Sabtu, 04 September 2021

Konsistensi Menulis Bersama Komunitas ODOP

 


Tahukan kamu perintah pertama dalam alquran adalah iqra’ yang artinya membaca. Pada hakikatnya semua manusia perlu yang namanya membaca. Tanpa membaca, dunia seakan tak ada artinya. Bukankah bisa mengandalkan telinga? Ya, bisa saja. Namun, jika kita masih diberi kenikmatan untuk melihat, kenapa tidak dipergunakan. Bukankah dengan mengolaborasikan mata dan telinga akan jauh lebih baik?

Jika  kamu pernah menerka, dari mana sumber bacaan yang kita santap setiap hari? Tulisan yang berjejer di koran, majalah bahkan di buku pelajaran. Tulisan itu tercipta dari penulis sesuai ahlinya.

Pernahkah kamu berpikir mengapa kita harus menulis? Tidak cukupkah dengan membaca kita menguasai pengetahuan? Jika tidak, cobalah kita pikirkan alasan para penulis-penulis hebat itu menghabiskan waktu untuk berkarya. Apa mereka memikirkan cuan? Apa mereka ingin terkenal? Apa mereka ingin dihargai?  Atau adakah alasan yang melatarbelakangi lainnya?

Setiap penulis memiliki maksud dan tujuan masing-masing. Yang perlu kita tahu, dengan menulis kita turut berkontribusi dalam menciptakan sumber bacaan.  Yang perlu kita ingat, karya tulis tidak akan pernah mati, meskipun penulisnya telah mati. Karya tulis akan abadi dan terus memberikan manfaat pada dunia literasi sebagai sumber bacaan untuk menambah pengetahuan. Lantas bagaimana kita bisa memulai menulis?

Taukah kamu jika menulis itu bukan penyakit menurun, melainkan penyakit menular? Terkadang penularannya begitu masive, terkadang juga pasive. Ketika virus itu sudah menjangkiti seseorang, obatnya pun belum ditemukan. Tak ada rumah sakit yang menampung virus ini.

Ya, keterampilan menulis tidak harus bawaan lahir yang mana ditentukan oleh gen kedua orang tua. Memang ada, tetapi tidak semua. Bunda Asma Nadia melahirkan dua anak yang mana di usia mudanya, kedua anak tersebut telah melahirkan buku solo. Apakah ini kebetulan?

Salah satu faktor yang menumbuhkan sebuah keterampilan adalah lingkungan. Eva Maria Putri Salsabila dan Adam Putra Firdaus, dua anak Asma Nadia dan Isa Alamsyah, berhasil menuliskan buku solo di usia muda tak lain karena faktor lingkungan. Lingkungan yang beratmosfir literasi membuat mereka terdorong untuk menulis dan menerbitkan karya.

Bisakah tanpa pengaruh  lingkungan dan gen, kita terjangkit virus menulis? Tentu bisa. Asalkan tekad dalam diri kuat, tak menutup kemungkinan akan menjadi pendorong dan penyemangat.

Seandainya tidak memiliki gen penulis, setidaknya kita masih bisa mengandalkan lingkungan. Lingkungan akan memiliki peran untuk mempengaruhi bahkan mewajibkan kita untuk menulis. Salah satu lingkungan yang bisa menjangkiti virus menulis adalah Komunitas One Day One Post atau biasa disebut ODOP. Komunitas ini setiap tahun menjaring banyak penulis dari seluruh daerah di Indonesia. ODOP mewajibkan pesertanya untuk menulis setiap hari selama kurun waktu yang ditentukan sebelum menobatkannya sebagai anggota ODOP atau beken dengan sebutan ODOPERS. Dengan membiasakan diri menulis setiap hari tentu akan merangsang calon penulis menangkap ide dan menuliskannya dalam sebuah karya. Apakah tugas ini memberatkan? Tentu jawabannya tidak, mengingat setiap tahunnya komunitas ini berhasil menjangkiti virus menulis kepada banyak orang.

Lantas bagaimana masa depan peserta ODOP yang lolos menyelesaikan kewajiban? Jangan khawatir, Kawan!

ODOP memiliki beberapa program yang siap untuk mempraktikan keterampilan para anggotanya. Diantanya ODOP Tembus Media, ODOP Nulis Buku dan beberapa program lainnya. Dengan program yang tersebut, tidak menutup kemungkinan kita bisa menjadi penulis yang terkenal. Bersama ODOP, cita-cita yang pernah kau langitkan akan tergapai.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

OVERDOSIS

  Di depan cermin, terlihat   perutku semakin besar. Lalu kuelus bulatan di perut ini. Penyakit yang aku takuti, mungkinkah itu terjadi. Bag...