Selasa, 07 September 2021

Nestapa Metamorfora




 Part 2 

Tak pernah kulihat sebelumnya Bapak semarah ini. Meja bundar di depan kami pun menjadi sasaran tendangan kaki bapak. Saat aku mengutarakan niatanku untuk mengambil alih kendali. Berat memang meyakinkan Bapak yang kuat pendiriannya seperti ini. Apalagi menyangkut resep turun temurun dari nenek moyang kami. Menurut Bapak perubahan itu tidak perlu. Justru ketradisionalan harus dijunjung tinggi. Aku menatap Mas Ardhi. Pemuda yang menjadi suamiku tiga bulan yang lalu ini tak berani unjuk suara. Berbanding terbalik saat bicara denganku beberapa hari yang lalu.

“Sampai kapan pun Bapak tidak akan ikuti katamu!” tohok Bapak menggunakan suara tinggi. Sementara Ibu hanya menunduk di sampingnya.

Sepetak ruangan tengah mendadak mencekam. Aku dan Mas Ardhi hanya terdiam.

“Enak saja kamu akan merebut warung kami. Memang kamu siapa?” Bapak menuding Mas Ardhi dengan jari telunjuknya dengan amarah yang belum mereda.

Mas Ardhi tetap bergeming. Ia tak mengalihkan pandangannya dari lantai.

“Maksud Mas Ardhi bukan begitu, Pak.” Aku membela Mas Ardhi yang masih tergugu di sisiku.

Tak menanggapiku, Bapak justru berlalu diikuti Ibu.

Semenjak menikah dengan Mas Ardhi, aku tetap tinggal dengan Bapak dan Ibu. Ibu tidak mengizinkan Mas Ardhi membawaku ke kota menemaninya bekerja. Ibu juga tetap memintaku meracik wedhang kopi di warungnya. Tak jadi masalah untuk kami. Mas Ardhi rela pulang pergi dari kampung ke kota setiap hari demi keutuhan keluarga baru kami.

“Kamu layak jadi seorang barista, Sari,” ucap Mas Ardhi padaku beberapa hari yang lalu.

Aku tersenyum mendengar pujian darinya. Bagiku meracik kopi sudah menjadi hobi. Memang banyak yang mengagumi wedhang kopi buatanku. Bahkan kopi buatan Ibu belum bisa menandingi  racikanku.

“Seandainya kita ubah warung Bapak menjadi kafe, bagaimana?” Pelan-pelan Mas Ardhi mengutarakannya.

Aku menolak. Mana mungkin aku berani mengubah warung Bapak menjadi coffee shop dengan peralatan canggih ala barista seperti kata Mas Ardhi? Aku tahu Bapak sulit untuk diajak kompromi.

Aku juga tak bisa membayangkan tungku besar terbuat dari tanah liat yang biasa digunakan untuk menggoreng biji kopi harus diganti dengan coffee roaster. Padahal tungku itu berusia puluhan tahun. Warna merah bata pun sudah berubah menjadi hitam pekat akibat asap dari kayu yang terbakar.

Belum lagi teko berbahan aluminium itu pun sudah hangus. Lagi-lagi terkena asap saat memasak air di pawonan. Lalu selepaan kopi yang sudah ada sebelum aku lahir. Akankah berakhir sebagai rongsokan karena tak lagi digunakan?

“Tidak, Mas. Aku tidak setuju,” tegasku pada Mas Ardhi.

Perubahan zaman sungguh kentara ke seluruh penjuru dunia. Bahkan seperti kami yang tinggal di lereng Gunung Merapi pun ikut merasakannya. Kecanggihan tidak hanya pada alat, tetapi juga pola pikir manusia.

Mas Ardhi memang seorang yang modern, mengikuti perjalanan setiap perubahan zaman. Meskipun  demikian ia bisa menerimaku apa adanya sebagai gadis desa.

“Perubahan itu perlu, Sari. Bukan untuk menindas budaya. Justru untuk mengangkat kembali pamornya.”

Aku mencermati setiap kata yang diucapkan Mas Ardhi. “Apa maksudmu, Mas?”

“Anak muda zaman sekarang lebih suka kopi instan racikan pabrik tanpa tahu asal muasal biji kopi itu sendiri. Padahal negara kita memiliki perkebunan kopi terbesar keempat di Asia. Kebun kopi yang terbentang dari Gayo sampai Wamena menghasilkan rasa yang berbeda satu dengan yang lainnya.”

Aku masih tak percaya Mas Ardhi sepaham ini mengenai kopi. Padahal sebelumnya tak pernah bercerita tentang ini. Pertemuan pertama kami memang dari secangkir kopi. Namun, siapa yang menyangka Mas Ardhi mendadak menjadi pakar kopi.

Aku bergeming. Sulit rasanya harus mengubah warung tradisional Bapak yang sudah berdiri puluhan tahun ini menjadi kafe kekinian seperti yang diminta Mas Ardhi.

“Dengan mendirikan kafe kita bisa mengangkat kopi lokal menjadi sekelas Internasional. Bukankah itu bagus untuk mensejahterakan petani kopi?” Mas Ardhi melontarkan pertanyaan kepadaku. Sementara pikiranku masih buntu.

Mas Ardhi membuka laptop menunjukkan situs online beratmosfir kopi. Ia menggeser kursor hingga ke bawah. Aku mengamati gambar-gambar dan membacanya sekilas.

“Bagaimana? Masih tidak mau berubah?”

“Aku coba bicara pada bapak, ya, Mas.”

Mas Ardhi mengangguk lalu meraih kepalaku dan merekatkan di dadanya yang bidang.

Senin, 06 September 2021

Secarik Rindu dari Lembah Merapi


Ketiga kalinya pemuda itu mampir di warung ibuku. Memesan secangkir kopi arabika yang pekat dengan sedikit gula. Angkringan ini sangat sederhana, dindingnya terbuat dari anyaman bambu beratapkan daun rumbia. Di balik kesederhanaan warung ini menyimpan destinasi. Sejauh mata memandang terpampang luas hamparan hijau di lereng Gunung Merapi menambah kenikmatan menyeruput secangkir kopi. Jika beruntung, kanvas cakrawala pun menyuguhkan semburat jingga pertanda akan dimulainya hari.

“Kopi biasanya, ya, Bu!”

Kuangkat dagu melihat sosok kharismatik tengah melepas jaket kulitnya. Tanganku terus memainkan sendok di atas cangkir. Kepulan asap menghangatkan wajahku, kupalingkan pandangan dari pemuda itu.

“Njih, Mas,” teriak ibu di belakangku, mengangkat teko berisikan air mendidih, lalu menuangkan ke cangkir yang sudah terisi racikan kopi.

“Buatkan pesanan mas-mas itu, ya!” bisik ibu di dekat telingaku. Tanpa menunggu perintah pun sebenarnya meracik memang tugasku.

Aku mulai meracik kopi arabika sesuai yang diminta pemuda yang belum kuketahui namanya itu. Meskipun ini ketiga kalinya pemuda itu ngopi di warung ibu, wajahnya asing bagiku. Tak pernah kujumpai pemuda ini di kampungku atau pun di kampung sebelah. Dari penampilannya memang terlihat seperti anak kota. Lihat saja, sepatu yang dikenakan tak pernah kujumpai di pasar. Apalagi jaketnya.

“Niki, Mas, monggo!”

Secangkir kopi arabika kusuguhkan di hadapannya. Laki-laki itu sibuk memainkan gawainya. Aku masih mematung memandang sosok di depanku.

Pemuda itu mengangkat kepala, “Eh, iya, Mbak. Maaf masih sms teman saya.”

Ah, senyumannya membuat aku terpana. Kopi tanpa gula pun akan terasa manis jika diminum di depannya. Kubalas senyuman itu dengan menundukkan kepala. Aku takut jika pemuda itu mendapati pipiku yang mungkin sudah merona.

“Monggo diunjuk, mungkin mau pesan dhaharan?” tawarku kepada laki-laki yang mulai menuang kopi ke lepek bening terbuat dari kaca.

“Tidak, Mbak. Ini saja.”

Setelah mengangguk aku berpaling dari hadapannya, melanjutkan meracik pesanan dari pelanggan lainnya.

Warung ibu buka setelah shubuh sampai pukul sembilan pagi. Sejak buka selalu ramai pembeli. Kopi ibu memang beda dengan warung lainnya. Meskipun kopinya berasal dari tempat yang sama –lereng Gunung Merapi – tetapi ibu mengolahnya dengan cara yang berbeda dari penjual lainnya.

Sebagian besar petani kopi di sini menggunakan proses kering dan basah dalam pengolahan biji chery. Namun, tidak dengan ibuku. Ibu justru memilih proses madu yang memakan waktu lebih lama dibanding dua proses lainnya. Menurut ibu yang terpenting kualitas yang akan membuat pelanggan puas. Benar kata ibu, warung ibu paling diburu. Selain rasanya yang nikmat harga dibandrol sama.

“Seng penting ibu seneng,” jelas ibu saat aku memprotes soal harga yang dipatok sama di warungnya.

“Tapi untungnya, kan sedikit, Bu.”

Ibu tak menanggapi. Ia beralih pergi dengan membawa tampah berisikan chery –biji kopi.

“Mbak, tolong ke sini sebentar!”

Pemuda itu memanggilku. Aku segera menghadapnya, mungkin ia akan memesan makanan.

“Injih, Mas. Wonten nopo?”

“Ohya, Mbak namanya siapa? Aku Ardhi,” katanya seraya menjulurkan tangan kepadaku.

Aku terkejut. Kupikir pemuda ini akan memesan makanan, tak tahunya malah ngajak kenalan. Tanpa pikir panjang aku membalas uluran tangannya. Kami berjabatan.

“Puspita Sari, panggil aja Sari.”

“Sari,” ucapnya.

“Jadi gini Sari,” Ardhi mengatur duduknya menghadap tepat ke arahku, “mungkin aku akan membutuhkan beberapa orang dari kampung sini untuk membantuku membuat penelitian di perkebunan kopi.”

Penelitian? Aku masih tabu dengan arah bicara pemuda itu.

“Maksud Mas Ardhi?”

“Nanti akan saya jelaskan, boleh saya minta nomer hape kamu?”

Sebenarnya aku ragu memberi tahu nomer handphone-ku kepada pemuda yang baru kukenal ini. Setelah kupikir tak ada salahnya aku membantu dia. Entah apa yang akan dibuatnya di kampungku. Mungkin dengan memberi nomerku padanya akan membuat hubungan kami semakin dekat. Ah, bicara apa aku ini.

Aku menyerahkan secarik kertas berisikan deretan 12 digit angka, tak lupa kutorehkan namaku di bawah angka-angka tersebut.

Tak selang lama Mas Ardhi meninggalkan warung setelah membayar pesanannya. Kulihat cangkirnya telah kosong, hanya menyisakan ampas hitam di pangkal cangkir. Segera kubersihkan meja lalu membawa cangkir kosong itu ke belakang.

***

Sleman, 2015

Siapa yang menyangka setelah erupsi Gunung Merapi  lima tahun silam merubah kehidupan. Seluas 800 hektar perkebunan kopi hangus terbakar, termasuk kebun kopi milik keluargaku. Tak hanya kebun kopi Arabika, kebun Robusta pun juga mengalami hal yang sama. Tanah di kaki Gunung Merapi yang memiliki kesuburan tujuh kali dibanding tanah lainnya di Nusantara seakan tak berdaya. Padahal tanah di sini menyimpan keunikan. Kopi Arabika yang biasanya hanya bisa dibudidaya di ketinggian di atas 1000 mdpl, tetapi di lembah Merapi bisa dibudidaya Arabika di ketinggian 800-1.100 mdpl. Luar biasa.

Sejak erupsi di tahun 2010 silam, ibu menutup warungnya. Tak ada lagi produksi kopi dan memaksa sebagian penduduk kehilangan pekerjaannya.

Aku teringat Mas Ardhi. Janjinya tidak ditepati. Nomer telepon yang kuberikan mungkin sudah dibuang, karena tak ada gunanya lagi. Kebun mana yang akan dijadikan obyek penelitian, sedangkan sebagian besar telah habis terbakar. Kenapa rasa rindu menyelimuti ruang di hati? Aku menepis bayangan Mas Ardhi yang bergelayut di pikiran. Bagaimana bisa aku menaruh harapan dia akan kembali? Perlahan kutepis harapan yang tak mungkin akan terwujud ini. Semakin menghilangkan bayangannya, perih di hati semakin terasa.

Tiga tahun setelah erupsi, Reboisasi mulai digencarkan. Namun, masih seperdelapan dari luas sebelum erupsi. Produksi menurun drastis. Hanya sekitar 1-2 kwintal chery yang dihasilkan setiap tahunnya. Jauh dari angka sebelum terjadi erupsi. Seiring aktivitas kami mulai bangkit, aku bisa melupakan Mas Ardhi. Bayangan itu mulai menjauh hingga tak tersisakan.

Pagi ini bersama bapak, aku memanen kopi Arabika dari kebun. Bapak sengaja budidaya kopi jenis ini. Meskipun perawatan lebih susah, tetapi sebanding dengan harganya yang tidak murah. Apalagi bapak menggunakan proses madu untuk mengolahnya. Menambah nilai harga jual biji kopinya.

Di kampungku proses pengolahan masih menggunakan cara tradisional. Mengupas biji chery pun tidak menggunakan alat. Kulit terluar –pulp – dikupas dengan tangan di sebuah wadah yang dialiri air untuk memudahkan proses pengupasan. Lapisan kedua setelah pulp adalah mucilage. Dalam proses kering dan basah, mucilage akan ikut dikupas. Sementara pada proses madu – black honey – mucilage tidak dikupas, disertakan dalam proses pengeringan. Mucilage kaya akan kandungan gula dan acidity yang akan menembus ke dalam biji kopi saat proses pengeringan. Karena mucilage inilah proses pengeringan black honey membutuhkan waktu lebih lama.

“Cara ini sudah turun temurun dari eyangmu, Nduk,” jelas bapak kala itu saat mengajarkanku cara mengupas chery, “Bapak hanya meneruskan saja.”

Aku mengamati betul cara bapak mengolah biji chery yang dipetik dari kebun sampai menjadi biji kopi yang siap diolah menjadi wedhang kopi.

“Kalau menggunakan proses madu, biji chery harus yang fresh. Yang baru dipetik.” Bapak menjelaskan lagi sambil memilah biji chery yang bagus dan merah.

Warung ibu sudah direnovasi. Kali ini lebih modern dari sebelumnya. Berdinding batu bata dan beratapkan genting serta flavon di bawahnya. Setiap hari aku yang membantu ibu di warung. Tak diduga pelanggan kami meroket hingga dua kali lipat. Tak hanya penduduk setempat, tetapi para wisatawan turut mampir menikmati kopi Arabika dengan latar Gunung Merapi.

Semakin siang pelanggan semakin menyurut. Aku mengibaskan kipas terbuat dari anyaman bambu ke wajahku. Semilir angin menerobos menyusup ke kulit, menyejukkan. Cairan di balik kerudungku mengering. Kuletakkan kipas ini.

Meskipun tiap hari bergelut dengan aroma kopi, aku tak pernah bosan untuk menikmati kopi. Saat warung berangsur sepi, aku menyeduh kopi untuk kunikmati sendiri. Dua sendok bubuk kopi dipadukan dengan dua sendok gula adalah racikan kesukaanku. Idealnya dua sendok bubuk kopi dipadukan dengan tiga sendok gula. Aku menyukai kopi pahit. Takaran ini jugalah yang kupakai saat meracik pesanan Mas Ardhi enam tahun silam. Ah, kenapa aku teringat Mas Ardhi lagi? Aku sudah berkomitmen dengan hati ini untuk menghapus namanya dari pikiranku. Aku mendesah. Rasa rindu rupanya merayap dari secangkir kopi.

Aku bangkit dari duduk, berniat mengakhiri drama di pikiran ini. Kuangkat cangkir dan akan kubawa ke belakang. Namun, langkahku terhenti saat suara bariton itu menyebut namaku.

“Sari, kopi Arabika masih?”

Sejenak aku bergeming. Menerka suara yang tak asing di telingaku. Kupalingkan badan mengarah ke luar warung. Laki-laki berkacamata hitam berdiri di depan pintu masuk.

Laki-laki itu melepas kacamata kemudian menyunggingkan senyum di bibirnya.

“Mas Ardhi,” kataku lirih.

“Iya, Sari. Aku Ardhi, apa kabar?”

To be continue ....

 


 

Minggu, 05 September 2021

Pelik Sayembara Afrida

 


Satu-satunya wanita yang tidak mempercayai rumor di desa ini adalah aku. Bahwa Afrida adalah gadis jadi-jadian yang ditemukan Pak Kardi saat melaut mencari ikan. Ganjal memang, saat wanita berparas ayu itu pertama kali ditemukan di tengah laut dalam posisi mengambang. Tidak seperti pada umumnya, tubuh Afrida tidak menunjukkan tanda-tanda telah hanyut di lautan. Oleh Pak Kardi gadis itu dibawa pulang ke rumahnya, hingga sampai saat ini masih tinggal di kampungku.

“Dasar wanita jadi-jadian, sudah kamu apakan Mas Adi, ha?” Fatimah, temanku, dengan suara tinggi menuduh Afrida telah membuat kekasihnya, Aditya lantas memutuskan hubungan dengannya dengan alasan menemukan tambatan hati kepada wanita lain –Afrida.

Aku yang berusaha menahan aksi Fatimah menuduh Afrida yang belum tentu melakukan yang dituduhkan, hanya bisa melihat kegelisahan di raut muka Afrida. Ia menunduk tak berani menatap Fatimah.

“Aku tidak berbuat apa-apa, Mbak.” Terbata-bata Afrida mengatakan dengan suaranya yang sedikit serak.

Afrida memang menawan. Tubuhnya tinggi semampai, kulitnya putih, rambutnya menjulur hingga sepinggang. Pipinya yang tembab dengan kedua ceruk menambah manis untuk dipandang. Kabarnya lelaki di kampung ini sudah tergila-gila dengan dia, termasuk yang sudah berkeluarga.

Datangnya Afrida di kampung di daerah pesisir pantai ini seperti bencana bagi kaum hawa. Penduduk di pesisir pantai sudah terbiasa dengan badai besar yang mengakibatkan rumahnya tenggelam. Namun, Afrida lebih dahsyat bahayanya daripada badai. Apalagi tidak sedikit laki-laki yang berkeluarga mengaku tergila-gila kepada Afrida dan meninggalkan keluarganya.

Bak Aphrodite, sang Dewi Cinta dan Kecantikan dalam mitologi Yunani Kuno. Tidak hanya namanya yang sedikit menyerupai, tetapi asalnya juga. Aphrodite diyakini terlahir di dekat pantai Cythera dari buih ketika alat kelamin Dewa Uranus jatuh ke laut setelah dikebiri oleh putranya –Cronus. Sang Dewi Cinta muncul dari perairan dengan cangkang kerang, dewasa, dan telanjang.

Aku menerka-nerka. Mencoba menghilangkan pikiran burukku tentang Afrida. Ini adalah dunia nyata, bukan dongeng seperti Mitologi Yunani Kuno ratusan tahun silam.

Hatiku semakin gelisah. Saat sebagian besar laki-laki di kampung ini menggandrungi  Afrida. Bukan, aku tidak mempersalahkan persoalan Afrida yang katanya wanita jadi-jadian. Melainkan Mas Aris, kekasihku. Aku mengakhawatirkannya. Meskipun Mas Aris saat ini masih berada di Kota karena pekerjaannya di sana. Terlebih yang merawat Afrida adalah Pak Kardi, ayahnya Mas Aris. Suatu saat Mas Aris pulang kampung, bukankah dengan mudahnya ia bertemu Afrida?

Sekuatnya aku menepis pikiran kotor ini. Aku yakin Mas Aris tidak mungkin berpaling dariku karena sebentar lagi kami akan melangsungkan pernikahan. Itu artinya hubungan kami tidak akan terpisahkan.

Kegelisahan kaum hawa di kampungku dirasakan oleh Pak Kardi. Ia merasa tidak enak hati telah membawa Afrida hadir di sini. Apalagi menjadi rebutan para lelaki. Pak Kardi pun mengadakan sayembara kepada lelaki yang belum berkeluarga di kampungku untuk menjadi calon suami Afrida. Setelah Afrida menikah dengan laki-laki pilihannya, Pak Kardi berharap tidak ada lagi keresahan di kampung ini.

Sayembara pun dimulai. Para bujangan berbondong-bondong mengikuti kompetisi, tak terkecuali Adi, kekasih Fatimah. Beruntung, Mas Aris tidak sedang berada di rumah. Padahal jika berkenan, Pak Kardi bisa mengusulkan anaknya sendiri sebagai salah satu peserta sayembara dan berkesempatan menjadi pemenangnya.

Aku lega.

Di luar dugaan semua orang, Afrida bak Aphrodite tidak memilih Apollo, sebagai Dewa yang digambarkan paling sempurna bagi orang-orang Yunani. Laki-laki tampan tersisihkan. Justru pelaut cacat yang dipilihya sebagai calon suami Afrida. Meskipun demikian sayembara tidak berakhir dengan kerusuhan. Mereka menerima keputusan Afrida, meskipun banyak hati yang terluka.

Setelah menikah dengan Rama, mereka tinggal bersama Pak Kardi. Itu permintaan Afrida karena tidak mau meninggalkan Pak Kardi, ia ingin tetap merawatnya.

Rama dan Pak Kardi melaut secara bergantian. Meskipun Afrida bukan anak kandungnya, Pak Kardi sudah menganggap sebagai putrinya sendiri. Karena itu ia tidak mau Afrida tinggal sendiri di rumah. Ia ingin melihat rumah tangga Afrida baik-baik saja. Ia takut jika Afrida di rumah sendirian, laki-laki di kampung ini akan menggodanya. Siapa yang akan menjamin keamanan Afrida?

Pak Kardi membagi jadwal dengan Rama. Tiga hari untuk Rama, tiga hari juga untuk Pak Kardi, sisanya sebagai hari libur bersma. Usia yang semakin tua, membuat Pak Kardi tidak sekuat dulu. Lagi pula saat ini Mas Aris sudah bekerja. Perekonomian tidak jadi masalah utama.

Begitu juga dengan Rama. Meskipun ia masih muda, tetapi ia memiliki kekurangan pada tangan kirinya. Ia melaut selalu ditemani dengan satu orang untuk menjalankan perahunya. Dulu Rama adalah nelayan yang handal di kampung ini.  Ia mampu mendapat ikan lebih banyak daripada lainnya. Hanya Rama yang berani menyusuri laut melewati batas yang ditentukan. Oleh karenanya ia mendapat hasil tangkapan yang luar biasa. Namun, nasibnya tak selamanya beruntung. Saat melaut di tangah samudera ia diserang ikan besar yang mengakibatkan tangan kirinya terluka dan harus diamputasi.

Hari ini hari minggu. Seharusnya menjadi hari libur untuk Pak Kardi dan Rama. Namun, teman-temannya mengabari bahwa ikan sedang melimpah. Tak berpikir lama Pak Kardi pun berangkat bersama Rama. Karena tak mau Afrida sendirian di rumah, Pak Kardi memintaku menemani Afrida, hanya semalam saja.

Saat purnama adalah syurganya para nelayan. Pada saat ini ikan-ikan bermunculan ke dasar. Apalagi jika disertai angin kencang. Memang berisiko tinggi untuk melaut, tetapi untuk yang sudah terlatih tak jadi masalah.

Senja di kaki cakrawala hampir sirna. Tepi pantai masih riuh dengan aktivitas para nelayan menyiapkan kapal dan peralatan. Aku turut mengantarkan bapak yang juga akan melaut malam ini. Terlihat Afrida juga di sana. Menggandeng tangan Rama dan membawa rantang yang kutebak untuk bekal Rama dan Pak Kardi. Berbeda dengan bapak yang selalu menolak jika kubawakan bekal. Sejak ibu meninggal, bapak tak lagi membawa bekal ketika melaut. Padahal aku tidak keberatan hanya untuk membuatkannya makanan, tetapi bapak enggan.

Kulambaikan tangan untuk melepas bapak. Tidak ada rasa khawatir, karena moment seperti ini sudah menjadi makanan setiap hari bagi kami. Afrida mendekat ke arahku setelah kapal Pak Kardi melepaskan tali dan menjauh dari tepi.

“Jangan lupa temani aku, ya!” pinta Afrida saat tiba di hadapanku.

“Iya, setelah isyak, ya. Aku harus mengajari anak-anak mengaji dulu. Selepas itu aku akan ke rumahmu.”

Afrida mengangguk lalu meninggalkanku yang masih memandangi lautan lepas.

Selepas isyak aku keluar rumah. Setelah mengunci pintu aku berjalan menyusuri jalan yang gelap. Meskipun sudah ada listrik di kampungku, selepas isyak semua lampu sudah dimatikan. Beberapa rumah juga kosong, penghuninya melaut. Menggunakan senter dari telepon genggam, aku menyisir jalan, menyibak dedaunan yang lebat melintasi jalan setapak.

Pintu rumah Pak Kardi tertutup rapat. Pelita di depan rumahnya juga sudah padam. Aku mengetuk pintu yang terbuat dari triplek berwarna cokelat itu. Tak ada jawaban. Mungkin Afrida sudah terlelap.

Kudorong pintu yang terkunci. Gelap, rupanya Afrida juga mematikan lampu di dalam rumah. Masih menggunakan senter pada gawai, aku berjalan mengendap-endap mencari  sakelar.

Di tengah kesunyian dan kegelapan aku mendengar deritan dipan yang kuperkirakan berada di kamar Afrida. Aku menuju sumber suara bermaksud membangunkan Afrida dan memberitahu kalau aku sudah di sini.

Di depan kamar Afrida terdengar suara orang berbisik-bisik, sangat lirih. Kuabaikan suara itu, aku melanjutkan berjalan. Sial, gawaiku kehabisan baterai. Berbunyi kluk-kluk lalu mati. Otomatis senter pun langsung padam.

“Ida,” kupanggil Afrida berharap ia terbangun dari tidurnya.

Afrida tak menyahut, hanya terdengar dipan yang berderit kencang.

Aku menyusuri dinding kayu, mencari letak sakelar lampu.

Berjalan ke kanan dari pintu, akhirnya kutemukan sakelarnya. Segera kupetik dan seketika lampu menyala.

“Mas Aris ....”

Tubuhku lemas terkulai bersandar di dinding. “Apa yang kamu lakukan, Mas?” tanyaku diiringi gemuruh yang hebat di dada.

“Aku, aku ....” Mas Aris terlihat gugup. Sementara Afrida masih sibuk menutupi tubuhnya dengan selimut.

Aku berdiri meninggalkan dua manusia tak tahu diri. Hatiku hancur lebur. Tak perlu kudengar penjelasan dari Mas Aris atau pun Afrida. Pemandangan memalukan yang baru saja kulihat sudah menunjukkan sifat asli mereka. 


Sabtu, 04 September 2021

Konsistensi Menulis Bersama Komunitas ODOP

 


Tahukan kamu perintah pertama dalam alquran adalah iqra’ yang artinya membaca. Pada hakikatnya semua manusia perlu yang namanya membaca. Tanpa membaca, dunia seakan tak ada artinya. Bukankah bisa mengandalkan telinga? Ya, bisa saja. Namun, jika kita masih diberi kenikmatan untuk melihat, kenapa tidak dipergunakan. Bukankah dengan mengolaborasikan mata dan telinga akan jauh lebih baik?

Jika  kamu pernah menerka, dari mana sumber bacaan yang kita santap setiap hari? Tulisan yang berjejer di koran, majalah bahkan di buku pelajaran. Tulisan itu tercipta dari penulis sesuai ahlinya.

Pernahkah kamu berpikir mengapa kita harus menulis? Tidak cukupkah dengan membaca kita menguasai pengetahuan? Jika tidak, cobalah kita pikirkan alasan para penulis-penulis hebat itu menghabiskan waktu untuk berkarya. Apa mereka memikirkan cuan? Apa mereka ingin terkenal? Apa mereka ingin dihargai?  Atau adakah alasan yang melatarbelakangi lainnya?

Setiap penulis memiliki maksud dan tujuan masing-masing. Yang perlu kita tahu, dengan menulis kita turut berkontribusi dalam menciptakan sumber bacaan.  Yang perlu kita ingat, karya tulis tidak akan pernah mati, meskipun penulisnya telah mati. Karya tulis akan abadi dan terus memberikan manfaat pada dunia literasi sebagai sumber bacaan untuk menambah pengetahuan. Lantas bagaimana kita bisa memulai menulis?

Taukah kamu jika menulis itu bukan penyakit menurun, melainkan penyakit menular? Terkadang penularannya begitu masive, terkadang juga pasive. Ketika virus itu sudah menjangkiti seseorang, obatnya pun belum ditemukan. Tak ada rumah sakit yang menampung virus ini.

Ya, keterampilan menulis tidak harus bawaan lahir yang mana ditentukan oleh gen kedua orang tua. Memang ada, tetapi tidak semua. Bunda Asma Nadia melahirkan dua anak yang mana di usia mudanya, kedua anak tersebut telah melahirkan buku solo. Apakah ini kebetulan?

Salah satu faktor yang menumbuhkan sebuah keterampilan adalah lingkungan. Eva Maria Putri Salsabila dan Adam Putra Firdaus, dua anak Asma Nadia dan Isa Alamsyah, berhasil menuliskan buku solo di usia muda tak lain karena faktor lingkungan. Lingkungan yang beratmosfir literasi membuat mereka terdorong untuk menulis dan menerbitkan karya.

Bisakah tanpa pengaruh  lingkungan dan gen, kita terjangkit virus menulis? Tentu bisa. Asalkan tekad dalam diri kuat, tak menutup kemungkinan akan menjadi pendorong dan penyemangat.

Seandainya tidak memiliki gen penulis, setidaknya kita masih bisa mengandalkan lingkungan. Lingkungan akan memiliki peran untuk mempengaruhi bahkan mewajibkan kita untuk menulis. Salah satu lingkungan yang bisa menjangkiti virus menulis adalah Komunitas One Day One Post atau biasa disebut ODOP. Komunitas ini setiap tahun menjaring banyak penulis dari seluruh daerah di Indonesia. ODOP mewajibkan pesertanya untuk menulis setiap hari selama kurun waktu yang ditentukan sebelum menobatkannya sebagai anggota ODOP atau beken dengan sebutan ODOPERS. Dengan membiasakan diri menulis setiap hari tentu akan merangsang calon penulis menangkap ide dan menuliskannya dalam sebuah karya. Apakah tugas ini memberatkan? Tentu jawabannya tidak, mengingat setiap tahunnya komunitas ini berhasil menjangkiti virus menulis kepada banyak orang.

Lantas bagaimana masa depan peserta ODOP yang lolos menyelesaikan kewajiban? Jangan khawatir, Kawan!

ODOP memiliki beberapa program yang siap untuk mempraktikan keterampilan para anggotanya. Diantanya ODOP Tembus Media, ODOP Nulis Buku dan beberapa program lainnya. Dengan program yang tersebut, tidak menutup kemungkinan kita bisa menjadi penulis yang terkenal. Bersama ODOP, cita-cita yang pernah kau langitkan akan tergapai.


Jumat, 03 September 2021

Digeluti Anak-Anak Hingga Orang Dewasa, Sebenarnya Apa Manfaat Slime?


Anak dan permainan adalah satu paket yang tidak bisa dipisahkan. Permainan merupakan sarana bagi anak untuk belajar dan mengenal lingkungan. Seiring perkembangannya, permainan semakin bervariatif yang diciptakan untuk merangsang perkembangan anak.

Secara umum perkembangan anak meliputi perkembangan motorik, perkembangan emosi, perkembangan kognitif, perkembangan bahasa dan perkembangan spiritual. Perkembangan ini dapat dicapai dengan cara yang berbeda,  termasuk salah satunya dengan permainan edukatif.

Selain Pop It, Slime juga tengah naik popularitasnya. Mainan ini bebentuk seperti lendir yang diberi warna dan perasa yang berbeda-beda. Sekilas slime seperti plastisin, tetapi permainan ini memiliki tekstur yang lembek dan mudah untuk diremas.

Berbeda dengan plastisin yang memiliki bau khas, slime justru memiliki bau yang sedap. Mulai dari bau makanan ringan, buah-buahan, minuman, kue,  sabun, dan lain sebagainya. Warna slime biasanya menyesuaikan dengan perasa yang dicampurkan. Warna kuning untuk bau pisang, biru untuk bau es krim, hijau untuk bau klepon, jingga untuk makanan ringan. Beberapa slime yang dijual biasanya dilengkapi dengan miniatur rasa yang dimaksud. Benda kecil yang berbentuk seperti aslinya itu dapat menarik pembeli tentunya.

Tidak hanya itu, beberapa varian slime dibubuhi taburan foam. Pencampuran foam pada adonan slime menjadikan teksturnya menjadi lebih kesat dan memberikan kesan enak ketika diremas. Semakin banyak campuran foam, semakin enak pula memainkan slime-nya.

Uniknya mainan slime adalah bukan hanya digeluti oleh anak-anak. Remaja hingga orang dewasa pun juga suka memainkan slime. Terbukti semakin banyaknya orang yang memproduksi slime dan dijual di e-commerse – e-commerse  lokal dan penjualannya melesat signifikan.

Setiap mainan atau permainan diciptakan bukan tanpa tujuan, begitu juga dengan slime. Bagi anak-anak slime dapat merangsang perkembangan koginitifnya. Dengan slime anak bisa elajar mengenal warna, tekstur, bau tertentu, dan bentuk.

Selain itu slime juga bisa dimanfaatkan sebagai sarana untuk menyalurkan emosi pada anak. Ketika bermain, bisa saja anak merasa senang atau pun kesal. Nah, sebagai orang tua sebaiknya memberi pengertian kepada anak untuk mengontrol emosi dengan membiasakan sikap sabar.

Slime juga bisa dimanfaatkan sebagai penghilang rasa bosan setelah melakukan kegiatan belajar. Mengembalikan aura negatif pada otak  sehingga anak kembali fresh setelah memainkan slime.  Perkembangan motorik anak juga terangsang ketika meremas slime.

Jika dengan slime dapat merangsang indikator perkembangan pada anak, adakah manfaatnya bagi orang dewasa?

Tentunya ada. Efek lelah dan penat dapat direlaksasikan dengan meremas-remas slime dan menghirup aromanya. Gerakan jari ketika meremas dapat melancarkan peredaran darah yang bisa membuat kita rileks dan mengembalikan fokus pada otak.

Nah, sudahkan Anda mencoba memainkan slime, jika belum coba, deh! 

 

Kamis, 02 September 2021

Orientasi ODOP, Mengenal Sejarah, Program Serta Kepengurusan Hingga Generasi Kelima



Halo! Bulan September ini saya mulai bergabung pada sebuah komunitas menulis yang pesertanya berasal dari wilayah Indonesia bahkan ada yang berdomisili di luar Nusantara. One Day One Post atau biasa disebut dengan ODOP merupakan sebuah komunitas yang mewajibkan pesertanya untuk menulis di blog setiap hari.

Sebenarnya nama komunitas yang  memasuki batch kesembilan ini sudah lama saya dengar, tentunya dari teman-teman literasi dari lintas komunitas. Bahkan tahun lalu tepatnya di batch kedelapan, saya pernah menjadi narasumber dengan materi Trik Menulis Artikel untuk Media. Namun, tahun ini saya harus berjuang sebagai peserta ODOP batch 9 sampai nanti kelulusan.

Di awal berdirinya ODOP yaitu pada tahun 2015 proses perekrutan anggota ini berlangsung selama tiga bulan. Namun, pada batch 9 ini hanya berlangsung selama empat puluh hari. Hal ini diterangkan oleh pemateri pada Masa Orientasi ODOP yaitu Heru Sang Amurwabumi pada Rabu, 1 September 2021 di WAG ODOP.

Bang Syaiha yang merupakan founder ODOP sekaligus sebagai pengasuh di sekolah sosial Rumah Muda Indonesia, dulunya adalah kontributor di Kompasiana. Karena suatu hal tertentu, Bang Syaiha memutuskan untuk beralih menulis di blog. Traffic dan followers yang pasif adalah kendala saat menulis di blog pribadi. Dari sanalah muncul sebuah gagasan untuk mengumpulkan sekelompok orang yang memiliki visi dan misi senada. Di tahun 2015 pra ODOP membuka pendaftaran anggota angkatan pertama. Tak disangka, sekitar seratus lima puluh orang tergabung yang kemudian dibimbing dan diberi pembekalan materi dasar kepenulisan.

Untuk mengarahkan program-program selanjutnya, pada tahun 2017 dibentuklah kepengurusan ODOP generasi pertama, dan yang terpilih menjadi ketua ODOP saat itu adalah Heru Sang Amurwabumi.

Selanjutnya tonggak kepengurusan ODOP beralih dari masa ke masa. M. S  Wijaya sebagai ketua generasi kedua, Wakhid Syamsudin sebagai ketua enerasi ketiga, Sakifah sebagai ketua generasi keempat dan M. Zen sebagai ketua generasi kelima.

Adapaun visi yang melatarbelakangi berdirinya Komunitas ODOP yaitu menjadi komunitas penulis terbesar (dalam prestasi ) di Indonesia. Dengan misi menumbuhkan minat baca tulis, sebagai salah satu sumbangsih kepada dunia literasi tanah air, mencetak penulis ideal tanpa mengedepankan unsur materi/bisnis dalam proses belajar.

Nah, jika saya nanti bertahan sampai kelulusan, maka saya berhak mengikuti program-program yang diselenggarakan oleh komunitas ODOP, diantaranya adalah :

  1. ODOP TEMBUS MEDIA (OTM)

Di program ini anggota ODOP akan dibimbing menulis dan mengirimkan karya ke media cetak dan online. Wakhid Syamsudin adalah penanggungjawab atas program ini.

  1. SQUAD BLOGGER ODOP (SBO)

Program ini merupakan bimbingan untuk membuat, menulis, dan mengoptimalkan blog. Jihan Mawaddah merupakan penanggungjawab di program tersebut.

  1. ODOP NULIS BUKU (ONB)

Program ini semacam bimbingan kepada anggota ODOP untuk menulis hingga menerbitkan buku. Sakifal I. adalah penanggung jawab di program ini.

  1. READING CHALLENGE ODOP (RCO)

Program di mana akan menantang anggota ODOP untuk meningkatkan daya baca buku. Sebagai penanggungjawab adalah Pebri Ika.

Ada hal unik pada komunitas ini yang mungkin tidak dimiliki komunitas lainnya yaitu memiliki jingle  yang diciptakan oleh Mas Urip Widodo yang merupakan anggota ODOP batch 2 dengan aransemen sekaligus divokali oleh Bulik Heni S. Yang juga merupakan anggota ODOP batch 2.

Tidak hanya itu, meskipun anggota ODOP tersebar di seluruh wilayah Indonesia, komunitas ini mengadakan Musyawarah Nasional yang artinya para anggota bisa bertatap muka dengan anggota yang lainnya. Namun, karena adanya pandemi Munas belum terselenggaran lagi.

Bagi saya ODOP merupakan sarana untuk melatih konsistensi menulis. Yang pada hakikatnya menulis bukanlah bakat dari lahir, melainkan keterampilan. Dan keterampilan itu akan berkembang jika sering dilatih.


Rabu, 01 September 2021

Berawal dari Membaca, Tumbuh Hasrat untuk Menulis


Membaca dan menulis pada hakikatnya merupakan satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan. Seperti halnya makan dan minum sebagai sumber energi pada tubuh, begitu juga dengan membaca dan menulis sebagai sarana meluapkan perasaan.

Membaca sendiri telah diyakini sebagai jendela dunia. Dengan membaca akan memperkaya ilmu dan pengetahuan  seseorang. Meskipun pada kenyataannya minat baca warga Indonesia tergolong  sangat rendah. Menurut data UNESCO  menunjukkan hanya 0,001%. Dikutip dari Kominfo berdasarkan riset bertajuk Wordl’s Most Literate Nations Ranked yang dilakukan oleh Central Connecticut State University menyatakan bahwa Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat baca.

Bagaimana seorang penulis mampu menguraikan aksara pada karya-karyanya? Tentu jawabannya adalah dengan membaca. Riset adalah kekuatan penulis untuk menciptakan karya yang istimewa. Selain dengan membaca, riset juga  bisa dilakukan dengan mengamati hal-hal yang ada di sekitar kita.

Membaca juga bisa memantik emosi seseorang untuk mengungkapkan kembali apa yang telah dibaca. Membaca sebagai terapi sekaligus refleksi yang mampu mencairkan otak seseorang. Sayangnya kesadaran membaca belum dimiliki bagi sebagian besar warga Indonesia.

Awal saya menulis, adalah ketika membaca karya penulis terkenal di Indonesia. Beberapa bukunya saya koleksi karena memang suka pada sosok tersebut. Dari sana saya berpikir bahwa dengan menulis, seseorang bisa dikenal bahkan dikenang setelah ia tiada. Saat itu saya memberanikan diri menulis lalu mengunggahnya di sebuah komunitas di media sosial. Apa yang saya dapat?

Tulisan perdana saya jauh dari kata layak. Penggunaan tanda baca, penerapan huruf kapital, juga dialog tag semuanya amburadul. Rupanya menulis tidak semudah yang terbayangkan. Alur cerita dan konflik yang terlalu datar. Kesalahan dalam tulisan saya saat itu mendapat kritikan dari seseakun di komunitas tersebut. Dari sanalah saya mulai memperbaiki tulisan.

Lantas apakah dengan hanya membaca saya bisa menulis?

Jawabannya tidak. Memang membaca menumbuhkan hasrat saya untuk menulis, tetapi ternyata hanya dengan membaca saya tidak bisa menulis yang sesuai dengan kaidah kepenulisan.

Apa yang harus dilakukan?

Mengamati adalah hal lazim yang dilakukan oleh calon penulis. Dengan mengamati karya yang sudah teruji saya memulai berpertualang di dunia aksara. Hal lain yang saya lakukan adalah terus membaca referensi tulisan fiksi maupun nonfiksi.

Dari proses mengamati itulah, saya mulai bisa memperbaiki tulisan. Tahap demi tahap hingga sekarang pun saya masih pada tahap belajar. Salah satunya dengan mengikuti komunitas-komunitas menulis untuk membangun atmotfer literasi pada diri ini. 

OVERDOSIS

  Di depan cermin, terlihat   perutku semakin besar. Lalu kuelus bulatan di perut ini. Penyakit yang aku takuti, mungkinkah itu terjadi. Bag...