Senin, 06 September 2021

Secarik Rindu dari Lembah Merapi


Ketiga kalinya pemuda itu mampir di warung ibuku. Memesan secangkir kopi arabika yang pekat dengan sedikit gula. Angkringan ini sangat sederhana, dindingnya terbuat dari anyaman bambu beratapkan daun rumbia. Di balik kesederhanaan warung ini menyimpan destinasi. Sejauh mata memandang terpampang luas hamparan hijau di lereng Gunung Merapi menambah kenikmatan menyeruput secangkir kopi. Jika beruntung, kanvas cakrawala pun menyuguhkan semburat jingga pertanda akan dimulainya hari.

“Kopi biasanya, ya, Bu!”

Kuangkat dagu melihat sosok kharismatik tengah melepas jaket kulitnya. Tanganku terus memainkan sendok di atas cangkir. Kepulan asap menghangatkan wajahku, kupalingkan pandangan dari pemuda itu.

“Njih, Mas,” teriak ibu di belakangku, mengangkat teko berisikan air mendidih, lalu menuangkan ke cangkir yang sudah terisi racikan kopi.

“Buatkan pesanan mas-mas itu, ya!” bisik ibu di dekat telingaku. Tanpa menunggu perintah pun sebenarnya meracik memang tugasku.

Aku mulai meracik kopi arabika sesuai yang diminta pemuda yang belum kuketahui namanya itu. Meskipun ini ketiga kalinya pemuda itu ngopi di warung ibu, wajahnya asing bagiku. Tak pernah kujumpai pemuda ini di kampungku atau pun di kampung sebelah. Dari penampilannya memang terlihat seperti anak kota. Lihat saja, sepatu yang dikenakan tak pernah kujumpai di pasar. Apalagi jaketnya.

“Niki, Mas, monggo!”

Secangkir kopi arabika kusuguhkan di hadapannya. Laki-laki itu sibuk memainkan gawainya. Aku masih mematung memandang sosok di depanku.

Pemuda itu mengangkat kepala, “Eh, iya, Mbak. Maaf masih sms teman saya.”

Ah, senyumannya membuat aku terpana. Kopi tanpa gula pun akan terasa manis jika diminum di depannya. Kubalas senyuman itu dengan menundukkan kepala. Aku takut jika pemuda itu mendapati pipiku yang mungkin sudah merona.

“Monggo diunjuk, mungkin mau pesan dhaharan?” tawarku kepada laki-laki yang mulai menuang kopi ke lepek bening terbuat dari kaca.

“Tidak, Mbak. Ini saja.”

Setelah mengangguk aku berpaling dari hadapannya, melanjutkan meracik pesanan dari pelanggan lainnya.

Warung ibu buka setelah shubuh sampai pukul sembilan pagi. Sejak buka selalu ramai pembeli. Kopi ibu memang beda dengan warung lainnya. Meskipun kopinya berasal dari tempat yang sama –lereng Gunung Merapi – tetapi ibu mengolahnya dengan cara yang berbeda dari penjual lainnya.

Sebagian besar petani kopi di sini menggunakan proses kering dan basah dalam pengolahan biji chery. Namun, tidak dengan ibuku. Ibu justru memilih proses madu yang memakan waktu lebih lama dibanding dua proses lainnya. Menurut ibu yang terpenting kualitas yang akan membuat pelanggan puas. Benar kata ibu, warung ibu paling diburu. Selain rasanya yang nikmat harga dibandrol sama.

“Seng penting ibu seneng,” jelas ibu saat aku memprotes soal harga yang dipatok sama di warungnya.

“Tapi untungnya, kan sedikit, Bu.”

Ibu tak menanggapi. Ia beralih pergi dengan membawa tampah berisikan chery –biji kopi.

“Mbak, tolong ke sini sebentar!”

Pemuda itu memanggilku. Aku segera menghadapnya, mungkin ia akan memesan makanan.

“Injih, Mas. Wonten nopo?”

“Ohya, Mbak namanya siapa? Aku Ardhi,” katanya seraya menjulurkan tangan kepadaku.

Aku terkejut. Kupikir pemuda ini akan memesan makanan, tak tahunya malah ngajak kenalan. Tanpa pikir panjang aku membalas uluran tangannya. Kami berjabatan.

“Puspita Sari, panggil aja Sari.”

“Sari,” ucapnya.

“Jadi gini Sari,” Ardhi mengatur duduknya menghadap tepat ke arahku, “mungkin aku akan membutuhkan beberapa orang dari kampung sini untuk membantuku membuat penelitian di perkebunan kopi.”

Penelitian? Aku masih tabu dengan arah bicara pemuda itu.

“Maksud Mas Ardhi?”

“Nanti akan saya jelaskan, boleh saya minta nomer hape kamu?”

Sebenarnya aku ragu memberi tahu nomer handphone-ku kepada pemuda yang baru kukenal ini. Setelah kupikir tak ada salahnya aku membantu dia. Entah apa yang akan dibuatnya di kampungku. Mungkin dengan memberi nomerku padanya akan membuat hubungan kami semakin dekat. Ah, bicara apa aku ini.

Aku menyerahkan secarik kertas berisikan deretan 12 digit angka, tak lupa kutorehkan namaku di bawah angka-angka tersebut.

Tak selang lama Mas Ardhi meninggalkan warung setelah membayar pesanannya. Kulihat cangkirnya telah kosong, hanya menyisakan ampas hitam di pangkal cangkir. Segera kubersihkan meja lalu membawa cangkir kosong itu ke belakang.

***

Sleman, 2015

Siapa yang menyangka setelah erupsi Gunung Merapi  lima tahun silam merubah kehidupan. Seluas 800 hektar perkebunan kopi hangus terbakar, termasuk kebun kopi milik keluargaku. Tak hanya kebun kopi Arabika, kebun Robusta pun juga mengalami hal yang sama. Tanah di kaki Gunung Merapi yang memiliki kesuburan tujuh kali dibanding tanah lainnya di Nusantara seakan tak berdaya. Padahal tanah di sini menyimpan keunikan. Kopi Arabika yang biasanya hanya bisa dibudidaya di ketinggian di atas 1000 mdpl, tetapi di lembah Merapi bisa dibudidaya Arabika di ketinggian 800-1.100 mdpl. Luar biasa.

Sejak erupsi di tahun 2010 silam, ibu menutup warungnya. Tak ada lagi produksi kopi dan memaksa sebagian penduduk kehilangan pekerjaannya.

Aku teringat Mas Ardhi. Janjinya tidak ditepati. Nomer telepon yang kuberikan mungkin sudah dibuang, karena tak ada gunanya lagi. Kebun mana yang akan dijadikan obyek penelitian, sedangkan sebagian besar telah habis terbakar. Kenapa rasa rindu menyelimuti ruang di hati? Aku menepis bayangan Mas Ardhi yang bergelayut di pikiran. Bagaimana bisa aku menaruh harapan dia akan kembali? Perlahan kutepis harapan yang tak mungkin akan terwujud ini. Semakin menghilangkan bayangannya, perih di hati semakin terasa.

Tiga tahun setelah erupsi, Reboisasi mulai digencarkan. Namun, masih seperdelapan dari luas sebelum erupsi. Produksi menurun drastis. Hanya sekitar 1-2 kwintal chery yang dihasilkan setiap tahunnya. Jauh dari angka sebelum terjadi erupsi. Seiring aktivitas kami mulai bangkit, aku bisa melupakan Mas Ardhi. Bayangan itu mulai menjauh hingga tak tersisakan.

Pagi ini bersama bapak, aku memanen kopi Arabika dari kebun. Bapak sengaja budidaya kopi jenis ini. Meskipun perawatan lebih susah, tetapi sebanding dengan harganya yang tidak murah. Apalagi bapak menggunakan proses madu untuk mengolahnya. Menambah nilai harga jual biji kopinya.

Di kampungku proses pengolahan masih menggunakan cara tradisional. Mengupas biji chery pun tidak menggunakan alat. Kulit terluar –pulp – dikupas dengan tangan di sebuah wadah yang dialiri air untuk memudahkan proses pengupasan. Lapisan kedua setelah pulp adalah mucilage. Dalam proses kering dan basah, mucilage akan ikut dikupas. Sementara pada proses madu – black honey – mucilage tidak dikupas, disertakan dalam proses pengeringan. Mucilage kaya akan kandungan gula dan acidity yang akan menembus ke dalam biji kopi saat proses pengeringan. Karena mucilage inilah proses pengeringan black honey membutuhkan waktu lebih lama.

“Cara ini sudah turun temurun dari eyangmu, Nduk,” jelas bapak kala itu saat mengajarkanku cara mengupas chery, “Bapak hanya meneruskan saja.”

Aku mengamati betul cara bapak mengolah biji chery yang dipetik dari kebun sampai menjadi biji kopi yang siap diolah menjadi wedhang kopi.

“Kalau menggunakan proses madu, biji chery harus yang fresh. Yang baru dipetik.” Bapak menjelaskan lagi sambil memilah biji chery yang bagus dan merah.

Warung ibu sudah direnovasi. Kali ini lebih modern dari sebelumnya. Berdinding batu bata dan beratapkan genting serta flavon di bawahnya. Setiap hari aku yang membantu ibu di warung. Tak diduga pelanggan kami meroket hingga dua kali lipat. Tak hanya penduduk setempat, tetapi para wisatawan turut mampir menikmati kopi Arabika dengan latar Gunung Merapi.

Semakin siang pelanggan semakin menyurut. Aku mengibaskan kipas terbuat dari anyaman bambu ke wajahku. Semilir angin menerobos menyusup ke kulit, menyejukkan. Cairan di balik kerudungku mengering. Kuletakkan kipas ini.

Meskipun tiap hari bergelut dengan aroma kopi, aku tak pernah bosan untuk menikmati kopi. Saat warung berangsur sepi, aku menyeduh kopi untuk kunikmati sendiri. Dua sendok bubuk kopi dipadukan dengan dua sendok gula adalah racikan kesukaanku. Idealnya dua sendok bubuk kopi dipadukan dengan tiga sendok gula. Aku menyukai kopi pahit. Takaran ini jugalah yang kupakai saat meracik pesanan Mas Ardhi enam tahun silam. Ah, kenapa aku teringat Mas Ardhi lagi? Aku sudah berkomitmen dengan hati ini untuk menghapus namanya dari pikiranku. Aku mendesah. Rasa rindu rupanya merayap dari secangkir kopi.

Aku bangkit dari duduk, berniat mengakhiri drama di pikiran ini. Kuangkat cangkir dan akan kubawa ke belakang. Namun, langkahku terhenti saat suara bariton itu menyebut namaku.

“Sari, kopi Arabika masih?”

Sejenak aku bergeming. Menerka suara yang tak asing di telingaku. Kupalingkan badan mengarah ke luar warung. Laki-laki berkacamata hitam berdiri di depan pintu masuk.

Laki-laki itu melepas kacamata kemudian menyunggingkan senyum di bibirnya.

“Mas Ardhi,” kataku lirih.

“Iya, Sari. Aku Ardhi, apa kabar?”

To be continue ....

 


 

2 komentar:

OVERDOSIS

  Di depan cermin, terlihat   perutku semakin besar. Lalu kuelus bulatan di perut ini. Penyakit yang aku takuti, mungkinkah itu terjadi. Bag...