Membaca dan menulis pada hakikatnya merupakan satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan. Seperti halnya makan dan minum sebagai sumber energi pada tubuh, begitu juga dengan membaca dan menulis sebagai sarana meluapkan perasaan.
Membaca sendiri telah
diyakini sebagai jendela dunia. Dengan membaca akan memperkaya ilmu dan
pengetahuan seseorang. Meskipun pada
kenyataannya minat baca warga Indonesia tergolong sangat rendah. Menurut data UNESCO menunjukkan hanya 0,001%. Dikutip dari
Kominfo berdasarkan riset bertajuk Wordl’s
Most Literate Nations Ranked yang dilakukan oleh Central Connecticut State University menyatakan bahwa Indonesia
menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat baca.
Bagaimana seorang penulis
mampu menguraikan aksara pada karya-karyanya? Tentu jawabannya adalah dengan
membaca. Riset adalah kekuatan penulis untuk menciptakan karya yang istimewa.
Selain dengan membaca, riset juga bisa
dilakukan dengan mengamati hal-hal yang ada di sekitar kita.
Membaca juga bisa
memantik emosi seseorang untuk mengungkapkan kembali apa yang telah dibaca.
Membaca sebagai terapi sekaligus refleksi yang mampu mencairkan otak seseorang.
Sayangnya kesadaran membaca belum dimiliki bagi sebagian besar warga Indonesia.
Awal saya menulis,
adalah ketika membaca karya penulis terkenal di Indonesia. Beberapa bukunya
saya koleksi karena memang suka pada sosok tersebut. Dari sana saya berpikir
bahwa dengan menulis, seseorang bisa dikenal bahkan dikenang setelah ia tiada.
Saat itu saya memberanikan diri menulis lalu mengunggahnya di sebuah komunitas
di media sosial. Apa yang saya dapat?
Tulisan perdana saya
jauh dari kata layak. Penggunaan tanda baca, penerapan huruf kapital, juga
dialog tag semuanya amburadul.
Rupanya menulis tidak semudah yang terbayangkan. Alur cerita dan konflik yang
terlalu datar. Kesalahan dalam tulisan saya saat itu mendapat kritikan dari
seseakun di komunitas tersebut. Dari sanalah saya mulai memperbaiki tulisan.
Lantas apakah dengan
hanya membaca saya bisa menulis?
Jawabannya tidak.
Memang membaca menumbuhkan hasrat saya untuk menulis, tetapi ternyata hanya
dengan membaca saya tidak bisa menulis yang sesuai dengan kaidah kepenulisan.
Apa yang harus
dilakukan?
Mengamati adalah hal
lazim yang dilakukan oleh calon penulis. Dengan mengamati karya yang sudah
teruji saya memulai berpertualang di dunia aksara. Hal lain yang saya lakukan
adalah terus membaca referensi tulisan fiksi maupun nonfiksi.
Dari proses mengamati itulah, saya mulai bisa memperbaiki tulisan. Tahap demi tahap hingga sekarang pun saya masih pada tahap belajar. Salah satunya dengan mengikuti komunitas-komunitas menulis untuk membangun atmotfer literasi pada diri ini.

Ibarat gelas...ga bisa diisi terus tanpa membagi isinya ke tempat lain, ya kak, malah nanti bisa tumpah ga karuan 🙈
BalasHapusIya, betul Kak
HapusBetul sekali dari pada tumpah tanpa dibagikan dan mubadzir ilmu, paling bagusnya diamalkan dan menambah amalan jariyah kita nantinya di akhirat. Semoga dengan banyak belajar kita tetap seperti ilmu padi makin berisi makin merunduk. Tetap istiqomah dan lakukan yang terbaik untuk keberkahan Allah SWT. Aamiin
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
HapusAih bener banget nih, membaca adalah bahan bakar penulis.
BalasHapusHehehehe. Iya, Kak
HapusMembaca dan menulis harus dibarengi memang kak☘️☘️
BalasHapusUdah sepaket, Kak.
HapusWah jadi diingatkan lagi soal membaca supaya bisa lebih baik dalam menulis. Yup, setuju banget kalau menulis butuh referensi buat ATM (amati, tiru, modifikasi).
BalasHapusSemoga tetep semangat untuk berkarya dan belajar, kak!
Insyallah tetap semangat ☺️☺️☺️
HapusSaya juga banyak ikut kelas supaya bisa memperbaiki hasil menulis, tapi dasar sudah umur jadinya susah nyerap dan mempraktekkan
BalasHapusTelateni saja, Bun. Usaha tidak akan mengkhianati hasil. ☺️
HapusSemakin banyak ilmu yang kita serap semakin banyak berkah dan amalan yang akan kita bagikan. Karena ilmu yang manfaat adalah yang dibagikan ke saudaranya dan membantu sesamanya
BalasHapusTerimakasih buat share ilmu nya kak...
BalasHapusHanya menceritakan pengalaman, Kak.
HapusJika bermanfaat alhamdulilah.
Sebenarnya, minat baca orang Indonesia cukup tinggi tapi sayangnya baru sampai level membaca status.
BalasHapusTermasuk saya... hehehehe
Hehehehehe.
HapusDan tidak semua status mengandung informasi dan pengetahuan. 😀
Membaca dan menulis itu udah satu paket, ya, Kak. Kadang, suka kesulitan pas nulis karena kurang membaca :)
BalasHapusIya, Kak.
HapusTanpa membaca, sepertinya mustahil untuk bisa menulis
Kita memang telah berhasil mengurangi angka buta huruf, tapi setelah bisa membaca, ternyata minat bacanya tidak terbangun. Jadi, hanya sekedar bisa membaca, tapi minat membacanya kurang.
BalasHapusIya, Kak.
HapusSalam kenal kak,
BalasHapusSuka sama artikelnya..😍
Salam kenal juga, Kak Jihan. ☺️☺️
Hapus