![]() |
| sumber gambar : Wikipedia.com |
Arswendo Atmiloto lahir
di Solo pada 26 Nopember 1948 memiliki nama asli Sarwendo. Karena dianggap
kurang komersil, diubahlah menjadi Arswendo dengan menambhkan nama bapaknya yaitu
Atmowiloto.
Laki-laki yang telah
meninggal pada 19 Juli 2019 ini dikenal sebagai penulis dan wartawan di
berbagai media terkenal. Salah satu karyanya berjudul Keluarga Cemara yang
kemudian diangkat di layar televisi dalam sinetron di era 90-an dan film layar
lebar pada tahun 2019.
Tak hanya itu, ia juga
menjadi sosok di balik sinetron populer Ali Topan Anak Jalanan di tahun1997-1998,
Deru Debu di tahun 1994-1996, 1 Kakak 7 Ponakan pada tahun1996, Jalan Makin
Membara II dan III di tahun 1995-1997, dan Imung pada tahun 1997.
Arswendo juga pernah
memimpin Bengkel Sastra Pusat Kesenian Jawa Tengah di Solo pada tahun 1972. Ia
juga menjadi wartawan Kompas, menjadi ketua redaksi di Hai, Monitor, dan Senang.
Suatu ketika ia dijerat
hukuman penjara selama 5 tahun terkait perkara penistaan agama. Pada saat itu
Tabloid Monitor memuat hasil jajak pendapat tentang siapa yang menjadi tokoh
idola pembaca. Arswendo terpilih menjadi nomor 10, satu tingkat lebih unggul
dengan Nabi Muhammad SAW. Sebagian muslim marah dan menimbulkan masalah di
tengah masyarakat.
Meski demikian, tak
membuat Arswendo berhenti berkarya. Tujuh buah novel, puluhan artikel, tiga
naskah skenario dan sejumlah cerita bersambung ketika hidup di penjara. Namun,
untuk sebagian karya ia menggunakan identitas palsu.
Keluar dari penjara,
Arswendo mendirikan perusahaan bernama PT. Atmo Bismo Sangotrah. Sebelumnya
selama 3 tahun ia telah bekerjasama dengan Sudwikatmono untuk menghidupkan
kembali Tabloid Bintang Indonesia yang saat itu sedang menurun reputasinya.
Beberapa karir yang
lain diantaranya menjadi wartawan koran berbahasa Jawa Dharma Khanda dan Dharma Nyata sampai tahun 1974,
mendirikan Rumah Produksi PT Atmochademas Persada, Direktur dan Pemimpin
Umum dari Atmo Grup yang menerbitkan
tabloid Pro TV, Bianglala, dan Majalah Anak Ina.
Atas karya yang
dihasilkan, Arswendo meraup berbagai penghargaan diantaranya: Piala Vidya untuk
Sinetron Pemahat Borobudur pada tahun 1987; ASEAN Award Culture Communication
& Literary Works, Bangkok, Thailand pada tahun 1987; Piala Vidya Utama atas
Cerita Sinetron Terbaik untuk sinetron Menghitung Hari di tahun 1995; serta
Piala Vidya untuk Vonis Kepagian pada tahun 1996.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar