Minggu, 05 September 2021

Pelik Sayembara Afrida

 


Satu-satunya wanita yang tidak mempercayai rumor di desa ini adalah aku. Bahwa Afrida adalah gadis jadi-jadian yang ditemukan Pak Kardi saat melaut mencari ikan. Ganjal memang, saat wanita berparas ayu itu pertama kali ditemukan di tengah laut dalam posisi mengambang. Tidak seperti pada umumnya, tubuh Afrida tidak menunjukkan tanda-tanda telah hanyut di lautan. Oleh Pak Kardi gadis itu dibawa pulang ke rumahnya, hingga sampai saat ini masih tinggal di kampungku.

“Dasar wanita jadi-jadian, sudah kamu apakan Mas Adi, ha?” Fatimah, temanku, dengan suara tinggi menuduh Afrida telah membuat kekasihnya, Aditya lantas memutuskan hubungan dengannya dengan alasan menemukan tambatan hati kepada wanita lain –Afrida.

Aku yang berusaha menahan aksi Fatimah menuduh Afrida yang belum tentu melakukan yang dituduhkan, hanya bisa melihat kegelisahan di raut muka Afrida. Ia menunduk tak berani menatap Fatimah.

“Aku tidak berbuat apa-apa, Mbak.” Terbata-bata Afrida mengatakan dengan suaranya yang sedikit serak.

Afrida memang menawan. Tubuhnya tinggi semampai, kulitnya putih, rambutnya menjulur hingga sepinggang. Pipinya yang tembab dengan kedua ceruk menambah manis untuk dipandang. Kabarnya lelaki di kampung ini sudah tergila-gila dengan dia, termasuk yang sudah berkeluarga.

Datangnya Afrida di kampung di daerah pesisir pantai ini seperti bencana bagi kaum hawa. Penduduk di pesisir pantai sudah terbiasa dengan badai besar yang mengakibatkan rumahnya tenggelam. Namun, Afrida lebih dahsyat bahayanya daripada badai. Apalagi tidak sedikit laki-laki yang berkeluarga mengaku tergila-gila kepada Afrida dan meninggalkan keluarganya.

Bak Aphrodite, sang Dewi Cinta dan Kecantikan dalam mitologi Yunani Kuno. Tidak hanya namanya yang sedikit menyerupai, tetapi asalnya juga. Aphrodite diyakini terlahir di dekat pantai Cythera dari buih ketika alat kelamin Dewa Uranus jatuh ke laut setelah dikebiri oleh putranya –Cronus. Sang Dewi Cinta muncul dari perairan dengan cangkang kerang, dewasa, dan telanjang.

Aku menerka-nerka. Mencoba menghilangkan pikiran burukku tentang Afrida. Ini adalah dunia nyata, bukan dongeng seperti Mitologi Yunani Kuno ratusan tahun silam.

Hatiku semakin gelisah. Saat sebagian besar laki-laki di kampung ini menggandrungi  Afrida. Bukan, aku tidak mempersalahkan persoalan Afrida yang katanya wanita jadi-jadian. Melainkan Mas Aris, kekasihku. Aku mengakhawatirkannya. Meskipun Mas Aris saat ini masih berada di Kota karena pekerjaannya di sana. Terlebih yang merawat Afrida adalah Pak Kardi, ayahnya Mas Aris. Suatu saat Mas Aris pulang kampung, bukankah dengan mudahnya ia bertemu Afrida?

Sekuatnya aku menepis pikiran kotor ini. Aku yakin Mas Aris tidak mungkin berpaling dariku karena sebentar lagi kami akan melangsungkan pernikahan. Itu artinya hubungan kami tidak akan terpisahkan.

Kegelisahan kaum hawa di kampungku dirasakan oleh Pak Kardi. Ia merasa tidak enak hati telah membawa Afrida hadir di sini. Apalagi menjadi rebutan para lelaki. Pak Kardi pun mengadakan sayembara kepada lelaki yang belum berkeluarga di kampungku untuk menjadi calon suami Afrida. Setelah Afrida menikah dengan laki-laki pilihannya, Pak Kardi berharap tidak ada lagi keresahan di kampung ini.

Sayembara pun dimulai. Para bujangan berbondong-bondong mengikuti kompetisi, tak terkecuali Adi, kekasih Fatimah. Beruntung, Mas Aris tidak sedang berada di rumah. Padahal jika berkenan, Pak Kardi bisa mengusulkan anaknya sendiri sebagai salah satu peserta sayembara dan berkesempatan menjadi pemenangnya.

Aku lega.

Di luar dugaan semua orang, Afrida bak Aphrodite tidak memilih Apollo, sebagai Dewa yang digambarkan paling sempurna bagi orang-orang Yunani. Laki-laki tampan tersisihkan. Justru pelaut cacat yang dipilihya sebagai calon suami Afrida. Meskipun demikian sayembara tidak berakhir dengan kerusuhan. Mereka menerima keputusan Afrida, meskipun banyak hati yang terluka.

Setelah menikah dengan Rama, mereka tinggal bersama Pak Kardi. Itu permintaan Afrida karena tidak mau meninggalkan Pak Kardi, ia ingin tetap merawatnya.

Rama dan Pak Kardi melaut secara bergantian. Meskipun Afrida bukan anak kandungnya, Pak Kardi sudah menganggap sebagai putrinya sendiri. Karena itu ia tidak mau Afrida tinggal sendiri di rumah. Ia ingin melihat rumah tangga Afrida baik-baik saja. Ia takut jika Afrida di rumah sendirian, laki-laki di kampung ini akan menggodanya. Siapa yang akan menjamin keamanan Afrida?

Pak Kardi membagi jadwal dengan Rama. Tiga hari untuk Rama, tiga hari juga untuk Pak Kardi, sisanya sebagai hari libur bersma. Usia yang semakin tua, membuat Pak Kardi tidak sekuat dulu. Lagi pula saat ini Mas Aris sudah bekerja. Perekonomian tidak jadi masalah utama.

Begitu juga dengan Rama. Meskipun ia masih muda, tetapi ia memiliki kekurangan pada tangan kirinya. Ia melaut selalu ditemani dengan satu orang untuk menjalankan perahunya. Dulu Rama adalah nelayan yang handal di kampung ini.  Ia mampu mendapat ikan lebih banyak daripada lainnya. Hanya Rama yang berani menyusuri laut melewati batas yang ditentukan. Oleh karenanya ia mendapat hasil tangkapan yang luar biasa. Namun, nasibnya tak selamanya beruntung. Saat melaut di tangah samudera ia diserang ikan besar yang mengakibatkan tangan kirinya terluka dan harus diamputasi.

Hari ini hari minggu. Seharusnya menjadi hari libur untuk Pak Kardi dan Rama. Namun, teman-temannya mengabari bahwa ikan sedang melimpah. Tak berpikir lama Pak Kardi pun berangkat bersama Rama. Karena tak mau Afrida sendirian di rumah, Pak Kardi memintaku menemani Afrida, hanya semalam saja.

Saat purnama adalah syurganya para nelayan. Pada saat ini ikan-ikan bermunculan ke dasar. Apalagi jika disertai angin kencang. Memang berisiko tinggi untuk melaut, tetapi untuk yang sudah terlatih tak jadi masalah.

Senja di kaki cakrawala hampir sirna. Tepi pantai masih riuh dengan aktivitas para nelayan menyiapkan kapal dan peralatan. Aku turut mengantarkan bapak yang juga akan melaut malam ini. Terlihat Afrida juga di sana. Menggandeng tangan Rama dan membawa rantang yang kutebak untuk bekal Rama dan Pak Kardi. Berbeda dengan bapak yang selalu menolak jika kubawakan bekal. Sejak ibu meninggal, bapak tak lagi membawa bekal ketika melaut. Padahal aku tidak keberatan hanya untuk membuatkannya makanan, tetapi bapak enggan.

Kulambaikan tangan untuk melepas bapak. Tidak ada rasa khawatir, karena moment seperti ini sudah menjadi makanan setiap hari bagi kami. Afrida mendekat ke arahku setelah kapal Pak Kardi melepaskan tali dan menjauh dari tepi.

“Jangan lupa temani aku, ya!” pinta Afrida saat tiba di hadapanku.

“Iya, setelah isyak, ya. Aku harus mengajari anak-anak mengaji dulu. Selepas itu aku akan ke rumahmu.”

Afrida mengangguk lalu meninggalkanku yang masih memandangi lautan lepas.

Selepas isyak aku keluar rumah. Setelah mengunci pintu aku berjalan menyusuri jalan yang gelap. Meskipun sudah ada listrik di kampungku, selepas isyak semua lampu sudah dimatikan. Beberapa rumah juga kosong, penghuninya melaut. Menggunakan senter dari telepon genggam, aku menyisir jalan, menyibak dedaunan yang lebat melintasi jalan setapak.

Pintu rumah Pak Kardi tertutup rapat. Pelita di depan rumahnya juga sudah padam. Aku mengetuk pintu yang terbuat dari triplek berwarna cokelat itu. Tak ada jawaban. Mungkin Afrida sudah terlelap.

Kudorong pintu yang terkunci. Gelap, rupanya Afrida juga mematikan lampu di dalam rumah. Masih menggunakan senter pada gawai, aku berjalan mengendap-endap mencari  sakelar.

Di tengah kesunyian dan kegelapan aku mendengar deritan dipan yang kuperkirakan berada di kamar Afrida. Aku menuju sumber suara bermaksud membangunkan Afrida dan memberitahu kalau aku sudah di sini.

Di depan kamar Afrida terdengar suara orang berbisik-bisik, sangat lirih. Kuabaikan suara itu, aku melanjutkan berjalan. Sial, gawaiku kehabisan baterai. Berbunyi kluk-kluk lalu mati. Otomatis senter pun langsung padam.

“Ida,” kupanggil Afrida berharap ia terbangun dari tidurnya.

Afrida tak menyahut, hanya terdengar dipan yang berderit kencang.

Aku menyusuri dinding kayu, mencari letak sakelar lampu.

Berjalan ke kanan dari pintu, akhirnya kutemukan sakelarnya. Segera kupetik dan seketika lampu menyala.

“Mas Aris ....”

Tubuhku lemas terkulai bersandar di dinding. “Apa yang kamu lakukan, Mas?” tanyaku diiringi gemuruh yang hebat di dada.

“Aku, aku ....” Mas Aris terlihat gugup. Sementara Afrida masih sibuk menutupi tubuhnya dengan selimut.

Aku berdiri meninggalkan dua manusia tak tahu diri. Hatiku hancur lebur. Tak perlu kudengar penjelasan dari Mas Aris atau pun Afrida. Pemandangan memalukan yang baru saja kulihat sudah menunjukkan sifat asli mereka. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

OVERDOSIS

  Di depan cermin, terlihat   perutku semakin besar. Lalu kuelus bulatan di perut ini. Penyakit yang aku takuti, mungkinkah itu terjadi. Bag...