Kamis, 09 September 2021

Mayangku yang Malang

 

sumber gambar : https://www.wallpaperbetter.com/id/hd-wallpaper-nfypt

Aku tergugu di balik tirai yang tersibak angin, menampakkan  tetesan air yang turun dari langit. Tak tersadar buliran bening menitik dari kedua netra membasahi pipi. Kepalaku berdenyut memikirkan seseorang yang entah dimana keberadaannya.

Mobil yang kukendalikan menghantam pohon besar di tengah derasnya hujan, tergelincir ke ceruk terdalam menerjang semak-semak. Aku terpental keluar mobil setelah berusaha membuka pintunya dan meloncat, sedangkan mobil terus bergulir ke dalam. Saat mobil terhenti kulihat percikan api pada kap depannya hingga api membesar. Gumpalan asap berangsur menebal, pandanganku berangsur memudar hingga aku tak mengingat apa pun setelah itu.

Kecelakaan dua minggu silam menyisakan duka. Sayatan di tubuh serta retakan tulang betis sebelah kiri menyebabkanku harus menggunakan kursi roda. Namun, luka itu tak sebanding dengan duka dalam hatiku. Mayang, istriku yang turut dalam kecelakaan itu belum ditemukan. Tim SAR sedang melakukan penyusuran di hutan dan sungai di sekitar kejadian. Sampai saat ini belum ada kabar baik tentang pencarian Mayang.

Menggerakkan dua roda di kedua sisi kursi, kuarahkan menuju keluar rumah. Tampak ranting pohon bergoyang tertiup angin kencang. Musim hujan belum juga berganti. Nyaris setiap malam bumi dihujam deraian air langit. Sesekali diiringi petir yang menggelegar. Tetes demi tetes air yang turun seakan membangkitkan rasa bersalah atas kecerobohanku waktu itu. Andai saja tak kulajukan mobil dengan kencang, mungkin musibah ini tak menimpaku juga Mayang. Ah ... kutepis perasaan yang menghantuiku. Bukankah takdir telah tergaris sebelum kita dilahirkan? Berulang kali aku menyitir istigfar seraya meminta kepada Sang Pencipta untuk melindungi Mayang di mana pun ia berada.

Ponselku berdering, tampak deretan angka tanpa nama sedang memanggil. Kutarik sebuah tombol di layar sehingga menghubungkan suaraku dengan seseorang di balik sana.

“Selamat malam, apa benar ini dengan Bapak Ardhian?” tanya seorang laki-laki.

“Iya, saya sendiri.”

“Saya ketua tim dalam pencarian korban kecelakaan,” ujarnya.

“Oh iya, bagaimana, Pak? Apakah ada perkembangan?” tanyaku antusias.

“Salah satu tim kami menemukan sepatu sebelah kiri, sepertinya sepatu wanita. Bisakah Bapak mengirim alamat Bapak agar kami menunjukkan kepada Bapak,” jelas orang itu.

“Baiklah, segera saya kirim lokasinya.”

Saluran telepon terputus, segera kubagikan lokasi kepada seseorang yang baru saja menghubungi.

Angin malam merambah ke permukaan kulit hingga ke tulang. Kujalankan kursi roda menuju ke dalam. Kuminta Mbok Lastri membuatkan coklat panas, minuman kesukaan untuk mendapatkan sensasi yang menenangkan.

***

Sebulan berlalu, luka di tubuhku telah pulih. Namun, menyisakan luka hati yang dalam. Tim SAR menghentikan pencariannya sebelum menemukan Mayang. Kedua mertuaku pun telah menganggap anaknya telah tiada. Mengirim doa untuk orang yang meninggal telah dilakukan oleh keluarga Mayang. Namun, aku masih menganggap labuhan hatiku ini masih hidup, sebelum melihat sendiri jasadnya.

Sudah cukup sebulan cuti dari pekerjaan, saatnya aku kembali bergelut dengan tumpukan berkas laporan. Bekerja di sebuah perusahaan bidang periklanan di mana menjadi awal pertemuanku dengan Mayang, hingga tumbuh benih-benih cinta diantara kita hingga ke palaminan.

Pagi yang tak begitu cerah, matahari enggan menampakkan sinarnya. Dedaunan masih basah terguyur air hujan semalaman. Kupacu mobil menuju tempat kerja di tengah kota melewati jalan pegunungan yang diapit hutan. Kulewati jalan yang berliuk-liuk dengan jejeran pohon besar di tepian. Kembali kuingat kejadian memilukan di tempat yang baru saja kulewati. Sekelebat bayangan Mayang muncul di depanku. Tubuh ini bergetar, bulu tengkuk berdiri.  Kuinjak rem seketika mobil pun berhenti. Kulihat sisi kanan dan kiri tak ada siapa pun. Kuputar tubuhku hingga terlihat deretan mobil di belakang dengan deraian bunyi klakson, memintaku untuk menjalankan mobil.

Setibanya di kantor kulihat foto Mayang di bingkai kecil di atas meja kerjanya. Kuraih foto itu,  memandangi paras cantik dengan ceruk pipi menambah manis wajahnya yang oval. Tiba-tiba aku teringat sepatu sebelah kiri yang ditemukan tim SAR sama dengan sepatu yang dikenakan Mayang dalam foto yang kupegang. Sepatu pemberianku saat pernikahan kami. Menurut keterangan sepatu itu ditemukan di cepitan batu besar di tengah sungai. Mungkinkah Mayang hanyut terbawa arus sungai? Namun, kemana jasadnya? Entahlah. Kuletakkan foto itu lalu bergegas menuju meja kerjaku.

***

Kuikuti sosok perempuan yang mengenakan baju kurung yang menjulur panjang hingga menutupi kakinya. Perempuan yang menutupi wajahnya dengan cadar itu terdiam, lambaian tangannya mengisyaratkan kepadaku untuk mengikuti langkahnya. Aku berjalan membuntut di belakang perempuan itu.

Perjalanan panjang menyusuri hutan dan semak-semak belukar. Kutatap langit yang memerah, matahari akan kembali ke peraduan.

“Kita mau kemana?” teriakku pada perempuan itu.

Perempuan bercadar hanya bergeming dan terus melangkahkan kakinya.

“Ini sudah senja sebentar lagi petang. Aku harus pulang,” kataku di belakang perempuan itu.

Tetap saja tak ada jawaban hingga kita menemui sebuah sungai dengan batu-batu besar. Perempuan itu menyeberang sungai dengan berpijak di atas bebatuan. Aku pun  mengikutinya. Kujinjing celana panjangku  agar tak basah, sedang perempuan itu membiarkan baju panjangnya tercelup ke dalam sungai.

Kami menyusuri tepian sungai hingga tiba di balik pohon bambu besar, pohonnya berayun-ayun diterpa angin kencang. Perempuan itu menghentikan langkahnya. Ia menyibak ranting-ranting di pinggir sungai hingga tampak sebujur tubuh yang mengambang.

Aku terkejut. Posisi tubuh yang tengkurab sehingga tak menampakkan wajahnya. Perempuan itu membalikkan tubuh yang mengambang di sungai. Mayang? Benarkah itu dia. Aku mendekat. Dengan jelas kulihat wajah Mayang yang pucat. Perempuan itu mengangkat Mayang dari sungai. Kugoyang-goyangkan tubuh Mayang, sepertinya tubuhnya sudah tak bernyawa.

Berkali-kali kuteriak menyebut namanya. Namun sia-sia.

“Mayang ....” Mataku terbuka, kulihat Mbok Narti di pinggir ranjangku.

“Ada apa, Mas? maaf, Mbok masuk karena mendengar Mas Ardhi teriak-teriak manggil Mbak  Mayang. Mas Ardhi mengigau, ya?”

“Tolong ambilkan air itu, Mbok!” Aku menunjuk pada gelas di atas meja.

Kuteguk habis segelas air putih menghilangkan rasa haus yang teramat.  Setelah napas ini kembali normal aku menceritakan kejadian dalam mimpiku pada Mbok Narti, asisten rumah tangga yang sejak kecil merawatku hingga kedua orangtuaku meninggal ia tetap bekerja di rumah ini. Mbok Narti menyarankanku untuk memberitahu keluarga Mayang tentang mimpi yang entah itu petunjuk atau bukan.

Di pagi buta penuh dengan embun menutupi pandangan aku bergegas menuju rumah Mayang bermaksud membicarakan perihal mimpiku semalam. Keluarga Mayang menanggapi ini sebagai petunjuk akan keberadaan Mayang. Kembali kami meminta bantuan tim SAR untuk melakukan pencarian ulang.

Sesuai jadwal yang ditentukan oleh tim SAR, kali ini aku ikut langsung dalam pencarian menyusuri hutan dan sungai di sekitar kejadian. Hampir tiga jam pencarian, tetapi belum menemukan keberadaan Mayang.

“Kita sudah menyusuri sungai ini, Pak,” ujar seorang tim SAR.

“Kita cari lagi ya, Pak. Aku yakin pasti ada petunjuk di sini,” kataku meyakinkan.

Petugas tim SAR membabat semak-semak untuk memudahkan jalan.

“Di sini gak ada pohon bambu, ya?” tanyaku pada seorang tim SAR.

“Selama perjalanan kayaknya tidak menemukan pohon bambu,” tukasnya.

“Lihat ke sini!” teriak seorang tim berseragam warna jingga itu.

“Ada anak sungai yang mengarah ke sana, tadi tertutup semak-semak,” katanya menjelaskan.

Aku dan tim pun bergegas mengikuti aliran sungai itu, ternyata anak sungai itu melebar menuju arah yang berbeda dengan induk sungai. Kenapa kemarin tim tidak menemukan anak sungai ini? tanyaku dalam hati. Mungkin karena memang jalan masuk yang kecil dan tertutup semak-semak yang lebat.

Kita berjalan menyusuri aliran sungai cukup lama. Namun, belum juga terlihat pohon bambu seperti dalam mimpiku. Kepalaku berdenyut. Lelah dan resah merambah jiwa ragaku. Aku duduk di tepi sungai. Membujurkan kaki dan kupijit pelan menghilangkan sedikit rasa nyeri.

Aku terkejut dan berdiri setelah menemukan lembaran daun bambu kering di bawah kaki. Seperti mendapat suntikan semangat. Daun bambu ini bertanda ada pohon di sekitarnya. Kuputar tubuhku melihat semua penjuru, tetapi tak melihat pohon yang menjatuhkan daunnya di sini. Kami melanjutkan penyusuran hingga terlihat dari kejauhan pohon bambu yang besar. Sedikit berlari aku menuju pohon tersebut.

Pohon bambu itu sudah di depan mata, tempatnya persis seperti dalam mimpiku. Segera aku menyuruh tim SAR untuk memeriksa sekitaran pohon.

“Pak, disana ada mayat,” kata salah satu tim.

Deg. Hatiku berdesir. Jantungku berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Kakiku lemas sedang bibir ini membeku melihat sebujur mayat Mayang. Ingin kurengkuh tubuh Mayang. Namun, tak kuasa. Hingga petugas tim SAR memasukkan jasad Mayang ke dalam kantong mayat berwarna oranye.  Tim SAR membawa mayat Mayang menuju ke rumah. Keluarga Mayang segera menyiapkan proses pemakaman jasad putrinya.

Aku bersimpuh di kaki ayah Mayang, meminta maaf untuk kesekian kalinya atas kecelakaan yang menghilangkan nyawa Mayang. Ayah mertua mengangkat kedua bahuku sehingga kita berdiri sejajar.

“Ini sudah takdir, hilangkan rasa bersalahmu,” ucapnya sembari memeluk tubuhku, “ayo kita pergi, jenazah Mayang sudah siap untuk dimakamkan.”

Dengan langkah yang gontai kuiring jenazah menuju pemakaman. Di dalam liang kulihat Mayang untuk terakhir kali dengan balutan kain putih yang dikiat sisi atas, tengah dan bawahnya.

“Semoga kamu ditempatkan ke tempat yang lebih indah di sana, Sayang.” ujarku dalam hati bersamaan dengan liang yang sudah tertutup tanah dan sebaran bunga di atasnya.

4 komentar:

OVERDOSIS

  Di depan cermin, terlihat   perutku semakin besar. Lalu kuelus bulatan di perut ini. Penyakit yang aku takuti, mungkinkah itu terjadi. Bag...