Kamis, 02 September 2021

Orientasi ODOP, Mengenal Sejarah, Program Serta Kepengurusan Hingga Generasi Kelima



Halo! Bulan September ini saya mulai bergabung pada sebuah komunitas menulis yang pesertanya berasal dari wilayah Indonesia bahkan ada yang berdomisili di luar Nusantara. One Day One Post atau biasa disebut dengan ODOP merupakan sebuah komunitas yang mewajibkan pesertanya untuk menulis di blog setiap hari.

Sebenarnya nama komunitas yang  memasuki batch kesembilan ini sudah lama saya dengar, tentunya dari teman-teman literasi dari lintas komunitas. Bahkan tahun lalu tepatnya di batch kedelapan, saya pernah menjadi narasumber dengan materi Trik Menulis Artikel untuk Media. Namun, tahun ini saya harus berjuang sebagai peserta ODOP batch 9 sampai nanti kelulusan.

Di awal berdirinya ODOP yaitu pada tahun 2015 proses perekrutan anggota ini berlangsung selama tiga bulan. Namun, pada batch 9 ini hanya berlangsung selama empat puluh hari. Hal ini diterangkan oleh pemateri pada Masa Orientasi ODOP yaitu Heru Sang Amurwabumi pada Rabu, 1 September 2021 di WAG ODOP.

Bang Syaiha yang merupakan founder ODOP sekaligus sebagai pengasuh di sekolah sosial Rumah Muda Indonesia, dulunya adalah kontributor di Kompasiana. Karena suatu hal tertentu, Bang Syaiha memutuskan untuk beralih menulis di blog. Traffic dan followers yang pasif adalah kendala saat menulis di blog pribadi. Dari sanalah muncul sebuah gagasan untuk mengumpulkan sekelompok orang yang memiliki visi dan misi senada. Di tahun 2015 pra ODOP membuka pendaftaran anggota angkatan pertama. Tak disangka, sekitar seratus lima puluh orang tergabung yang kemudian dibimbing dan diberi pembekalan materi dasar kepenulisan.

Untuk mengarahkan program-program selanjutnya, pada tahun 2017 dibentuklah kepengurusan ODOP generasi pertama, dan yang terpilih menjadi ketua ODOP saat itu adalah Heru Sang Amurwabumi.

Selanjutnya tonggak kepengurusan ODOP beralih dari masa ke masa. M. S  Wijaya sebagai ketua generasi kedua, Wakhid Syamsudin sebagai ketua enerasi ketiga, Sakifah sebagai ketua generasi keempat dan M. Zen sebagai ketua generasi kelima.

Adapaun visi yang melatarbelakangi berdirinya Komunitas ODOP yaitu menjadi komunitas penulis terbesar (dalam prestasi ) di Indonesia. Dengan misi menumbuhkan minat baca tulis, sebagai salah satu sumbangsih kepada dunia literasi tanah air, mencetak penulis ideal tanpa mengedepankan unsur materi/bisnis dalam proses belajar.

Nah, jika saya nanti bertahan sampai kelulusan, maka saya berhak mengikuti program-program yang diselenggarakan oleh komunitas ODOP, diantaranya adalah :

  1. ODOP TEMBUS MEDIA (OTM)

Di program ini anggota ODOP akan dibimbing menulis dan mengirimkan karya ke media cetak dan online. Wakhid Syamsudin adalah penanggungjawab atas program ini.

  1. SQUAD BLOGGER ODOP (SBO)

Program ini merupakan bimbingan untuk membuat, menulis, dan mengoptimalkan blog. Jihan Mawaddah merupakan penanggungjawab di program tersebut.

  1. ODOP NULIS BUKU (ONB)

Program ini semacam bimbingan kepada anggota ODOP untuk menulis hingga menerbitkan buku. Sakifal I. adalah penanggung jawab di program ini.

  1. READING CHALLENGE ODOP (RCO)

Program di mana akan menantang anggota ODOP untuk meningkatkan daya baca buku. Sebagai penanggungjawab adalah Pebri Ika.

Ada hal unik pada komunitas ini yang mungkin tidak dimiliki komunitas lainnya yaitu memiliki jingle  yang diciptakan oleh Mas Urip Widodo yang merupakan anggota ODOP batch 2 dengan aransemen sekaligus divokali oleh Bulik Heni S. Yang juga merupakan anggota ODOP batch 2.

Tidak hanya itu, meskipun anggota ODOP tersebar di seluruh wilayah Indonesia, komunitas ini mengadakan Musyawarah Nasional yang artinya para anggota bisa bertatap muka dengan anggota yang lainnya. Namun, karena adanya pandemi Munas belum terselenggaran lagi.

Bagi saya ODOP merupakan sarana untuk melatih konsistensi menulis. Yang pada hakikatnya menulis bukanlah bakat dari lahir, melainkan keterampilan. Dan keterampilan itu akan berkembang jika sering dilatih.


4 komentar:

OVERDOSIS

  Di depan cermin, terlihat   perutku semakin besar. Lalu kuelus bulatan di perut ini. Penyakit yang aku takuti, mungkinkah itu terjadi. Bag...