![]() |
| sumber gambar : https://kitabelajar.github.io/belajar/post/novel-fiksi-dan-non-fiksi/ |
Menulis adalah kebutuhan manusia. Dalam kehidupan kita tidak terlepas dengan menulis dan tulisan. Koran, majalah, berita online, buku referensi, resep masakan adalah sebuah tulisan. Pernahkah kalian berfikir tidak hanya menjadi penikmat, tetapi juga menciptakannya? Inilah yang disebut dengan menulis profesional. Menulis yang memperhatikan kaidah tata bahasa serta ejaan yang berlaku.
Ada
banyak jenis tulisan. Ada jurnal, karya tulis ilmiah, deskripsi, fabel,
otobiografi, puisi, surat, novel, dan masih banyak lagi. Tulisan-tulisan
tersebut terbagi menjadi dua jenis yaitu tulisan fiksi dan tulisan non fiksi.
Fiksi
adalah karya atau narasi yang bisa digabung dengan data dan fakta yang
disajikan dalam bentuk imajinatif. Karya
yang masuk dalam kategori karya fiksi diantaranya : cerpen, novelette, novel,
komik, graphic novel. Sedangkan Non Fiksi adalah klasifikasi untuk setiap karya
informatif (bisa berupa berita) yang bersifat faktual, nyata dalam kehidupan
kita. Karya yang masuk dalam kategori non-fiksi diantaranya : Eksposisi,
argumentasi, esai, biografi, memoar, opini, jurnalisme, referensi, buku ilmiah,
dan sebagainya.
Lantas
apa yang membedakan antara fiksi dan non-fiksi? Yaitu pada dasar-dasar atau teknik
penulisannya.
Tulisan Fiksi. Dalam
sebuah karya pasti ada ide atau topik. Begitu juga dengan karya fiksi. Untuk
sumber ide bisa kita dapatkan dari pengamatan atau pengalaman, gagasan dari
karya orang lain, literatur, serta imajinasi. Gagasan ide tersebut kemudian
kita kembangkan menjadi sebuah tema dan kerangka karangan. Selanjutnya
menentukan tokoh yang terdiri dari tokoh utama dan tokoh pembantu yang memiliki
sifat atau karakter masing-masing. Dalam dunia fiksi ada istilah protagonis
untuk karakter tokoh baik serta antagonis untuk karakter tokoh tidak baik.
Tidak
hanya itu, dalam karya fiksi terdapat konflik dan alur. Konflik adalah benturan
tokoh dengan dirinya sendiri, dengan tokoh lainnya atau dengan setting.
Sedangkan alur adalah kumpulan konflik yang menjadi sebuah rangkaian cerita.
Terdapat tiga jenis alur dalam sebuah karya fiksi diantaranya : alur maju
(progesif) yang mana cerita berjalan maju; tanpa ada kilas balik, alur mundur (flashback) cerita dimulai dari
masa sekarang, mundur menuju masa lalu; dan alur campuran (flashforward) adalah
gabungan dari masa sekarang dan masa lalu.
Dalam
menulis fiksi kita dituntut untuk berimajinasi, menentukan latar tempat yang
menarik juga tata bahasa yang variatif sehingga menciptakan diksi yang unik.
Tulisan Non-Fiksi. Sama
halnya dengan karya fiksi, karya non-fiksi pun harus memiliki ide. Namun,
bedanya pada karya non-fiksi tidak membutuhkan imajinasi, justru yang
dibutuhkan adalah data atau fakta. Menulis karya non-fiksi terlihat lebih mudah
daripada menulis fiksi. Memang benar, tetapi letak kesulitannya adalah pada
pengumpulan data dan riset serta
literatur yang dibutuhkan. Jika data sudah siap, menulisnya tidak membutuhkan
waktu lama.
Hal
yang perlu dilakukan sebelum menulis karya non-fiksi adalah : perbanyak membaca
buku, artikel serta berita-berita; melatih merangkai kata-kata; menggunakan
prinsip 5W+1H ; berlatih menghubungkan kata, kalimat, dan paragraf; serta
berlatih mengutip dan menempatkan rujukan.
Ada
yang berpendapat bahwa menulis karya non-fiksi lebih mudah daripada karya
fiksi. Hal ini bisa dilihat dari para penulis fiksi yang juga mampu membuat
karya non-fiksi. Sebaliknya, meskipun ada, tetapi sedikit penulis karya
non-fiksi yang membuat karya fiksi.
Namun,
apa pun karyanya adalah hal berharga.
Sudahkah kalian menghargai karyamu menjadi sebuah buku? Memang tidak semua
penulis ingin membukukan karyanya,
mungkin karena hanya sebagai mengembangkan hobi. Sekarang ubah mindset kalian jika masih berfikir
seperti itu. Dengan mencetak dan memasarkan buku, itu artinya kita akan
mendapatkan income. Bahkan bisa
dengan sistem royalti. Semakin banyak buku tercetak maka semakin banyak pula income yang kita dapatkan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar