
konon dipercaya sebagai tempat pengikraran Sumpah Palapa. Hal inilah yang
termasuk observasi untuk memperkuat fell pada
naskahnya yang menceritakan tentang Perang Bubat pada Masa Kerajaan Majapahit.
Kiat
ketiga yaitu penulis harus menggunakan bahasa yang nyastra (bahasa yang tidak biasa) dengan tetap memperhatikan unsur
seni, budaya, dan kearifan lokal.
Tiga
kiat menembus panggung UWRF yang disampaikan Heru Sang Amurwabumi tersebut
sangatlah bermanfaat untuk penulis yang ingin menjajah ke ajang bergengsi ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar