Kamis, 16 September 2021

OVERDOSIS

 

Di depan cermin, terlihat  perutku semakin besar. Lalu kuelus bulatan di perut ini. Penyakit yang aku takuti, mungkinkah itu terjadi. Bagaimana nasib kedua anakku yang masih kecil.

Berusaha menolak penyakit itu, kucoba untuk melakukan tes kehamilan. Meskipun rasanya tidak mungkin, karena aku menggunakan alat kontrasepsi, yaitu implan. Kata bidan yang memasang implan, kemungkinan sangat kecil bahkan tidak bisa hamil.

Setelah membeli dari apotek, kugunakan tespack itu. Satu garis merah. Artinya aku tidak hamil. Lantas benjolan apa yang ada di perutku ini?

Rasa takut ini semakin menghantuiku. Seperti yang pernah kubaca tentang penyakit yang menyerang rahim ini, rasanya benjolan ini memang benar kista.

Disarankan oleh bidan yang memasang implan ini, untuk periksa kandungan ke Puskesmas.  Dengan ditemani suami dan kedua anakku., menunggu antrean panjang, hingga akhirnya bertemu dengan bidan di Puskesmas itu.

“Sudah dites belum, Buk?” Bidan itu bertanya, setelah mendengar penjelasanku.

“Sudah, Bu,” jawabku.

“Pakek tespack yang harganya sepuluh ribu itu, ya?” tebaknya.

“Iya, Bu. Yang merk nya ****.”

“Tak tes lagi, ya. Ini pakek tespack yang lebih bagus,” jelasnya.

Aku menurut saja yang dikatakan bidan itu.

Lima menit kemudian, bidan menunjukkan tespack itu dengan satu garis merah yang tajam, dan satu garis lagi yang samar. Tidak mau menduga-duga, bidan itu menyarankanku untuk melakukan USG ke dokter kandungan.

Risau dihatiku belum kelar. Belum ada kejelasan atas perutku yang membuncit. Kuraba lagi, tak ada gerakan apapun. Jika ini janin, detak jantungnya tak pernah kurasa. Padahal dengan perut yang sebesar ini, kuperkirakan usia kehamilan lima bulan.

Seperti saran bidan, aku melakukan pemeriksaan ke dokter kandungan. Sama halnya di Puskesmas, di klinik inipun antrean sangat panjang. Lagi-lagi kedua anakku rewel  menunggu sekian lama. Hingga akhirnya aku dipersilakan masuk ruangan oleh seorang asisten dokter. Kedua anakku tinggal diluar dengan ayahnya.

Setelah tanya jawab dengan dokter , aku berbaring di atas ranjang. Asisten dokter menyiapkan peralatan pemeriksaan. Sejurus kemudian Dokter Sonia mulai memeriksa. Kulihat layar kecil di atas kepalaku, yang juga dilihat oleh dokter Sonia. Selesai, kurapikan bajuku lalu turun dari ranjang itu.

“Ibu pakek implan, ya?” tanya Dokter Sonia.

“Iya, Bu. Minggu kemarin  baru saja diganti,” jelasku. Dokter Sonia terlihat terkejut.

“Loh, udah diganti? Gak dites dulu sama bidannya?”

“Enggak, Bu. Mungkin karena langsung. Setelah di lepas terus dipasang lagi yang baru,” jelasku.

“Tapi seharusnya harus dites sebelum memasang alat kontrasepsi,” ujar Dokter Sonia.

“Jadi aku gimana, Bu?”

“Kamu hamil, Bu. Janinnya juga udah besar. Sekitar 24 minggu.”

“Berarti ini bukan kista kan, Bu?” tanyaku.

“Tidak, Bu. Itu janin. Segera dilepas ya implannya!” perintah Bu Sonia.

“Iya, Bu. Tapi kalau ini janin kok belum ada gerakan sama sekali, ya?” penasaran kutanyakan hal itu.

“lha ... itu, makanya saya suruh Ibu lepas implannya. Mungkin efek hormon dalam implan tersebut. Setelah dilepas nanti periksa kesini lagi, ya!” kata Bu Sonia, tangannya sibuk menulis resep untukku.

Aku lega. Ternyata bukan kista yang bersemayam di perutku. Melainkan calon jabang bayi. Hatiku gembali gelisah. Si sulung berusia lima tahun, sedang yang kedua masih berusia tiga tahun, dan sebentar lagi akan punya adik. Tak bisa membayangkan jika harus mengurus tiga anak kecil. Ya Allah ... haruskah aku bahagia? Atau sebaliknya?

Keesokan harinya, aku ke tempat bidan yang memasang implan, dan hendak melepasnya. Kuceritakan yang terjadi, namun bidan hanya diam. Aku tak mempermasalahkan hal ini.

Setelah implan terlepas, betapa terkejutnya aku. Janin yang sebelumnya diam, sekarang bergerak sangat aktif. Kuelus perutku perlahan. Tak kusadari, bulir bening menetes dari kedua mata ini. Aku merasa bersalah. Seakan tak menerima janin dalam perut ini. Aku pasrah. Entah bagaimana nanti repotnya mengurus tiga anak. Dua anak laki-laki sudah membuat penuh pekerjaan harianku.

Kali ini hanya bersama suami, aku pergi ke klinik Dokter Sonia. Kedua anak kutitipkan ke rumah kakak ipar yang tak jauh dari rumah.

“Sudah dilepas, Bu, implannya?” ujar Bu Sonia.

“Sudah, Bu. Alhamdulillah janinnya bergerak aktif sekali.”

“Oh iya ... ngomong-ngomong bayiku cowok atau cewek ya, Bu?” kutanyakan hal ini yang kemarin belum sempat bertanya.

“Sebentar, nanti dilihat lagi, ya.”

“Jadi gini ....” Bu Sonia membenarkan tempat duduknya, hendak menjelaskan sesuatu kepadaku.

“Ibuk itu hormonnya sangat tinggi. Kelebihan hormon. Overdosis istilahnya. Pakek kontrasepsi apapun pasti kebobolan juga. Kasus seperti ini seharusnya harus diganti setengah dari masa aktif  kontrasepsi itu. Misalnya Ibuk pakek implan jangka 3 tahun, setahun setengah harus sudah diganti. Agar hormon diperbarui.”

Aku manggut-manggut mendengarnya. Berpikir hal yang masuk akal. Sebelumnya mempertanyakan hal ini. Kenapa aku bisa hamil. Namun sekarang sudah paham, setelah mendengar penjelasan dari Bu Sonia.

“Terima kasih, Bu.”

“Iya, sekarang mau lihat gak jenis kelamin anaknya?” Senyum Bu Sonia mengembang, mencairkan suasana yang tegang.

“Mau dong, Bu,” celetuk suamiku.

Aku berbaring di atas ranjang, siap diperiksa oleh Bu Sonia.

Beliau menggerak-gerakkan alat di atas perutku, lalu berkata, “kayaknya kok cowok, ya.”

Aku tertawa kecil.

“Cowok lagi!” pekik suami yang berdiri di samping ranjang.

“Inikan cuma prediksi tho, Pak. Bisa saja salah,” ucap Bu Sonia. Sedang aku hanya diam.

***

Aku mulai mempersiapkan peralatan bayi. Rasanya baru kemarin aku ada diposisi seperti ini, sekarang sudah berkemas gurita, bedong, dan gendongan lagi. Untung bekas kakaknya masih bagus, sehingga hanya membeli beberapa saja.

Tanggal perkiraan lahir sudah jatuh dua hari yang lalu. Kembali periksa ke bidan, aku dirujuk ke rumah sakit.

Untung saja aku memiliki kartu KIS, sehingga tidak memikirkan biaya operasi. Iya, akhirnya dokter memutuskan untuk tindakan operasi. Selain mundur dari HPL, riwayat kehamilanku yang mengharuskan untuk dilakukannya operasi.

Aku terbaring di atas ranjang, dengan lampu-lampu diatasnya. Seorang perawat memasang tirai memisahkan bagian dada ke atas dan ke bawah. Sebelumnya dokter memberikan injeksi anestesi di tulang punggungku.

Mata ini terbuka meski terlihat kabur. Dentingan alat operasi terdengar lirih di telingaku. Mungkin dokter sudah menyayat perutku. Mulutku komat-kamit mengucap lafal Allah. Meminta kekuatan kepada Sang Pencipta, juga keselamatan untukku dan bayiku.

Lima belas menit kemudian terdengar tangisan bayi, namun aku merasa sangat lelah. Hingga kemudian tak ingat lagi yang terjadi.

Kubuka mata perlahan. Badanku menggigil. Kulihat ruangan penuh dengan alat entah apa itu namanya. Tak ada seorangpun disini. Kemudian seorang perawat mendekati.

“Ibu sudah sadar, alhamdulillah anaknya sehat dan ganteng,” kata perempuan berbaju putih itu.

“Alhamdulillah .... Suamiku mana, Bu?”

“Ada diluar, nanti saya panggilkan. Saat ini ibu masih harus disini dulu, sampai efek obat bius itu hilang. Nanti setelahnya, Ibu bisa dipindah di ruang rawat,” jelasnya.

Aku hanya mengangguk. Rasa dingin yang sangat kurasakan di tubuhku, membuat sulit untuk bicara. Tak lama kemudian suamiku datang lalu memelukku.

Efek obat bius itu sudah hilang. Badanku sudah normal. Aku dipindah di kamar rawat bersama pasien yang lain. Kamar kelas tiga yang berisi enam pasien.

Aku lega, telah melewatinya. Tak lama kemudian seorang suster membawa bayiku. Segera kuberi ia ASI pertama. Katanya ini bisa menjadi antibodi untuk si bayi.

Kuelus kepalanya. Kupegang jarinya yang mungil. Bayi yang tak bergerak beberapa bulan dalam kandungan, kini sudah ada di pangkuan. Suami dan kedua anakku masuk ke ruangan. Nampaknya anak-anak senang dengan hadirnya si adik. Dicubiti pipinya lalu menciumnya.

Aku tersenyum. Kebahagiaan menyelimutiku, suami dan ketiga jagoanku.

Pentingkah Mengenalkan Literasi Pada Anak?

 

Hampir semua orang sependapat dengan ungkapan ‘Membaca adalah jendela dunia’. Benar, tidak ada orang cerdas tanpa membaca. Tidak ada professor handal yang tak suka membaca. Tidak ada seorang penulis yang enggan membaca. Membaca adalah sebuah aktivitas mengumpulkan ide, pengetahuan, serta teori yang akan membuat seseorang menjadi paham dan mengerti terhadap sesuatu hal. Lantas, kapan aktivitas membaca itu bisa dimulai?

Di kurikulum pra sekolah tidak diajarkan membaca. Di usia mereka lebih ditekankan bermain yang mengandung edukasi. Istilahnya bermain sambil belajar, dan belajar sambil bermain. Selain permaian edukatif, juga dianjarkan pembiasaan-pembiasaan terkait perilaku positif terhadap lingkungan sekitar. Lingkungan rumah, sekolah dan juga lingkungan alam. Namun, saat memasuki sekolah dasar, anak dituntut untuk bisa membaca. Memang ada sedikit ganjal rasanya. Kurikulum yang tidak ada kemampuan membaca, tetapi saat masuk SD anak harus bisa membaca. Apa yang sebaiknya dilakukan oleh pendidik maupun orang tua?

Beberapa pra sekolah mengajarkan membaca melalui permainan-permainan yang mampu memicu anak yang mampu mengembangkan kemampuan bahasa sekaligus membaca. Hal ini menuntut pendidik lebih kreatif dalam menciptakan permainan edukatif tersebut. Bukan hanya perkembangan bahasa, tetapi juga aspek perkembangan lainnya seperti kognitif, sosial emosional, dan juga sosialnya.

Kenapa harus melalui permainan untuk menjejalkan teori dan pengetahuan pada anak usia dini? Pertama, dunia anak adalah bermain. Sebaiknya tidak memaksa anak untuk melakukan suatu hal di luar permainan, kecuali jika anak menghendakinya. Kedua, dengan bermain akan melatih interaksi anak dengan lingkungan sekitarnya. Apalagi pada permainan kooperatif yang membutuhkan komunikasi dan kerjasama antar anak satu dangan anak yang lain.

Selain dengan permainan edukatif ada beberapa cara lain yang bisa dilakukan untuk menstimulus perkembangan bahasa pada anak. Sebelum pada tahapan membaca, pastikan anak sudah menyukai buku. 5 tipsnya diantaranya adalah sebagai berikut:

1.      Kunjungi Toko Buku atau Perpustakaan

Jika menginginkan anak menyukai buku, pertama yang dilakukan adalah menciptakan atmosfir yang sesuai. Toko buku atau perpustakaan adalah tempat yang tepat untuk mengenalkan anak pada buku. Kunjungi secara berkala dan belilah beberapa buku yang anak suka.

2.      Membacakan Buku pada Anak Setiap Hari

Buku yang dibacakan bisa dari cerita atau tokoh yang digemari anak. Sebaiknya mencari buku yang disertai gambar. Karena anak lebih cepat menangkap gambar daripada tulisan. Dengan mendengarkan guru atau orang tua bercerita anak akan menghubungkannya dengan gambar yang dilihat, sehingga kosakatanya bertambah.

3.      Menciptakan Suasana yang Menyenangkan Saat Membaca

Suasana sedikit memberikan pengaruh ketika anak mendengarkan cerita atau pun membaca. Menjelang tidur adalah waktu yang bisa Anda lakukan untuk melatih anak untuk membaca atau sekadar mendengar cerita.

4.      Melatih Membaca Setelah Bercerita

Perlahan, latihkan anak membaca setelah Anda bercerita. Buatlah jadwal khusus untuk anak bercerita menggantikan Anda. Meskipun belum sempurna, tetap berikan apresiasi dan motivasi agar anak lebih semangat membaca.

5.      Menyiapkan Rak Khusus Untuk Menyimpan Buku

Terdengarnya sepele memang. Namun, hal ini adalah cara kita mengajarkan anak untuk menghargai buku. Biarkan anak untuk menata sendiri buku-bukunya.

Membaca adalah aktivitas vital untuk menguasai dunia. Membaca bisa dimulai sejak usia dini dengan cara yang tepat dan tidak membosankan

 

Selasa, 14 September 2021

Kenali Perbedaan Tulisan Fiksi dan Nonfiksi Berikut Sebelum Memulai Menulis

sumber gambar : https://kitabelajar.github.io/belajar/post/novel-fiksi-dan-non-fiksi/





Menulis adalah kebutuhan manusia. Dalam kehidupan kita tidak terlepas dengan menulis dan tulisan. Koran, majalah, berita online, buku referensi, resep masakan adalah sebuah tulisan. Pernahkah kalian berfikir tidak hanya menjadi penikmat, tetapi juga menciptakannya? Inilah yang disebut dengan menulis profesional. Menulis yang memperhatikan kaidah tata bahasa serta ejaan yang berlaku.

Ada banyak jenis tulisan. Ada jurnal, karya tulis ilmiah, deskripsi, fabel, otobiografi, puisi, surat, novel, dan masih banyak lagi. Tulisan-tulisan tersebut terbagi menjadi dua jenis yaitu tulisan fiksi dan tulisan non fiksi.

Fiksi adalah karya atau narasi yang bisa digabung dengan data dan fakta yang disajikan dalam bentuk imajinatif.  Karya yang masuk dalam kategori karya fiksi diantaranya : cerpen, novelette, novel, komik, graphic novel. Sedangkan Non Fiksi adalah klasifikasi untuk setiap karya informatif (bisa berupa berita) yang bersifat faktual, nyata dalam kehidupan kita. Karya yang masuk dalam kategori non-fiksi diantaranya : Eksposisi, argumentasi, esai, biografi, memoar, opini, jurnalisme, referensi, buku ilmiah, dan sebagainya.

Lantas apa yang membedakan antara fiksi dan non-fiksi? Yaitu pada dasar-dasar atau teknik penulisannya.

Tulisan Fiksi. Dalam sebuah karya pasti ada ide atau topik. Begitu juga dengan karya fiksi. Untuk sumber ide bisa kita dapatkan dari pengamatan atau pengalaman, gagasan dari karya orang lain, literatur, serta imajinasi. Gagasan ide tersebut kemudian kita kembangkan menjadi sebuah tema dan kerangka karangan. Selanjutnya menentukan tokoh yang terdiri dari tokoh utama dan tokoh pembantu yang memiliki sifat atau karakter masing-masing. Dalam dunia fiksi ada istilah protagonis untuk karakter tokoh baik serta antagonis untuk karakter tokoh tidak baik.

Tidak hanya itu, dalam karya fiksi terdapat konflik dan alur. Konflik adalah benturan tokoh dengan dirinya sendiri, dengan tokoh lainnya atau dengan setting. Sedangkan alur adalah kumpulan konflik yang menjadi sebuah rangkaian cerita. Terdapat tiga jenis alur dalam sebuah karya fiksi diantaranya : alur maju (progesif) yang mana cerita berjalan maju; tanpa ada kilas balik,  alur mundur (flashback) cerita dimulai dari masa sekarang, mundur menuju masa lalu; dan alur campuran (flashforward) adalah gabungan dari masa sekarang dan masa lalu.

Dalam menulis fiksi kita dituntut untuk berimajinasi, menentukan latar tempat yang menarik juga tata bahasa yang variatif sehingga menciptakan diksi yang unik.

Tulisan Non-Fiksi. Sama halnya dengan karya fiksi, karya non-fiksi pun harus memiliki ide. Namun, bedanya pada karya non-fiksi tidak membutuhkan imajinasi, justru yang dibutuhkan adalah data atau fakta. Menulis karya non-fiksi terlihat lebih mudah daripada menulis fiksi. Memang benar, tetapi letak kesulitannya adalah pada pengumpulan data dan riset serta literatur yang dibutuhkan. Jika data sudah siap, menulisnya tidak membutuhkan waktu lama.

Hal yang perlu dilakukan sebelum menulis karya non-fiksi adalah : perbanyak membaca buku, artikel serta berita-berita; melatih merangkai kata-kata; menggunakan prinsip 5W+1H ; berlatih menghubungkan kata, kalimat, dan paragraf; serta berlatih mengutip dan menempatkan rujukan.

Ada yang berpendapat bahwa menulis karya non-fiksi lebih mudah daripada karya fiksi. Hal ini bisa dilihat dari para penulis fiksi yang juga mampu membuat karya non-fiksi. Sebaliknya, meskipun ada, tetapi sedikit penulis karya non-fiksi yang membuat karya fiksi.

Namun, apa pun  karyanya adalah hal berharga. Sudahkah kalian menghargai karyamu menjadi sebuah buku? Memang tidak semua penulis  ingin membukukan karyanya, mungkin karena hanya sebagai mengembangkan hobi. Sekarang ubah mindset kalian jika masih berfikir seperti itu. Dengan mencetak dan memasarkan buku, itu artinya kita akan mendapatkan income. Bahkan bisa dengan sistem royalti. Semakin banyak buku tercetak maka semakin banyak pula income yang kita dapatkan.

            

Senin, 13 September 2021

Mengenang Arswendo Atmowiloto, Penulis Sekaligus Wartawan yang Raup Berbagai Penghargaan

 
sumber gambar : Wikipedia.com



Arswendo Atmiloto lahir di Solo pada 26 Nopember 1948 memiliki nama asli Sarwendo. Karena dianggap kurang komersil, diubahlah menjadi Arswendo dengan menambhkan nama bapaknya yaitu Atmowiloto.

Laki-laki yang telah meninggal pada 19 Juli 2019 ini dikenal sebagai penulis dan wartawan di berbagai media terkenal. Salah satu karyanya berjudul Keluarga Cemara yang kemudian diangkat di layar televisi dalam sinetron di era 90-an dan film layar lebar pada tahun 2019.

Tak hanya itu, ia juga menjadi sosok di balik sinetron populer Ali Topan Anak Jalanan di tahun1997-1998, Deru Debu di tahun 1994-1996, 1 Kakak 7 Ponakan pada tahun1996, Jalan Makin Membara II dan III di tahun 1995-1997, dan Imung pada tahun 1997.

Arswendo juga pernah memimpin Bengkel Sastra Pusat Kesenian Jawa Tengah di Solo pada tahun 1972. Ia juga menjadi wartawan Kompas, menjadi ketua redaksi di Hai, Monitor, dan  Senang.

Suatu ketika ia dijerat hukuman penjara selama 5 tahun terkait perkara penistaan agama. Pada saat itu Tabloid Monitor memuat hasil jajak pendapat tentang siapa yang menjadi tokoh idola pembaca. Arswendo terpilih menjadi nomor 10, satu tingkat lebih unggul dengan Nabi Muhammad SAW. Sebagian muslim marah dan menimbulkan masalah di tengah masyarakat.

Meski demikian, tak membuat Arswendo berhenti berkarya. Tujuh buah novel, puluhan artikel, tiga naskah skenario dan sejumlah cerita bersambung ketika hidup di penjara. Namun, untuk sebagian karya ia menggunakan identitas palsu.

Keluar dari penjara, Arswendo mendirikan perusahaan bernama PT. Atmo Bismo Sangotrah. Sebelumnya selama 3 tahun ia telah bekerjasama dengan Sudwikatmono untuk menghidupkan kembali Tabloid Bintang Indonesia yang saat itu sedang menurun reputasinya.

Beberapa karir yang lain diantaranya menjadi wartawan koran berbahasa Jawa Dharma Khanda  dan Dharma Nyata sampai tahun 1974, mendirikan Rumah Produksi PT Atmochademas Persada, Direktur dan Pemimpin Umum  dari Atmo Grup yang menerbitkan tabloid Pro TV, Bianglala, dan Majalah Anak Ina.

Atas karya yang dihasilkan, Arswendo meraup berbagai penghargaan diantaranya: Piala Vidya untuk Sinetron Pemahat Borobudur pada tahun 1987; ASEAN Award Culture Communication & Literary Works, Bangkok, Thailand pada tahun 1987; Piala Vidya Utama atas Cerita Sinetron Terbaik untuk sinetron Menghitung Hari di tahun 1995; serta Piala Vidya untuk Vonis Kepagian pada tahun 1996.


Minggu, 12 September 2021

Surat Cinta dari Ibu

 

Tidak ada surat cinta yang  lebih indah daripada ini. Surat pertamaku tidaklah datang dari orang yang tersayang. Melainkan dari seorang pengajar di sekolah tempat aku belajar.

Tiga bulan mengenyam pendidikan di lembaga itu, rasanya aku tak pernah sekali pun melakukan kesalahan. Alih-alih bertengkar, bergaul dengan teman pun jarang. Aku lebih suka mengejar binatang terbang yang kemudian kubawa pulang.

“Thomas,” panggil wanita paruh baya itu kepadaku sebelum aku meninggalkan kelas.

“Ada apa, Bu?” Sahutku seraya mengangkat tas yang kemudian kupanggul di punggung.

“Ini.” Wanita itu menyerahkan sebuah amplop yang tertutup erat.

Kuraih amplop putih itu, “Ini apa, Bu?”

“Serahkan saja amplop ini kepada ibumu. Awas! Jangan kamu buka amplop ini!”

Wanita itu membelalakkan kedua matanya. Memberikan peringatan keras kepadaku agar tak membuka surat dalam amplop itu. Seharusnya wanita di depanku itu tidak perlu khawatir. Meskipun aku membuka amplop yang ia serahkan kepadaku, mana mungkin aku memahami setiap kalimat yang ia goreskan di sana.

Kumasukkan amplop itu ke dalam saku celana dan bergegas menemui ibu.

“Ibu, ini dari Bu Guru,” kataku sesampainya di rumah dan menyampaikan amanah dari guruku.

“Apa ini, Thom?”

Ibuku penasaran, aku pun sama. “Buka saja, Bu! Aku juga mau tahu apa isi surat itu.”

Ibu menyobek ujung atas amplop. Tak sabar, jika harus membuka perekatnya yang memakan waktu lebih lama.

Begitu terbuka ibu mengeluarkan selembar kertas yang dilipat membentuk persegi panjang berukuran lebih kecil daripada pembungkusnya.

Ibu merentangkan lembaran dan berlanjut membaca tulisan. Sementara aku masih setia menunggu penjelasan dari ibu.

Masih mengenggam selembar kertas, ibu tiba-tiba duduk di kursi di sampingnya. Tanpa perintahnya, aku mengikuti gerakan ibu. Aku duduk di samping ibu. Sesekali aku menengok kertas yang dipegang ibu. Namun, sia-sia. Aku tak bisa membacanya.

“Apa isinya, Bu?”

Aku semakin penasaran semenjak raut wajah ibu berubah setelah ia mengambil posisi duduk di kursi.

Ibu melipat kembali kertas itu kemudian ia masukkan lagi ke amplop tadi.

“Thomas,” kata Ibu, “mulai besok kamu belajar di rumah bersama Ibu, ya!”

“Kenapa, Bu?” Suaraku mengeras. Terkejut dengan perkataan ibu. Apa hubungannya surat itu dengan diriku? Aku tak menurut begitu saja, meskipun ibu sudah membujukku untuk menuruti permintaannya.

“Thomas, dengarkan ibu!” Kini suara ibu yang mengeras setelah aku merancau karena tak mau belajar di rumah. Aku ingin belajar di sekolah.

“Gurumu yang meminta hal ini, Thomas.” Suara ibu melirih seiring rengkuhan di bahuku.

“Maksud Ibu apa?”

“Kamu adalah anak yang genius, Thomas. Pihak sekolah tidak bisa memberikan fasilitas untukmu. Karena kamu terlalu pintar dibandingkan teman-temanmu.”

Aku terdiam, tak mampu memahami penjelasan ibu.

Kutatap kedua mata wanita di depanku. Berkilatan disertai cairan bening yang menggenang. Aku tak bisa melihat ibu bersedih. Kuanggukkan kepala perlahan, bertanda aku menyetujui permintaan ibu. Seketika ibu merengkuh tubuh kecilku kemudian memelukku erat.

Sejak itu ibu menjadi guruku di rumah. Ibu mengajariku membaca, menulis dan menyelesaikan masalah pada hitungan kurang dan tambah. Tidak hanya itu, ibu juga mengajakku belajar di luar rumah. Ibu selalu memarahiku ketika ia menjelaskan pelajaran, aku malah mengejar belalang yang beterbangan.

“Bu, tubuh belalang ini isinya apa, sih?” tanyaku penasaran.

“Binatang itu juga makhluk hidup seperti kita, memiliki organ yang bekerja sesuai fungsinya.”

Aku semakin penasaran. Tanpa sepengetahuan ibu  diam-diam aku membelah tubuh beberapa binatang hanya ingin tahu organ yang dimaksud ibu. Sampai suatu hari aksiku ketahuan ibu. Jelas ibu melarang tindakan itu. Menurutnya apa yang kulakukan itu menyakiti binatang.

“Kalau kamu ingin tahu, kamu harus bisa membaca. Nanti ibu ajak kamu ke toko buku. Di sana kamu bisa memilih buku sesukamu, termasuk organ-organ binatang yang kamu ingin tahu.”

Semenjak itu aku tak lagi membelah tubuh binatang. Aku lebih semangat belajar membaca dan ingin segera menagih janji ibu membelikan buku.

***

“Dok, ada pasien yang harus segera ditangani. Korban tabrak lari di depan rumah sakit. Warga membawanya ke sini.”

“Baiklah, saya segera ke UGD.”

Kukenakan jas kebesaran, lalu menaikkan masker menutupi sebagian wajahku. Kupercepat langkah agar bisa segera memberikan pertolongan kepada pasien korban kecelakaan itu.

Dua perawat membantuku menyiapkan peralatan. Tak begitu parah. Untuk melihat darah yang mengucur di kaki sudah menjadi makananku sehari-hari.

Setelah membersihkan darah, kebalurkan antiseptik untuk mencegah terjadinya infeksi akibat bakteri. Setelahnya kusumpat luka pada kaki laki-laki paruh baya itu menggunakan kasa kemudian  kuliliti perban untuk menguatkan balutan.

“Apa perlu di-rontgen, Dok?” tanya perawat yang sedang mengukur  tensi darah laki-laki itu.

Aku menekan-nekan kaki laki-laki itu.

“Aduh,” teriak pasien sambil memegang kakinya.

“Iya. Kayaknya ada yang patah dan perlu dilakukan tindakan,” kataku sembari beralih ke meja petugas administrasi di UGD, “jadwalkan pemeriksaan untuk bapak itu!” perintahku pada seorang recepsionist.

“Tapi, Dok, belum ada pihak keluarga atau pun yang bertanggung jawab lainnya,” sanggah petugas muda itu.

“Biar aku yang menanggungnya.”

Aku kembali ke ruangan. Semburat oranye menerobos melalui jendela. Kulirik jam di samping bingkai fotoku bersama ayah dan ibu.

Tiba-tiba pikiranku melayang kepada kejadian beberapa tahun silam. Ibu yang seharusnya menyaksikan kesuksesanku menjadi seorang dokter, tetapi takdir berkata lain. Kecelakaan yang menimpa ibu telah merenggut nyawanya setelah beberapa hari mendapat perawatan di rumah sakit tempatku praktik.

Sebelum ibu mengakhiri hidupnya, ia memintaku mengambil sebuah kotak hitam yang disimpan di laci kamarnya. Kuturuti saja permintaan ibu.

Setelah kotak itu di tangan ibu, ia membukanya lalu mengeluarkan sebuah amplop yang sudah usang. Dilihat dari warnanya yang kecoklatan itu pasti  barang yang sudah lama disimpan.

Ibu menyerahkan amplop itu kepadaku, “Baca ini, Thom!”

Aku masih belum memahami maksud ibu menyerahkan amplop itu. Seingatku aku tidak pernah melihat ibu menyimpan benda ini.

Aku meraih benda usang kecoklatan itu. Membuka lipatannya kemudian membaca isinya.

Nyonya Nancy Yang Terhormat

Tanpa mengurangi rasa hormat kami kepada Ibu, kami dari pihak sekolah dengan terpaksa mengeluarkan Thomas, anak Ibu.

Kami merasa keberatan untuk mengajar Thomas. Ia mengalami disleksia. Untuk membaca saja kesulitan, apalagi memahami pelajaran.

Thomas anak yang bodoh. Thomas tertinggal jauh dari teman-temannya dan tidak mungkin mampu mengejar ketertinggalannya.

Sekali lagi kami mohon maaf atas kebijakan yang kami ambil.

Wali Kelas Thomas

Aku terbelalak hingga menyelesaikan kalimat demi kalimat yang kubaca.

“Kenapa ibu berbohong padaku?” tanyaku, bulir bening telah lolos dari mata ini.

“Maafin Ibu, Thom. Karena Ibu yakin kamu bukanlah anak yang bodoh. Hanya saja guru kamu tidak tahu caranya mengajarimu.”

Aku melipat kembali surat itu dan memasukkan ke tempat semula.

Suara azan menggema dari masjid rumah sakit. Kubasuh butiran bening di tepian mata. Aku tak boleh menangis. Aku harus kuat, sekuat ibu yang mampu menjadikan anak bodohnya menjadi orang yang berguna.

Wanita yang melahirkanku tidak hanya mendapatkan plakat seorang ibu. Lebih dari malaikat untukku. Terima kasih, Ibu. Kau telah membuktikan kepada dunia, bahwa tak selamanya anak bodoh tidak bisa menjadi orang yang berguna. Ibu ... engkau pahlawan dalam hidupku.

Sabtu, 11 September 2021

Platform untuk Menggali Sumber Berita


Halo sobat literasi! 

Menjadi Conten Writer pasti membutuhkan sumber informasi sebagai rujukan tulisannya. Terlebih untuk karya nonfiksi yang  harus terbukti kebenarannya. Nah, sebagai freelancer conten writer mencari sumber berita bisa dilakukan hanya dari rumah. Dari mana kita menggali sumber berita yang bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya?

Salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan mencari informasi dari berbagai platform. Media sosial bisa menjadi terobosan termudah untuk menggali informasi dari narasumber. Banyak para tokoh dan pejabat negara yang memiliki akun media sosial Twitter. Kita bisa memanfaatkan informasi dari platform tersebut. Ungkapan para tokoh di media sosial bisa menjadi sumber berita yang valid. Namun, jangan lupa menyertakan sumbernya. Seperti nama akun media sosial yang kita kutip dan tanggal dipubikasikannya. 

Untuk melihat akun media sosial tersebut terverifikasi atau tidak, mudah saja. Jika terdapat centang biru dapat dipastikan akun tersebut benar-benar milik tokoh yang dimaksud.  

Media sosial juga bisa dimanfaatkan untuk melihat topik yang tengah trending melalui hastag. Kita bisa dengan mudah mendapatkan topik yang kemudian dikembangkan lagi menjadi berita softnews dan juga hardnews. Pasti kalian sudah paham perbedaan keduanya kan? Lain kali insyaallah akan saya bahas mengenai perbedaan softnews dan hardnews

Selain dari media sosial tokoh, kita juga bisa menggali informasi dari media lain yang sudah terpercaya. Misalnya untuk hardnews kita bisa mengutip dari detik.com atau Kompas.com. kedua media tersebut merupakan media yang banyak dijadikan referensi jurnalis dan conten writer

Hal yang tidak boleh dilakukan ketika mengutip dari media lain yaitu menggunakan bahasa dan kalimat yang sama persis. Juga tidak menyertakan sumber berita. Misalkan kita mengambil informasi dari Kompas, mudah saja kita tinggal menambahkan kalimat Mengutip dari Kompas.com ..., atau bisa juga Melansir dari Kompas.com ....

Hal itu dilakukan untuk menghindari plagiarisme pada tulisan. Hal penting lainnya yaitu dengan melakukan parafrase ketika kita menulis berita. Hindari penggunaan kalimat yang sama persis, meskipun ini kerap terjadi pada konten berita hardnews

Sebelum mengguggah berita, conten writer sebaiknya melakukan pengecekan plagiarisme menggunakan aplikasi yang tersedia di internet. Kita tinggal mengcopy tulisan, kemudian aplikasi akan men-scan tulisan tersebut dan keluar prosentase plagiarisme. Setiap media biasanya memiliki kebijakan masing-masing terkait berapa besar prosentase plagiarisme. Umumnya batas maksimal mencapai 5-10%. Karena ini tulisan nonfiksi pasti akan memiliki persamaan dengan tulisan di media lain. Misalkan nama tokoh, nama tempat dan topik itu sendiri. Namun, jika kita pandai melakukan parafrase , pasti tidak akan kesulitan untuk menyusun berita.


Jumat, 10 September 2021

Jadi Freelancer Conten Writer, Why Not!


Jika dijabarkan, menulis itu sangatlah luas. Beragam jenis tulisan tersebut dibagi menjadi dua kategori umum yaitu tulisan fiksi dan nonfiksi. Saya tidak akan mengulas perbedaannya di sini. Sudah terlalu banyak artikel yang menjelaskan pengertian, jenis dan karakteristik dua kategori tersebut.

Saya hanya ingin menceritakan pengalaman ketika saya menjadi salah satu kontributor media online yang berkantor pusat di Yogyakarta. Unik memang, saya berdomisili di Nganjuk, tetapi harus menulis untuk media kota lain.

Tidak ada masalah. Kecanggihan teknologi menjawab semuanya. Meski saya tidak bisa bertemu langsung dengan pimpinan redaksi juga teman-teman kontributor lainnya, tetapi setiap hari kami berdiskusi yang hunting berita bersama-sama.

Ada beberapa teman yang bertanya kepada saya bagaimana sistematis menjadi kontributor juga jurnalis berita. Mereka juga menanyakan bagaimana saya bisa menulis berita padahal tidak keluar rumah. Inilah yang disebut sebagai freelancer.

Freelancer memiliki artian sebagai pekerja lepas yang tidak terikat kontrak jangka panjang, tetapi tetap memiliki kontrak yang kuat dan jelas. Begitu juga dengan saya. Setiap hari saya menulis berita, baik hardnews maupun softnews. Karena media tersebut merupakan media online di Yogyakarta, sudah semestinya berita lokal juga seputar Yogyakarta, terlepas berita nasional pada umumnya.

Tulisan nonfiksi sangat identik dengan sumber berita. Nah, bagaimana seorang freelancer menggali informasinya? Tenang, di sini akan sedikit saya beberkan.

Sumber informasi menjadi penguat berita yang kita tulis. Tanpa data tidak bisa dinamakan tulisan nonfiksi. Secara umum sumber berita itu bisa didapat dengan dua cara, yaitu wawancara langsung dengan narasumber dan yang kedua yaitu mencari informasi dari flatform yang terpercaya. Di blog selanjutnya insyaallah akan saya bahas tentang bagaimana cara hunting informasi dari media online.

Untuk freelancer wawancara bisa dilakukan secara daring. Biasanya saya cukup berkomunikasi dengan narasumber menggunakan aplikasi perpesanan. Bisa juga menggunakan aplikasi lain seperti Zoom, Google Meet, dan lain sebagainya. Blog selanjutnya akan saya bahas bagaimana cara menggali informasi dari narasumber yang dilakukan secara daring.

Menjadi freelancer conten writer merupakan pengalaman yang berharga buat saya. Bukan hanya untuk melatih skill menulis, tetapi juga belajar bidang lain sesuai narasumber yang kita ajak komunikasi. Salah satunya saya pernah mewancarai seorang pengusaha. Secara tidak langsung saya belajar banyak hal tentang bidang itu. Sama ketika mewancarai narasumber di bidang pendidikan juga ekonomi. Saya merangkum apa yang mereka sampaikan kemudian saya tulis menjadi berita.

Terima kasih sudah mampir di blog saya. 


 

OVERDOSIS

  Di depan cermin, terlihat   perutku semakin besar. Lalu kuelus bulatan di perut ini. Penyakit yang aku takuti, mungkinkah itu terjadi. Bag...