Rabu, 08 September 2021

Secangkir Abdi untuk Mas Ardhi

 


Mengapa wanita terlalu lemah untuk memilih atau pun memilah. Rumus kehidupan yang mengatakan bahwa wanita selalu benar, menurutku justru salah. Wanita seakan tak berdaya jika harus dihadapkan dengan dua pilihan yang memberatkan. Terlebih keduanya menyangkut orang yang tersayang.

Surga seorang anak memanglah di bawah telapak kaki ibu. Namun, teori itu berubah setelah anak perempuan memulai kehidupan baru dengan pasangannya. Seperti aku yang harus membagi bakti juga pengorbananku kepada orang tua dan juga Mas Ardhi, suamiku. Meskipun aku tahu, hubungan mereka sedang tidak baik. Sungguh tak kusangka, pertemuanku dengan Mas Ardhi berawal dari secangkir kopi, akankah berakhir juga karena perihal kopi?

“Lebih baik kamu tinggalkan rumah ini saja, Sari. Pergi saja dengan suamimu yang tak tahu diri itu!”

Seumur hidupku baru kali ini bapak mengusirku dari rumah. Semarah apa pun, bapak tidak pernah melontarkan kata kasar, apalagi menyuruhku angkat kaki dari sini. Air mata ini menganak sungai membasahi pipi. Aku hanya terdiam, tak berani berucap sepatah kata pun. Kekecewaan bapak rupanya masih membeku, hingga terlontarlah kata-kata yang menyayat hatiku.

 “Aku harus bagaimana, Mas?”

Kutumpahkan perasaan resah ini kepada Mas Ardhi. Bagaimana pun juga ia penyebab bapak jadi seperti ini.

“Aku juga tak habis pikir dengan bapak. Padahal aku hanya berpendapat. Urusan mau atau tidak tetap bapak yang putuskan. Aku tak masalah.”

Bukan membuatku merasa nyaman, ia justru menguapkan kegelisahaanku.

“Sekarang kamu tinggal pilih, mau ikut aku pergi apa tetap di sini?” gertak Mas Ardhi meluluh lantakkan hati ini.

“Aku beri kamu waktu untuk berpikir. Tiga hari ke depan aku ada tugas dari kantor ke luar kota. Setelahnya kamu harus menentukan pilihan itu.”

***                                                                                                                                  

Koper Mas Ardhi sudah rapi. Semalam aku mengerjakannya, saat mata ini sulit kupejamkan. Tidurku juga tak nyenyak. Bagaimana bisa tenang, tiga hari ke depan aku harus mengambil keputusan. Bapak menunjukkan keras kepalanya yang nyaris tak pernah ia perlihatkan sebelumnya. Mas Ardhi pun sama. Membuatku semakin tersiksa dengan pilihan berat di depan mata.

Kemeja, jas, celana, serta keperluan lain yang diperlukan Mas Ardhi selama tiga hari kutata rapi di dalam koper mininya. Tak lupa berkas dan laptop yang sudah disiapkan juga kuletakkan di kantong belakang penutup koper. Semuanya sudah masuk, tinggal menutup resleting kopernya. Saat menangkupkan sisi penutup koper, sebuah amplop cokelat terjatuh ke lantai. Amplop yang sudah kumuh dan koyak itu kuletakkan di atas nakas. Berniat menanyakan pada Mas Ardhi apakah amplop itu perlu dibawa atau sudah tak diperlukan. Karena kelopak mata semakin berat, segera kurebahkan tubuhku ke atas dipan. Sekejap kesadaranku sudah sirna.

Udara pagi di lereng Merapi sungguh sejuk. Embun melebur menjadi tetesan-tetesan air yang membasahi daun. Puncak Merapi pun mulai muncul di balik awan tebal yang menyelimuti. Sayup mata memandang pohon kopi yang tersibak angin sepoi. Menyalurkan hawa segar ke hidung, turun ke keronggongan, lalu menyebar ke seluruh tubuh.

Kupetik chery Arabika berwarna merah dengan tingkat kematangan yang pas. Buah yang berwarna merah tua menunjukkan buah terlalu matang, biasanya bijinya berwarna cokelat menghasilkan kopi yang kurang enak.  Sementara buah yang masih kuning ke merahan juga siap dipetik, tetapi aku selalu pilih yang merah sempurna menghasilkan rasa kopi yang istimewa. Proses madu harus menggunakan buah yang fresh jika tak ingin kekuatan rasanya terkikis, oleh karena itu mencarinya harus pagi, agar  bisa langsung diproses siang nanti. Sejak Mas Ardhi pergi selepas shubuh tadi, aku langsung menuju ke sini. Memanen kopi sekaligus mencari ketenangan hati.

Jemariku sudah terlatih memetik chery kopi. Bapak yang mengajarkanku jika mencabut chery dari pohon harus secara vertikal agar tidak merusak batang pohon kopi. Memetik dengan cara yang benar membuat batang tersebut akan tumbuh chery kopi lagi.  Bapak juga pernah bilang memanen kopi tidak boleh dengan cara merampas buah kopinya, karena kemungkinan pohon tidak akan tumbuh buah kopi lagi.

Dua hari berturut-turut aku memanen kopi. Tak terasa besok Mas Ardhi sudah kembali dan aku harus memberikan keputusan itu. Aku tak mau meninggalkan bapak ibu juga kebun kopi ini. Tanah kelahiranku terlalu indah untuk ditinggal pergi. Namun, aku juga harus tahu diri sebagai seorang istri. Aku mendengkus kesal. Kenapa mereka berdua – bapak dan Mas Ardhi-  tidak berdamai saja. Hidup bahagia seperti semula. Warung dan kafe, dua hal yang masih menghantui pikiranku. Kedua lelaki yang kusayang mempertahankan egonya masing-masing. Sementara aku dibebani oleh pilihan yang sangat sulit kuputuskan.

Kurebahkan diri di atas dipan dengan mengibaskan kerudungku yang telah basah dengan keringat. Hari ini cukup banyak buah kopi yang kupetik, hingga matahari menamparkan teriknya ke bumi aku baru selesai mengakhiri aktivitas di kebun kopi.

Kulayangkan pandangan ke langit-langit kamar juga dinding kayu  yang masih mengkilat setelah diplitur bapak mendekati hari pernikahanku dengan Mas Ardhi beberapa bulan yang lalu. Acara sakral itu masih membekas di benakku. Rasanya baru kemarin bapak ngunduh mantu yang dihadiri orang sekampung ini. Apakah besok aku akan meninggalkan kamar ini, rumah ini, juga kampung ini?

Kualihkan pandangan ke nakas sebelah dipan dengan memiringkan tubuhku ke kanan. Mataku menangkap sebuah benda berwarna cokelat tergeletak di atas nakas. Astaga! Aku terlalu sibuk memikirkan keputusan hingga terlupa menanyakan amplop Mas Ardhi yang terjatuh kemarin malam.

Segera kutarik kaki dan tubuh ini lalu turun dari dipan. Aku mencari telepon genggam berniat menghubungi Mas Ardhi. Sementara amplop cokelat masih di genggaman, aku tak berani membukanya.

Dua kali menghubungi, belum juga tersambung. Jangan tanya kenapa, jaringan di desaku memang seperti ini. Biasanya ada, tiba-tiba kembali musna. Kuletakkan amplop di atas nakas. Aku bergegas ke luar rumah mencari jaringan agar bisa bicara dengan Mas Ardhi.

“Halo ... Halo, Halo, Mas. Bisa dengar suaraku?” Setengah teriak aku berbicara. Memastikan sambungan telepon kami sudah terhubung.

“Iya, Sari. Ada apa?” Suara Mas Ardhi terdengar, tetapi sangat lirih.

“Amplop cokelat dari koper Mas ketinggalan di rumah. Apa Mas  membutuhkan amplop itu?”

Ah, sebenarnya sia-sia juga seandainya aku mengirim amplop itu ke tempat Mas Ardhi jika memang benda itu diperlukan. Besok Mas Ardhi sudah tiba di rumah, sedangkan amplopnya mungkin masih di perjalanan. Ya sudahlah, yang penting aku tanyakan dulu pada Mas Ardhi.

“Amplop? Amplop apa, Sari?”

“Amplop di koper kamu yang jatuh ....”

Tut tut tut. Tiba-tiba panggilan terputus. Kulihat signal di gawaiku menunjukkan tanda silang. Aku menggerutu kesal. Belum selesai berbicara, sudah putus saja.

***

Aku sudah menyeduh kopi kesukaan Mas Ardhi. Sebentar lagi pasti ia akan tiba dari kota. Kukenakan baju pemberian Mas Ardhi sebulan lalu sepulang kerja dari luar kota. Baju merah jambu kupadukan dengan kerudung instan dengan tali yang kukaitkan ke belakang kepala. Riasan wajahku juga tak seperti biasanya yang hanya mengandalkan bedak. Kali ini kugoreskan gincu bernuansa merah muda.

“Ini kulakukan untukmu, Mas.” Aku bersenandung dalam hati sembari menunggunya pulang.

Pintu kamar terketuk dari luar. Yang ditunggu sudah datang.

“Sari.” Mata Mas Ardhi tak berkedip melihatku, hingga ia mengabaikan uluran tangan dariku.

Mas Ardhi mendorong pintu yang terbuka sebagian. Namun, aku segera menahannya.

“Tunggu, Mas!” kataku mendorong pintu kamar agar tidak terbuka lebar.

“Tunggu apa lagi. Aku mau istirahat di dalam.”

“Kita bicara di luar,” ucapku seraya menggandeng lengan kekarnya menuju ruang tamu.

Sepertinya bapak sudah menungguku di ruang depan. Suaranya mengobrol dengan ibu terdengar dari kamar.

“Sebaiknya Mas pergi dan tak perlu kembali.”

Mas Ardhi terdiam. Raut wajahnya tampak kebingungan.

Tak perlu kujelaskan alasan kepada Mas Ardhi. Cukup selembar kertas yang kulempar di depan mukanya sebagai jawaban dari semua. Surat yang menyatakan rencana penggusuran lahan kopi pada tahun 2010 silam dan nama bapak menjadi salah satu pemilih kebun yang akan dibebaskan lahannya.


2 komentar:

OVERDOSIS

  Di depan cermin, terlihat   perutku semakin besar. Lalu kuelus bulatan di perut ini. Penyakit yang aku takuti, mungkinkah itu terjadi. Bag...