Ketiga kalinya pemuda
itu mampir di warung ibuku. Memesan secangkir kopi arabika yang pekat dengan
sedikit gula. Angkringan ini sangat sederhana, dindingnya terbuat dari anyaman
bambu beratapkan daun rumbia. Di balik kesederhanaan warung ini menyimpan
destinasi. Sejauh mata memandang terpampang luas hamparan hijau di lereng Gunung
Merapi menambah kenikmatan menyeruput secangkir kopi. Jika beruntung, kanvas
cakrawala pun menyuguhkan semburat jingga pertanda akan dimulainya hari.
“Kopi biasanya, ya, Bu!”
Kuangkat dagu melihat
sosok kharismatik tengah melepas jaket kulitnya. Tanganku terus memainkan
sendok di atas cangkir. Kepulan asap menghangatkan wajahku, kupalingkan
pandangan dari pemuda itu.
“Njih, Mas,” teriak ibu
di belakangku, mengangkat teko berisikan air mendidih, lalu menuangkan ke
cangkir yang sudah terisi racikan kopi.
“Buatkan pesanan
mas-mas itu, ya!” bisik ibu di dekat telingaku. Tanpa menunggu perintah pun
sebenarnya meracik memang tugasku.
Aku mulai meracik kopi
arabika sesuai yang diminta pemuda yang belum kuketahui namanya itu. Meskipun
ini ketiga kalinya pemuda itu ngopi di warung ibu, wajahnya asing bagiku. Tak
pernah kujumpai pemuda ini di kampungku atau pun di kampung sebelah. Dari
penampilannya memang terlihat seperti anak kota. Lihat saja, sepatu yang
dikenakan tak pernah kujumpai di pasar. Apalagi jaketnya.
“Niki, Mas, monggo!”
Secangkir kopi arabika
kusuguhkan di hadapannya. Laki-laki itu sibuk memainkan gawainya. Aku masih
mematung memandang sosok di depanku.
Pemuda itu mengangkat
kepala, “Eh, iya, Mbak. Maaf masih sms teman saya.”
Ah, senyumannya membuat
aku terpana. Kopi tanpa gula pun akan terasa manis jika diminum di depannya.
Kubalas senyuman itu dengan menundukkan kepala. Aku takut jika pemuda itu
mendapati pipiku yang mungkin sudah merona.
“Monggo diunjuk,
mungkin mau pesan dhaharan?” tawarku kepada laki-laki yang mulai menuang kopi
ke lepek bening terbuat dari kaca.
“Tidak, Mbak. Ini
saja.”
Setelah mengangguk aku
berpaling dari hadapannya, melanjutkan meracik pesanan dari pelanggan lainnya.
Warung ibu buka setelah
shubuh sampai pukul sembilan pagi. Sejak buka selalu ramai pembeli. Kopi ibu
memang beda dengan warung lainnya. Meskipun kopinya berasal dari tempat yang
sama –lereng Gunung Merapi – tetapi ibu mengolahnya dengan cara yang berbeda
dari penjual lainnya.
Sebagian besar petani
kopi di sini menggunakan proses kering dan basah dalam pengolahan biji chery.
Namun, tidak dengan ibuku. Ibu justru memilih proses madu yang memakan waktu
lebih lama dibanding dua proses lainnya. Menurut ibu yang terpenting kualitas
yang akan membuat pelanggan puas. Benar kata ibu, warung ibu paling diburu.
Selain rasanya yang nikmat harga dibandrol sama.
“Seng penting ibu
seneng,” jelas ibu saat aku memprotes soal harga yang dipatok sama di warungnya.
“Tapi untungnya, kan
sedikit, Bu.”
Ibu tak menanggapi. Ia
beralih pergi dengan membawa tampah berisikan chery –biji kopi.
“Mbak, tolong ke sini
sebentar!”
Pemuda itu memanggilku.
Aku segera menghadapnya, mungkin ia akan memesan makanan.
“Injih, Mas. Wonten
nopo?”
“Ohya, Mbak namanya
siapa? Aku Ardhi,” katanya seraya menjulurkan tangan kepadaku.
Aku terkejut. Kupikir
pemuda ini akan memesan makanan, tak tahunya malah ngajak kenalan. Tanpa pikir
panjang aku membalas uluran tangannya. Kami berjabatan.
“Puspita Sari, panggil
aja Sari.”
“Sari,” ucapnya.
“Jadi gini Sari,” Ardhi
mengatur duduknya menghadap tepat ke arahku, “mungkin aku akan membutuhkan
beberapa orang dari kampung sini untuk membantuku membuat penelitian di
perkebunan kopi.”
Penelitian? Aku masih
tabu dengan arah bicara pemuda itu.
“Maksud Mas Ardhi?”
“Nanti akan saya
jelaskan, boleh saya minta nomer hape kamu?”
Sebenarnya aku ragu
memberi tahu nomer handphone-ku kepada pemuda yang baru kukenal ini. Setelah
kupikir tak ada salahnya aku membantu dia. Entah apa yang akan dibuatnya di
kampungku. Mungkin dengan memberi nomerku padanya akan membuat hubungan kami
semakin dekat. Ah, bicara apa aku ini.
Aku menyerahkan secarik
kertas berisikan deretan 12 digit angka, tak lupa kutorehkan namaku di bawah
angka-angka tersebut.
Tak selang lama Mas
Ardhi meninggalkan warung setelah membayar pesanannya. Kulihat cangkirnya telah
kosong, hanya menyisakan ampas hitam di pangkal cangkir. Segera kubersihkan
meja lalu membawa cangkir kosong itu ke belakang.
***
Sleman, 2015
Siapa yang menyangka
setelah erupsi Gunung Merapi lima tahun
silam merubah kehidupan. Seluas 800 hektar perkebunan kopi hangus terbakar,
termasuk kebun kopi milik keluargaku. Tak hanya kebun kopi Arabika, kebun
Robusta pun juga mengalami hal yang sama. Tanah di kaki Gunung Merapi yang
memiliki kesuburan tujuh kali dibanding tanah lainnya di Nusantara seakan tak
berdaya. Padahal tanah di sini menyimpan keunikan. Kopi Arabika yang biasanya
hanya bisa dibudidaya di ketinggian di atas 1000 mdpl, tetapi di lembah Merapi
bisa dibudidaya Arabika di ketinggian 800-1.100 mdpl. Luar biasa.
Sejak erupsi di tahun
2010 silam, ibu menutup warungnya. Tak ada lagi produksi kopi dan memaksa
sebagian penduduk kehilangan pekerjaannya.
Aku teringat Mas Ardhi.
Janjinya tidak ditepati. Nomer telepon yang kuberikan mungkin sudah dibuang, karena
tak ada gunanya lagi. Kebun mana yang akan dijadikan obyek penelitian,
sedangkan sebagian besar telah habis terbakar. Kenapa rasa rindu menyelimuti
ruang di hati? Aku menepis bayangan Mas Ardhi yang bergelayut di pikiran.
Bagaimana bisa aku menaruh harapan dia akan kembali? Perlahan kutepis harapan
yang tak mungkin akan terwujud ini. Semakin menghilangkan bayangannya, perih di
hati semakin terasa.
Tiga tahun setelah
erupsi, Reboisasi mulai digencarkan. Namun, masih seperdelapan dari luas
sebelum erupsi. Produksi menurun drastis. Hanya sekitar 1-2 kwintal chery yang
dihasilkan setiap tahunnya. Jauh dari angka sebelum terjadi erupsi. Seiring
aktivitas kami mulai bangkit, aku bisa melupakan Mas Ardhi. Bayangan itu mulai
menjauh hingga tak tersisakan.
Pagi ini bersama bapak,
aku memanen kopi Arabika dari kebun. Bapak sengaja budidaya kopi jenis ini.
Meskipun perawatan lebih susah, tetapi sebanding dengan harganya yang tidak
murah. Apalagi bapak menggunakan proses madu untuk mengolahnya. Menambah nilai harga
jual biji kopinya.
Di kampungku proses
pengolahan masih menggunakan cara tradisional. Mengupas biji chery pun tidak
menggunakan alat. Kulit terluar –pulp – dikupas dengan tangan di sebuah wadah
yang dialiri air untuk memudahkan proses pengupasan. Lapisan kedua setelah pulp
adalah mucilage. Dalam proses kering dan basah, mucilage akan ikut dikupas.
Sementara pada proses madu – black honey – mucilage tidak dikupas, disertakan
dalam proses pengeringan. Mucilage kaya akan kandungan gula dan acidity yang akan
menembus ke dalam biji kopi saat proses pengeringan. Karena mucilage inilah
proses pengeringan black honey membutuhkan waktu lebih lama.
“Cara ini sudah turun
temurun dari eyangmu, Nduk,” jelas bapak kala itu saat mengajarkanku cara
mengupas chery, “Bapak hanya meneruskan saja.”
Aku mengamati betul
cara bapak mengolah biji chery yang dipetik dari kebun sampai menjadi biji kopi
yang siap diolah menjadi wedhang kopi.
“Kalau menggunakan
proses madu, biji chery harus yang fresh. Yang baru dipetik.” Bapak menjelaskan
lagi sambil memilah biji chery yang bagus dan merah.
Warung ibu sudah
direnovasi. Kali ini lebih modern dari sebelumnya. Berdinding batu bata dan
beratapkan genting serta flavon di bawahnya. Setiap hari aku yang membantu ibu
di warung. Tak diduga pelanggan kami meroket hingga dua kali lipat. Tak hanya
penduduk setempat, tetapi para wisatawan turut mampir menikmati kopi Arabika
dengan latar Gunung Merapi.
Semakin siang pelanggan
semakin menyurut. Aku mengibaskan kipas terbuat dari anyaman bambu ke wajahku.
Semilir angin menerobos menyusup ke kulit, menyejukkan. Cairan di balik
kerudungku mengering. Kuletakkan kipas ini.
Meskipun tiap hari
bergelut dengan aroma kopi, aku tak pernah bosan untuk menikmati kopi. Saat
warung berangsur sepi, aku menyeduh kopi untuk kunikmati sendiri. Dua sendok
bubuk kopi dipadukan dengan dua sendok gula adalah racikan kesukaanku. Idealnya
dua sendok bubuk kopi dipadukan dengan tiga sendok gula. Aku menyukai kopi
pahit. Takaran ini jugalah yang kupakai saat meracik pesanan Mas Ardhi enam
tahun silam. Ah, kenapa aku teringat Mas Ardhi lagi? Aku sudah berkomitmen
dengan hati ini untuk menghapus namanya dari pikiranku. Aku mendesah. Rasa
rindu rupanya merayap dari secangkir kopi.
Aku bangkit dari duduk,
berniat mengakhiri drama di pikiran ini. Kuangkat cangkir dan akan kubawa ke
belakang. Namun, langkahku terhenti saat suara bariton itu menyebut namaku.
“Sari, kopi Arabika
masih?”
Sejenak aku bergeming.
Menerka suara yang tak asing di telingaku. Kupalingkan badan mengarah ke luar
warung. Laki-laki berkacamata hitam berdiri di depan pintu masuk.
Laki-laki itu melepas
kacamata kemudian menyunggingkan senyum di bibirnya.
“Mas Ardhi,” kataku
lirih.
“Iya, Sari. Aku Ardhi,
apa kabar?”
To be continue ....

Oh ini cerita awal ardhy dan dari bertemu ... 👍👍
BalasHapusHehehehe. Iya, Kak
BalasHapus