Selasa, 07 September 2021

Nestapa Metamorfora




 Part 2 

Tak pernah kulihat sebelumnya Bapak semarah ini. Meja bundar di depan kami pun menjadi sasaran tendangan kaki bapak. Saat aku mengutarakan niatanku untuk mengambil alih kendali. Berat memang meyakinkan Bapak yang kuat pendiriannya seperti ini. Apalagi menyangkut resep turun temurun dari nenek moyang kami. Menurut Bapak perubahan itu tidak perlu. Justru ketradisionalan harus dijunjung tinggi. Aku menatap Mas Ardhi. Pemuda yang menjadi suamiku tiga bulan yang lalu ini tak berani unjuk suara. Berbanding terbalik saat bicara denganku beberapa hari yang lalu.

“Sampai kapan pun Bapak tidak akan ikuti katamu!” tohok Bapak menggunakan suara tinggi. Sementara Ibu hanya menunduk di sampingnya.

Sepetak ruangan tengah mendadak mencekam. Aku dan Mas Ardhi hanya terdiam.

“Enak saja kamu akan merebut warung kami. Memang kamu siapa?” Bapak menuding Mas Ardhi dengan jari telunjuknya dengan amarah yang belum mereda.

Mas Ardhi tetap bergeming. Ia tak mengalihkan pandangannya dari lantai.

“Maksud Mas Ardhi bukan begitu, Pak.” Aku membela Mas Ardhi yang masih tergugu di sisiku.

Tak menanggapiku, Bapak justru berlalu diikuti Ibu.

Semenjak menikah dengan Mas Ardhi, aku tetap tinggal dengan Bapak dan Ibu. Ibu tidak mengizinkan Mas Ardhi membawaku ke kota menemaninya bekerja. Ibu juga tetap memintaku meracik wedhang kopi di warungnya. Tak jadi masalah untuk kami. Mas Ardhi rela pulang pergi dari kampung ke kota setiap hari demi keutuhan keluarga baru kami.

“Kamu layak jadi seorang barista, Sari,” ucap Mas Ardhi padaku beberapa hari yang lalu.

Aku tersenyum mendengar pujian darinya. Bagiku meracik kopi sudah menjadi hobi. Memang banyak yang mengagumi wedhang kopi buatanku. Bahkan kopi buatan Ibu belum bisa menandingi  racikanku.

“Seandainya kita ubah warung Bapak menjadi kafe, bagaimana?” Pelan-pelan Mas Ardhi mengutarakannya.

Aku menolak. Mana mungkin aku berani mengubah warung Bapak menjadi coffee shop dengan peralatan canggih ala barista seperti kata Mas Ardhi? Aku tahu Bapak sulit untuk diajak kompromi.

Aku juga tak bisa membayangkan tungku besar terbuat dari tanah liat yang biasa digunakan untuk menggoreng biji kopi harus diganti dengan coffee roaster. Padahal tungku itu berusia puluhan tahun. Warna merah bata pun sudah berubah menjadi hitam pekat akibat asap dari kayu yang terbakar.

Belum lagi teko berbahan aluminium itu pun sudah hangus. Lagi-lagi terkena asap saat memasak air di pawonan. Lalu selepaan kopi yang sudah ada sebelum aku lahir. Akankah berakhir sebagai rongsokan karena tak lagi digunakan?

“Tidak, Mas. Aku tidak setuju,” tegasku pada Mas Ardhi.

Perubahan zaman sungguh kentara ke seluruh penjuru dunia. Bahkan seperti kami yang tinggal di lereng Gunung Merapi pun ikut merasakannya. Kecanggihan tidak hanya pada alat, tetapi juga pola pikir manusia.

Mas Ardhi memang seorang yang modern, mengikuti perjalanan setiap perubahan zaman. Meskipun  demikian ia bisa menerimaku apa adanya sebagai gadis desa.

“Perubahan itu perlu, Sari. Bukan untuk menindas budaya. Justru untuk mengangkat kembali pamornya.”

Aku mencermati setiap kata yang diucapkan Mas Ardhi. “Apa maksudmu, Mas?”

“Anak muda zaman sekarang lebih suka kopi instan racikan pabrik tanpa tahu asal muasal biji kopi itu sendiri. Padahal negara kita memiliki perkebunan kopi terbesar keempat di Asia. Kebun kopi yang terbentang dari Gayo sampai Wamena menghasilkan rasa yang berbeda satu dengan yang lainnya.”

Aku masih tak percaya Mas Ardhi sepaham ini mengenai kopi. Padahal sebelumnya tak pernah bercerita tentang ini. Pertemuan pertama kami memang dari secangkir kopi. Namun, siapa yang menyangka Mas Ardhi mendadak menjadi pakar kopi.

Aku bergeming. Sulit rasanya harus mengubah warung tradisional Bapak yang sudah berdiri puluhan tahun ini menjadi kafe kekinian seperti yang diminta Mas Ardhi.

“Dengan mendirikan kafe kita bisa mengangkat kopi lokal menjadi sekelas Internasional. Bukankah itu bagus untuk mensejahterakan petani kopi?” Mas Ardhi melontarkan pertanyaan kepadaku. Sementara pikiranku masih buntu.

Mas Ardhi membuka laptop menunjukkan situs online beratmosfir kopi. Ia menggeser kursor hingga ke bawah. Aku mengamati gambar-gambar dan membacanya sekilas.

“Bagaimana? Masih tidak mau berubah?”

“Aku coba bicara pada bapak, ya, Mas.”

Mas Ardhi mengangguk lalu meraih kepalaku dan merekatkan di dadanya yang bidang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

OVERDOSIS

  Di depan cermin, terlihat   perutku semakin besar. Lalu kuelus bulatan di perut ini. Penyakit yang aku takuti, mungkinkah itu terjadi. Bag...