Rabu, 01 September 2021

Berawal dari Membaca, Tumbuh Hasrat untuk Menulis


Membaca dan menulis pada hakikatnya merupakan satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan. Seperti halnya makan dan minum sebagai sumber energi pada tubuh, begitu juga dengan membaca dan menulis sebagai sarana meluapkan perasaan.

Membaca sendiri telah diyakini sebagai jendela dunia. Dengan membaca akan memperkaya ilmu dan pengetahuan  seseorang. Meskipun pada kenyataannya minat baca warga Indonesia tergolong  sangat rendah. Menurut data UNESCO  menunjukkan hanya 0,001%. Dikutip dari Kominfo berdasarkan riset bertajuk Wordl’s Most Literate Nations Ranked yang dilakukan oleh Central Connecticut State University menyatakan bahwa Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat baca.

Bagaimana seorang penulis mampu menguraikan aksara pada karya-karyanya? Tentu jawabannya adalah dengan membaca. Riset adalah kekuatan penulis untuk menciptakan karya yang istimewa. Selain dengan membaca, riset juga  bisa dilakukan dengan mengamati hal-hal yang ada di sekitar kita.

Membaca juga bisa memantik emosi seseorang untuk mengungkapkan kembali apa yang telah dibaca. Membaca sebagai terapi sekaligus refleksi yang mampu mencairkan otak seseorang. Sayangnya kesadaran membaca belum dimiliki bagi sebagian besar warga Indonesia.

Awal saya menulis, adalah ketika membaca karya penulis terkenal di Indonesia. Beberapa bukunya saya koleksi karena memang suka pada sosok tersebut. Dari sana saya berpikir bahwa dengan menulis, seseorang bisa dikenal bahkan dikenang setelah ia tiada. Saat itu saya memberanikan diri menulis lalu mengunggahnya di sebuah komunitas di media sosial. Apa yang saya dapat?

Tulisan perdana saya jauh dari kata layak. Penggunaan tanda baca, penerapan huruf kapital, juga dialog tag semuanya amburadul. Rupanya menulis tidak semudah yang terbayangkan. Alur cerita dan konflik yang terlalu datar. Kesalahan dalam tulisan saya saat itu mendapat kritikan dari seseakun di komunitas tersebut. Dari sanalah saya mulai memperbaiki tulisan.

Lantas apakah dengan hanya membaca saya bisa menulis?

Jawabannya tidak. Memang membaca menumbuhkan hasrat saya untuk menulis, tetapi ternyata hanya dengan membaca saya tidak bisa menulis yang sesuai dengan kaidah kepenulisan.

Apa yang harus dilakukan?

Mengamati adalah hal lazim yang dilakukan oleh calon penulis. Dengan mengamati karya yang sudah teruji saya memulai berpertualang di dunia aksara. Hal lain yang saya lakukan adalah terus membaca referensi tulisan fiksi maupun nonfiksi.

Dari proses mengamati itulah, saya mulai bisa memperbaiki tulisan. Tahap demi tahap hingga sekarang pun saya masih pada tahap belajar. Salah satunya dengan mengikuti komunitas-komunitas menulis untuk membangun atmotfer literasi pada diri ini. 

23 komentar:

  1. Ibarat gelas...ga bisa diisi terus tanpa membagi isinya ke tempat lain, ya kak, malah nanti bisa tumpah ga karuan 🙈

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali dari pada tumpah tanpa dibagikan dan mubadzir ilmu, paling bagusnya diamalkan dan menambah amalan jariyah kita nantinya di akhirat. Semoga dengan banyak belajar kita tetap seperti ilmu padi makin berisi makin merunduk. Tetap istiqomah dan lakukan yang terbaik untuk keberkahan Allah SWT. Aamiin

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  2. Aih bener banget nih, membaca adalah bahan bakar penulis.

    BalasHapus
  3. Membaca dan menulis harus dibarengi memang kak☘️☘️

    BalasHapus
  4. Wah jadi diingatkan lagi soal membaca supaya bisa lebih baik dalam menulis. Yup, setuju banget kalau menulis butuh referensi buat ATM (amati, tiru, modifikasi).

    Semoga tetep semangat untuk berkarya dan belajar, kak!

    BalasHapus
  5. Saya juga banyak ikut kelas supaya bisa memperbaiki hasil menulis, tapi dasar sudah umur jadinya susah nyerap dan mempraktekkan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Telateni saja, Bun. Usaha tidak akan mengkhianati hasil. ☺️

      Hapus
  6. Semakin banyak ilmu yang kita serap semakin banyak berkah dan amalan yang akan kita bagikan. Karena ilmu yang manfaat adalah yang dibagikan ke saudaranya dan membantu sesamanya

    BalasHapus
  7. Terimakasih buat share ilmu nya kak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hanya menceritakan pengalaman, Kak.
      Jika bermanfaat alhamdulilah.

      Hapus
  8. Sebenarnya, minat baca orang Indonesia cukup tinggi tapi sayangnya baru sampai level membaca status.
    Termasuk saya... hehehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehehehe.
      Dan tidak semua status mengandung informasi dan pengetahuan. 😀

      Hapus
  9. Membaca dan menulis itu udah satu paket, ya, Kak. Kadang, suka kesulitan pas nulis karena kurang membaca :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Kak.
      Tanpa membaca, sepertinya mustahil untuk bisa menulis

      Hapus
  10. Kita memang telah berhasil mengurangi angka buta huruf, tapi setelah bisa membaca, ternyata minat bacanya tidak terbangun. Jadi, hanya sekedar bisa membaca, tapi minat membacanya kurang.

    BalasHapus
  11. Salam kenal kak,
    Suka sama artikelnya..😍

    BalasHapus

OVERDOSIS

  Di depan cermin, terlihat   perutku semakin besar. Lalu kuelus bulatan di perut ini. Penyakit yang aku takuti, mungkinkah itu terjadi. Bag...