Selasa, 13 Juli 2021

Mengenal UWRF dan Kiat Menembusnya Ala Heru Sang Amurwabumi

https://ceritakhun.com/ubud-writers-readers-festival-2021-bertema-mulat-sarira/

Tak banyak orang yang mengenal sebuah kompetisi berskala nasional yang menduduki ratting lima besar se-dunia dalam jagat literasi. Adalah UWRF atau Ubud Writers and Readers Festival. Sesuai namanya, festival ini diselenggarakan di Ubud, Bali, Indonesia oleh sebuah yayasan yakni Yayasan Mudra Swari Saraswati atas gagasan Janet DeNeefe.

Latar belakang berdirinya festival UWRF adalah sebagai proyek pemulihan terhadap Bom Bali 2002 sebagai bagian dari upaya pemulihan pariwisata. UWRF pertama kali diselenggarakan pada tahun 2004 dan setiap tahun hingga saat ini.

UWRF merupakan festival tata bahasa dan gagasan terbesar di Asia yang ikuti oleh penulis, seniman, pemikir dan pementas tersohor dari seluruh dunia. Untuk menembusnya tentu tidak mudah. Dari ratusan bahkan ribuan peserta yang ikut seleksi, diambil Top Five yang akan mendapat kesempatan emas datang dan mengikuti puncak festival yang diselenggarakan di Ubud, Bali. Hanya lima naskah yang harus mampu menyisihkan ratusan naskah yang turut meramaikan seleksi. Lantas apa saja kiat-kiat untuk menembus ajang yang sangat bergengsi ini?

Heru Sang Amurwabumi, penulis yang lahir di Nganjuk merupakan salah satu dari lima penulis yang berhasil menduduki sebagai Penulis Emerging di UWRF 2019. Menurut penuturannya secara live di Instagram @karyamurnipublisher (9/7/2021), setelah tiga kali mengirimkan naskah, baru yang ketiga kalinya lolos seleksi.

Hal ini menunjukkan betapa ketatnya seleksi UWRF ini. Butuh persiapan dan riset data yang tentunya membutuhkan waktu yang cukup lama. Dalam live Instagram tersebut, Heru Sang Amurwabumi membeberkan kiat-kiat untuk menembus UWRF mengacu pada pengalamannya selama tiga kali mengikuti seleksi.

Yang pertama, penulis harus memahami pihak penyelenggara sebuah kompetisi. Yayasan Mudra Swari Saraswati sebagai penyelenggara UWRF merupakan yayasan yang bergerak di bidang seni, budaya dan kearifan lokal. Tiga tema besar yang sangat bisa dikembangkan oleh penulis menjadi sebuah karya yang fantastis.

Yang kedua, penulis harus mengumpulkan data pada saat riset sebuah tema. Karena juri pada festival ini tidak hanya dari pakar bahasa, tetapi juga tokoh-tokoh berintelektual tinggi yang pastinya sangat paham akan kevalidan sebuah data. Meskipun yang diseleksi merupakan karya fiksi, bukan berarti hanya mengandalkan imajinasi semata.

Seperti halnya karya Heru Sang Amurwabumi yang dua kali tidak lolos seleksi, menurutnya yang pertama karena hanya sebatas imajinasinya saja, tanpa riset dan data yang kuat. Kemudian naskah kedua, ia sudah melakukan riset, tetapi pada kenyataanya belum membuat juri melirik karyanya. Barulah naskah yang ketiga, selain melakukan riset data, Heru juga melakukan observasi terhadap tempat yang dijadikan obyek pada naskahnya.

Tantangan terberat yang dirasakan Heru saat menyelesaikan naskah diantaranya dari sisi metafisik atau kekuatan supranatural. Pada naskahnya yang ketiga, ia bahkan sempat mendatangi sebuah tempat di tengah-tengah makam tua di Trowulan, Mojokerto yang konon dipercaya sebagai tempat pengikraran Sumpah Palapa. Hal inilah yang termasuk observasi untuk memperkuat fell pada naskahnya yang menceritakan tentang Perang Bubat pada Masa Kerajaan Majapahit.

Kiat ketiga yaitu penulis harus menggunakan bahasa yang nyastra (bahasa yang tidak biasa) dengan tetap memperhatikan unsur seni, budaya, dan kearifan lokal.

Tiga kiat menembus panggung UWRF yang disampaikan Heru Sang Amurwabumi tersebut sangatlah bermanfaat untuk penulis yang ingin menjajah ke ajang bergengsi ini.

 

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

OVERDOSIS

  Di depan cermin, terlihat   perutku semakin besar. Lalu kuelus bulatan di perut ini. Penyakit yang aku takuti, mungkinkah itu terjadi. Bag...