![]() |
| sumber gambar : https://www.wallpaperbetter.com/id/hd-wallpaper-nfypt |
Aku tergugu di balik
tirai yang tersibak angin, menampakkan tetesan air yang turun dari langit. Tak
tersadar buliran bening menitik dari kedua netra membasahi pipi. Kepalaku
berdenyut memikirkan seseorang yang entah dimana keberadaannya.
Mobil yang kukendalikan
menghantam pohon besar di tengah derasnya hujan, tergelincir ke ceruk terdalam
menerjang semak-semak. Aku terpental keluar mobil setelah berusaha membuka
pintunya dan meloncat, sedangkan mobil terus bergulir ke dalam. Saat mobil
terhenti kulihat percikan api pada kap depannya hingga api membesar. Gumpalan
asap berangsur menebal, pandanganku berangsur memudar hingga aku tak mengingat
apa pun setelah itu.
Kecelakaan dua minggu
silam menyisakan duka. Sayatan di tubuh serta retakan tulang betis sebelah kiri
menyebabkanku harus menggunakan kursi roda. Namun, luka itu tak sebanding
dengan duka dalam hatiku. Mayang, istriku yang turut dalam kecelakaan itu belum
ditemukan. Tim SAR sedang melakukan penyusuran di hutan dan sungai di sekitar
kejadian. Sampai saat ini belum ada kabar baik tentang pencarian Mayang.
Menggerakkan dua roda
di kedua sisi kursi, kuarahkan menuju keluar rumah. Tampak ranting pohon
bergoyang tertiup angin kencang. Musim hujan belum juga berganti. Nyaris setiap
malam bumi dihujam deraian air langit. Sesekali diiringi petir yang
menggelegar. Tetes demi tetes air yang turun seakan membangkitkan rasa bersalah
atas kecerobohanku waktu itu. Andai saja tak kulajukan mobil dengan kencang,
mungkin musibah ini tak menimpaku juga Mayang. Ah ... kutepis perasaan yang
menghantuiku. Bukankah takdir telah tergaris sebelum kita dilahirkan? Berulang
kali aku menyitir istigfar seraya meminta kepada Sang Pencipta untuk melindungi
Mayang di mana pun ia berada.
Ponselku berdering,
tampak deretan angka tanpa nama sedang memanggil. Kutarik sebuah tombol di
layar sehingga menghubungkan suaraku dengan seseorang di balik sana.
“Selamat malam, apa
benar ini dengan Bapak Ardhian?” tanya seorang laki-laki.
“Iya, saya sendiri.”
“Saya ketua tim dalam
pencarian korban kecelakaan,” ujarnya.
“Oh iya, bagaimana,
Pak? Apakah ada perkembangan?” tanyaku antusias.
“Salah satu tim kami
menemukan sepatu sebelah kiri, sepertinya sepatu wanita. Bisakah Bapak mengirim
alamat Bapak agar kami menunjukkan kepada Bapak,” jelas orang itu.
“Baiklah, segera saya
kirim lokasinya.”
Saluran telepon
terputus, segera kubagikan lokasi kepada seseorang yang baru saja menghubungi.
Angin malam merambah ke
permukaan kulit hingga ke tulang. Kujalankan kursi roda menuju ke dalam.
Kuminta Mbok Lastri membuatkan coklat panas, minuman kesukaan untuk mendapatkan
sensasi yang menenangkan.
***
Sebulan berlalu, luka
di tubuhku telah pulih. Namun, menyisakan luka hati yang dalam. Tim SAR
menghentikan pencariannya sebelum menemukan Mayang. Kedua mertuaku pun telah
menganggap anaknya telah tiada. Mengirim doa untuk orang yang meninggal telah
dilakukan oleh keluarga Mayang. Namun, aku masih menganggap labuhan hatiku ini
masih hidup, sebelum melihat sendiri jasadnya.
Sudah cukup sebulan
cuti dari pekerjaan, saatnya aku kembali bergelut dengan tumpukan berkas
laporan. Bekerja di sebuah perusahaan bidang periklanan di mana menjadi awal
pertemuanku dengan Mayang, hingga tumbuh benih-benih cinta diantara kita hingga
ke palaminan.
Pagi yang tak begitu
cerah, matahari enggan menampakkan sinarnya. Dedaunan masih basah terguyur air
hujan semalaman. Kupacu mobil menuju tempat kerja di tengah kota melewati jalan
pegunungan yang diapit hutan. Kulewati jalan yang berliuk-liuk dengan jejeran
pohon besar di tepian. Kembali kuingat kejadian memilukan di tempat yang baru
saja kulewati. Sekelebat bayangan Mayang muncul di depanku. Tubuh ini bergetar,
bulu tengkuk berdiri. Kuinjak rem
seketika mobil pun berhenti. Kulihat sisi kanan dan kiri tak ada siapa pun.
Kuputar tubuhku hingga terlihat deretan mobil di belakang dengan deraian bunyi
klakson, memintaku untuk menjalankan mobil.
Setibanya di kantor
kulihat foto Mayang di bingkai kecil di atas meja kerjanya. Kuraih foto itu, memandangi paras cantik dengan ceruk pipi
menambah manis wajahnya yang oval. Tiba-tiba aku teringat sepatu sebelah kiri
yang ditemukan tim SAR sama dengan sepatu yang dikenakan Mayang dalam foto yang
kupegang. Sepatu pemberianku saat pernikahan kami. Menurut keterangan sepatu
itu ditemukan di cepitan batu besar di tengah sungai. Mungkinkah Mayang hanyut
terbawa arus sungai? Namun, kemana jasadnya? Entahlah. Kuletakkan foto itu lalu
bergegas menuju meja kerjaku.
***
Kuikuti sosok perempuan
yang mengenakan baju kurung yang menjulur panjang hingga menutupi kakinya. Perempuan
yang menutupi wajahnya dengan cadar itu terdiam, lambaian tangannya mengisyaratkan
kepadaku untuk mengikuti langkahnya. Aku berjalan membuntut di belakang
perempuan itu.
Perjalanan panjang
menyusuri hutan dan semak-semak belukar. Kutatap langit yang memerah, matahari
akan kembali ke peraduan.
“Kita mau kemana?”
teriakku pada perempuan itu.
Perempuan bercadar
hanya bergeming dan terus melangkahkan kakinya.
“Ini sudah senja
sebentar lagi petang. Aku harus pulang,” kataku di belakang perempuan itu.
Tetap saja tak ada
jawaban hingga kita menemui sebuah sungai dengan batu-batu besar. Perempuan itu
menyeberang sungai dengan berpijak di atas bebatuan. Aku pun mengikutinya. Kujinjing celana panjangku agar tak basah, sedang perempuan itu membiarkan
baju panjangnya tercelup ke dalam sungai.
Kami menyusuri tepian
sungai hingga tiba di balik pohon bambu besar, pohonnya berayun-ayun diterpa
angin kencang. Perempuan itu menghentikan langkahnya. Ia menyibak
ranting-ranting di pinggir sungai hingga tampak sebujur tubuh yang mengambang.
Aku terkejut. Posisi
tubuh yang tengkurab sehingga tak menampakkan wajahnya. Perempuan itu
membalikkan tubuh yang mengambang di sungai. Mayang? Benarkah itu dia. Aku
mendekat. Dengan jelas kulihat wajah Mayang yang pucat. Perempuan itu
mengangkat Mayang dari sungai. Kugoyang-goyangkan tubuh Mayang, sepertinya
tubuhnya sudah tak bernyawa.
Berkali-kali kuteriak
menyebut namanya. Namun sia-sia.
“Mayang ....” Mataku
terbuka, kulihat Mbok Narti di pinggir ranjangku.
“Ada apa, Mas? maaf,
Mbok masuk karena mendengar Mas Ardhi teriak-teriak manggil Mbak Mayang. Mas Ardhi mengigau, ya?”
“Tolong ambilkan air
itu, Mbok!” Aku menunjuk pada gelas di atas meja.
Kuteguk habis segelas
air putih menghilangkan rasa haus yang teramat.
Setelah napas ini kembali normal aku menceritakan kejadian dalam mimpiku
pada Mbok Narti, asisten rumah tangga yang sejak kecil merawatku hingga kedua
orangtuaku meninggal ia tetap bekerja di rumah ini. Mbok Narti menyarankanku
untuk memberitahu keluarga Mayang tentang mimpi yang entah itu petunjuk atau
bukan.
Di pagi buta penuh
dengan embun menutupi pandangan aku bergegas menuju rumah Mayang bermaksud
membicarakan perihal mimpiku semalam. Keluarga Mayang menanggapi ini sebagai
petunjuk akan keberadaan Mayang. Kembali kami meminta bantuan tim SAR untuk
melakukan pencarian ulang.
Sesuai jadwal yang
ditentukan oleh tim SAR, kali ini aku ikut langsung dalam pencarian menyusuri
hutan dan sungai di sekitar kejadian. Hampir tiga jam pencarian, tetapi belum
menemukan keberadaan Mayang.
“Kita sudah menyusuri
sungai ini, Pak,” ujar seorang tim SAR.
“Kita cari lagi ya,
Pak. Aku yakin pasti ada petunjuk di sini,” kataku meyakinkan.
Petugas tim SAR
membabat semak-semak untuk memudahkan jalan.
“Di sini gak ada pohon
bambu, ya?” tanyaku pada seorang tim SAR.
“Selama perjalanan
kayaknya tidak menemukan pohon bambu,” tukasnya.
“Lihat ke sini!” teriak
seorang tim berseragam warna jingga itu.
“Ada anak sungai yang
mengarah ke sana, tadi tertutup semak-semak,” katanya menjelaskan.
Aku dan tim pun
bergegas mengikuti aliran sungai itu, ternyata anak sungai itu melebar menuju
arah yang berbeda dengan induk sungai. Kenapa kemarin tim tidak menemukan anak
sungai ini? tanyaku dalam hati. Mungkin karena memang jalan masuk yang kecil
dan tertutup semak-semak yang lebat.
Kita berjalan menyusuri
aliran sungai cukup lama. Namun, belum juga terlihat pohon bambu seperti dalam
mimpiku. Kepalaku berdenyut. Lelah dan resah merambah jiwa ragaku. Aku duduk di
tepi sungai. Membujurkan kaki dan kupijit pelan menghilangkan sedikit rasa
nyeri.
Aku terkejut dan
berdiri setelah menemukan lembaran daun bambu kering di bawah kaki. Seperti
mendapat suntikan semangat. Daun bambu ini bertanda ada pohon di sekitarnya.
Kuputar tubuhku melihat semua penjuru, tetapi tak melihat pohon yang
menjatuhkan daunnya di sini. Kami melanjutkan penyusuran hingga terlihat dari
kejauhan pohon bambu yang besar. Sedikit berlari aku menuju pohon tersebut.
Pohon bambu itu sudah
di depan mata, tempatnya persis seperti dalam mimpiku. Segera aku menyuruh tim
SAR untuk memeriksa sekitaran pohon.
“Pak, disana ada
mayat,” kata salah satu tim.
Deg. Hatiku berdesir.
Jantungku berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Kakiku lemas sedang bibir ini
membeku melihat sebujur mayat Mayang. Ingin kurengkuh tubuh Mayang. Namun, tak
kuasa. Hingga petugas tim SAR memasukkan jasad Mayang ke dalam kantong mayat
berwarna oranye. Tim SAR membawa mayat
Mayang menuju ke rumah. Keluarga Mayang segera menyiapkan proses pemakaman
jasad putrinya.
Aku bersimpuh di kaki
ayah Mayang, meminta maaf untuk kesekian kalinya atas kecelakaan yang
menghilangkan nyawa Mayang. Ayah mertua mengangkat kedua bahuku sehingga kita
berdiri sejajar.
“Ini sudah takdir,
hilangkan rasa bersalahmu,” ucapnya sembari memeluk tubuhku, “ayo kita pergi,
jenazah Mayang sudah siap untuk dimakamkan.”
Dengan langkah yang
gontai kuiring jenazah menuju pemakaman. Di dalam liang kulihat Mayang untuk
terakhir kali dengan balutan kain putih yang dikiat sisi atas, tengah dan
bawahnya.
“Semoga kamu
ditempatkan ke tempat yang lebih indah di sana, Sayang.” ujarku dalam hati
bersamaan dengan liang yang sudah tertutup tanah dan sebaran bunga di atasnya.

Hiks... Kisahnya pilu sekali
BalasHapusIya, Kak
HapusSyukaaa....cerpen nya..👍👍
BalasHapusAlhamdulillah
BalasHapus