Tahukan kamu perintah
pertama dalam alquran adalah iqra’
yang artinya membaca. Pada hakikatnya semua manusia perlu yang namanya membaca.
Tanpa membaca, dunia seakan tak ada artinya. Bukankah bisa mengandalkan
telinga? Ya, bisa saja. Namun, jika kita masih diberi kenikmatan untuk melihat,
kenapa tidak dipergunakan. Bukankah dengan mengolaborasikan mata dan telinga
akan jauh lebih baik?
Jika kamu pernah menerka, dari mana sumber bacaan
yang kita santap setiap hari? Tulisan yang berjejer di koran, majalah bahkan di
buku pelajaran. Tulisan itu tercipta dari penulis sesuai ahlinya.
Pernahkah kamu berpikir
mengapa kita harus menulis? Tidak cukupkah dengan membaca kita menguasai
pengetahuan? Jika tidak, cobalah kita pikirkan alasan para penulis-penulis hebat itu menghabiskan waktu untuk
berkarya. Apa mereka memikirkan cuan? Apa mereka ingin terkenal? Apa mereka
ingin dihargai? Atau adakah alasan yang
melatarbelakangi lainnya?
Setiap penulis memiliki
maksud dan tujuan masing-masing. Yang perlu kita tahu, dengan menulis kita turut
berkontribusi dalam menciptakan sumber bacaan.
Yang perlu kita ingat, karya tulis tidak akan pernah mati, meskipun
penulisnya telah mati. Karya tulis akan abadi dan terus memberikan manfaat pada
dunia literasi sebagai sumber bacaan untuk menambah pengetahuan. Lantas
bagaimana kita bisa memulai menulis?
Taukah kamu jika
menulis itu bukan penyakit menurun, melainkan penyakit menular? Terkadang
penularannya begitu masive, terkadang
juga pasive. Ketika virus itu sudah
menjangkiti seseorang, obatnya pun belum ditemukan. Tak ada rumah sakit yang
menampung virus ini.
Ya, keterampilan menulis
tidak harus bawaan lahir yang mana ditentukan oleh gen kedua orang tua. Memang ada,
tetapi tidak semua. Bunda Asma Nadia melahirkan dua anak yang mana di usia
mudanya, kedua anak tersebut telah melahirkan buku solo. Apakah ini kebetulan?
Salah satu faktor yang
menumbuhkan sebuah keterampilan adalah lingkungan. Eva Maria Putri Salsabila
dan Adam Putra Firdaus, dua anak Asma Nadia dan Isa Alamsyah, berhasil
menuliskan buku solo di usia muda tak lain karena faktor lingkungan. Lingkungan
yang beratmosfir literasi membuat mereka terdorong untuk menulis dan
menerbitkan karya.
Bisakah tanpa pengaruh lingkungan dan gen, kita terjangkit virus
menulis? Tentu bisa. Asalkan tekad dalam diri kuat, tak menutup kemungkinan
akan menjadi pendorong dan penyemangat.
Seandainya tidak
memiliki gen penulis, setidaknya kita masih bisa mengandalkan lingkungan. Lingkungan
akan memiliki peran untuk mempengaruhi bahkan mewajibkan kita untuk menulis. Salah
satu lingkungan yang bisa menjangkiti virus menulis adalah Komunitas One Day One Post atau biasa disebut ODOP. Komunitas ini
setiap tahun menjaring banyak penulis dari seluruh daerah di Indonesia. ODOP
mewajibkan pesertanya untuk menulis setiap hari selama kurun waktu yang
ditentukan sebelum menobatkannya sebagai anggota ODOP atau beken dengan sebutan
ODOPERS. Dengan membiasakan diri menulis setiap hari tentu akan merangsang
calon penulis menangkap ide dan menuliskannya dalam sebuah karya. Apakah tugas
ini memberatkan? Tentu jawabannya tidak, mengingat setiap tahunnya komunitas
ini berhasil menjangkiti virus menulis kepada banyak orang.
Lantas bagaimana masa depan peserta ODOP yang lolos menyelesaikan
kewajiban? Jangan khawatir, Kawan!
ODOP memiliki beberapa program
yang siap untuk mempraktikan keterampilan para anggotanya. Diantanya ODOP
Tembus Media, ODOP Nulis Buku dan beberapa program lainnya. Dengan program yang
tersebut, tidak menutup kemungkinan kita bisa menjadi penulis yang terkenal. Bersama
ODOP, cita-cita yang pernah kau langitkan akan tergapai.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar