Senin, 13 September 2021

Mengenang Arswendo Atmowiloto, Penulis Sekaligus Wartawan yang Raup Berbagai Penghargaan

 
sumber gambar : Wikipedia.com



Arswendo Atmiloto lahir di Solo pada 26 Nopember 1948 memiliki nama asli Sarwendo. Karena dianggap kurang komersil, diubahlah menjadi Arswendo dengan menambhkan nama bapaknya yaitu Atmowiloto.

Laki-laki yang telah meninggal pada 19 Juli 2019 ini dikenal sebagai penulis dan wartawan di berbagai media terkenal. Salah satu karyanya berjudul Keluarga Cemara yang kemudian diangkat di layar televisi dalam sinetron di era 90-an dan film layar lebar pada tahun 2019.

Tak hanya itu, ia juga menjadi sosok di balik sinetron populer Ali Topan Anak Jalanan di tahun1997-1998, Deru Debu di tahun 1994-1996, 1 Kakak 7 Ponakan pada tahun1996, Jalan Makin Membara II dan III di tahun 1995-1997, dan Imung pada tahun 1997.

Arswendo juga pernah memimpin Bengkel Sastra Pusat Kesenian Jawa Tengah di Solo pada tahun 1972. Ia juga menjadi wartawan Kompas, menjadi ketua redaksi di Hai, Monitor, dan  Senang.

Suatu ketika ia dijerat hukuman penjara selama 5 tahun terkait perkara penistaan agama. Pada saat itu Tabloid Monitor memuat hasil jajak pendapat tentang siapa yang menjadi tokoh idola pembaca. Arswendo terpilih menjadi nomor 10, satu tingkat lebih unggul dengan Nabi Muhammad SAW. Sebagian muslim marah dan menimbulkan masalah di tengah masyarakat.

Meski demikian, tak membuat Arswendo berhenti berkarya. Tujuh buah novel, puluhan artikel, tiga naskah skenario dan sejumlah cerita bersambung ketika hidup di penjara. Namun, untuk sebagian karya ia menggunakan identitas palsu.

Keluar dari penjara, Arswendo mendirikan perusahaan bernama PT. Atmo Bismo Sangotrah. Sebelumnya selama 3 tahun ia telah bekerjasama dengan Sudwikatmono untuk menghidupkan kembali Tabloid Bintang Indonesia yang saat itu sedang menurun reputasinya.

Beberapa karir yang lain diantaranya menjadi wartawan koran berbahasa Jawa Dharma Khanda  dan Dharma Nyata sampai tahun 1974, mendirikan Rumah Produksi PT Atmochademas Persada, Direktur dan Pemimpin Umum  dari Atmo Grup yang menerbitkan tabloid Pro TV, Bianglala, dan Majalah Anak Ina.

Atas karya yang dihasilkan, Arswendo meraup berbagai penghargaan diantaranya: Piala Vidya untuk Sinetron Pemahat Borobudur pada tahun 1987; ASEAN Award Culture Communication & Literary Works, Bangkok, Thailand pada tahun 1987; Piala Vidya Utama atas Cerita Sinetron Terbaik untuk sinetron Menghitung Hari di tahun 1995; serta Piala Vidya untuk Vonis Kepagian pada tahun 1996.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

OVERDOSIS

  Di depan cermin, terlihat   perutku semakin besar. Lalu kuelus bulatan di perut ini. Penyakit yang aku takuti, mungkinkah itu terjadi. Bag...