Di depan cermin,
terlihat perutku semakin besar. Lalu
kuelus bulatan di perut ini. Penyakit yang aku takuti, mungkinkah itu terjadi.
Bagaimana nasib kedua anakku yang masih kecil.
Berusaha menolak
penyakit itu, kucoba untuk melakukan tes kehamilan. Meskipun rasanya tidak
mungkin, karena aku menggunakan alat kontrasepsi, yaitu implan. Kata bidan yang
memasang implan, kemungkinan sangat kecil bahkan tidak bisa hamil.
Setelah membeli dari
apotek, kugunakan tespack itu. Satu garis merah. Artinya aku tidak hamil.
Lantas benjolan apa yang ada di perutku ini?
Rasa takut ini semakin
menghantuiku. Seperti yang pernah kubaca tentang penyakit yang menyerang rahim
ini, rasanya benjolan ini memang benar kista.
Disarankan oleh bidan
yang memasang implan ini, untuk periksa kandungan ke Puskesmas. Dengan ditemani suami dan kedua anakku., menunggu
antrean panjang, hingga akhirnya bertemu dengan bidan di Puskesmas itu.
“Sudah dites belum,
Buk?” Bidan itu bertanya, setelah mendengar penjelasanku.
“Sudah, Bu,” jawabku.
“Pakek tespack yang
harganya sepuluh ribu itu, ya?” tebaknya.
“Iya, Bu. Yang merk nya
****.”
“Tak tes lagi, ya. Ini
pakek tespack yang lebih bagus,” jelasnya.
Aku menurut saja yang
dikatakan bidan itu.
Lima menit kemudian,
bidan menunjukkan tespack itu dengan satu garis merah yang tajam, dan satu
garis lagi yang samar. Tidak mau menduga-duga, bidan itu menyarankanku untuk melakukan
USG ke dokter kandungan.
Risau dihatiku belum
kelar. Belum ada kejelasan atas perutku yang membuncit. Kuraba lagi, tak ada
gerakan apapun. Jika ini janin, detak jantungnya tak pernah kurasa. Padahal
dengan perut yang sebesar ini, kuperkirakan usia kehamilan lima bulan.
Seperti saran bidan,
aku melakukan pemeriksaan ke dokter kandungan. Sama halnya di Puskesmas, di
klinik inipun antrean sangat panjang. Lagi-lagi kedua anakku rewel menunggu sekian lama. Hingga akhirnya aku
dipersilakan masuk ruangan oleh seorang asisten dokter. Kedua anakku tinggal
diluar dengan ayahnya.
Setelah tanya jawab
dengan dokter , aku berbaring di atas ranjang. Asisten dokter menyiapkan
peralatan pemeriksaan. Sejurus kemudian Dokter Sonia mulai memeriksa. Kulihat
layar kecil di atas kepalaku, yang juga dilihat oleh dokter Sonia. Selesai,
kurapikan bajuku lalu turun dari ranjang itu.
“Ibu pakek implan, ya?”
tanya Dokter Sonia.
“Iya, Bu. Minggu
kemarin baru saja diganti,” jelasku.
Dokter Sonia terlihat terkejut.
“Loh, udah diganti? Gak
dites dulu sama bidannya?”
“Enggak, Bu. Mungkin
karena langsung. Setelah di lepas terus dipasang lagi yang baru,” jelasku.
“Tapi seharusnya harus
dites sebelum memasang alat kontrasepsi,” ujar Dokter Sonia.
“Jadi aku gimana, Bu?”
“Kamu hamil, Bu.
Janinnya juga udah besar. Sekitar 24 minggu.”
“Berarti ini bukan
kista kan, Bu?” tanyaku.
“Tidak, Bu. Itu janin.
Segera dilepas ya implannya!” perintah Bu Sonia.
“Iya, Bu. Tapi kalau
ini janin kok belum ada gerakan sama sekali, ya?” penasaran kutanyakan hal itu.
“lha ... itu, makanya
saya suruh Ibu lepas implannya. Mungkin efek hormon dalam implan tersebut.
Setelah dilepas nanti periksa kesini lagi, ya!” kata Bu Sonia, tangannya sibuk
menulis resep untukku.
Aku lega. Ternyata
bukan kista yang bersemayam di perutku. Melainkan calon jabang bayi. Hatiku
gembali gelisah. Si sulung berusia lima tahun, sedang yang kedua masih berusia
tiga tahun, dan sebentar lagi akan punya adik. Tak bisa membayangkan jika harus
mengurus tiga anak kecil. Ya Allah ... haruskah aku bahagia? Atau sebaliknya?
Keesokan harinya, aku
ke tempat bidan yang memasang implan, dan hendak melepasnya. Kuceritakan yang
terjadi, namun bidan hanya diam. Aku tak mempermasalahkan hal ini.
Setelah implan
terlepas, betapa terkejutnya aku. Janin yang sebelumnya diam, sekarang bergerak
sangat aktif. Kuelus perutku perlahan. Tak kusadari, bulir bening menetes dari
kedua mata ini. Aku merasa bersalah. Seakan tak menerima janin dalam perut ini.
Aku pasrah. Entah bagaimana nanti repotnya mengurus tiga anak. Dua anak
laki-laki sudah membuat penuh pekerjaan harianku.
Kali ini hanya bersama
suami, aku pergi ke klinik Dokter Sonia. Kedua anak kutitipkan ke rumah kakak
ipar yang tak jauh dari rumah.
“Sudah dilepas, Bu,
implannya?” ujar Bu Sonia.
“Sudah, Bu.
Alhamdulillah janinnya bergerak aktif sekali.”
“Oh iya ... ngomong-ngomong
bayiku cowok atau cewek ya, Bu?” kutanyakan hal ini yang kemarin belum sempat
bertanya.
“Sebentar, nanti
dilihat lagi, ya.”
“Jadi gini ....” Bu
Sonia membenarkan tempat duduknya, hendak menjelaskan sesuatu kepadaku.
“Ibuk itu hormonnya
sangat tinggi. Kelebihan hormon. Overdosis istilahnya. Pakek kontrasepsi apapun
pasti kebobolan juga. Kasus seperti ini seharusnya harus diganti setengah dari
masa aktif kontrasepsi itu. Misalnya
Ibuk pakek implan jangka 3 tahun, setahun setengah harus sudah diganti. Agar
hormon diperbarui.”
Aku manggut-manggut
mendengarnya. Berpikir hal yang masuk akal. Sebelumnya mempertanyakan hal ini.
Kenapa aku bisa hamil. Namun sekarang sudah paham, setelah mendengar penjelasan
dari Bu Sonia.
“Terima kasih, Bu.”
“Iya, sekarang mau
lihat gak jenis kelamin anaknya?” Senyum Bu Sonia mengembang, mencairkan
suasana yang tegang.
“Mau dong, Bu,” celetuk
suamiku.
Aku berbaring di atas
ranjang, siap diperiksa oleh Bu Sonia.
Beliau
menggerak-gerakkan alat di atas perutku, lalu berkata, “kayaknya kok cowok,
ya.”
Aku tertawa kecil.
“Cowok lagi!” pekik
suami yang berdiri di samping ranjang.
“Inikan cuma prediksi
tho, Pak. Bisa saja salah,” ucap Bu Sonia. Sedang aku hanya diam.
***
Aku mulai mempersiapkan
peralatan bayi. Rasanya baru kemarin aku ada diposisi seperti ini, sekarang
sudah berkemas gurita, bedong, dan gendongan lagi. Untung bekas kakaknya masih
bagus, sehingga hanya membeli beberapa saja.
Tanggal perkiraan lahir
sudah jatuh dua hari yang lalu. Kembali periksa ke bidan, aku dirujuk ke rumah
sakit.
Untung saja aku
memiliki kartu KIS, sehingga tidak memikirkan biaya operasi. Iya, akhirnya
dokter memutuskan untuk tindakan operasi. Selain mundur dari HPL, riwayat
kehamilanku yang mengharuskan untuk dilakukannya operasi.
Aku terbaring di atas
ranjang, dengan lampu-lampu diatasnya. Seorang perawat memasang tirai
memisahkan bagian dada ke atas dan ke bawah. Sebelumnya dokter memberikan
injeksi anestesi di tulang punggungku.
Mata ini terbuka meski
terlihat kabur. Dentingan alat operasi terdengar lirih di telingaku. Mungkin
dokter sudah menyayat perutku. Mulutku komat-kamit mengucap lafal Allah.
Meminta kekuatan kepada Sang Pencipta, juga keselamatan untukku dan bayiku.
Lima belas menit
kemudian terdengar tangisan bayi, namun aku merasa sangat lelah. Hingga
kemudian tak ingat lagi yang terjadi.
Kubuka mata perlahan.
Badanku menggigil. Kulihat ruangan penuh dengan alat entah apa itu namanya. Tak
ada seorangpun disini. Kemudian seorang perawat mendekati.
“Ibu sudah sadar, alhamdulillah
anaknya sehat dan ganteng,” kata perempuan berbaju putih itu.
“Alhamdulillah .... Suamiku
mana, Bu?”
“Ada diluar, nanti saya
panggilkan. Saat ini ibu masih harus disini dulu, sampai efek obat bius itu
hilang. Nanti setelahnya, Ibu bisa dipindah di ruang rawat,” jelasnya.
Aku hanya mengangguk.
Rasa dingin yang sangat kurasakan di tubuhku, membuat sulit untuk bicara. Tak
lama kemudian suamiku datang lalu memelukku.
Efek obat bius itu
sudah hilang. Badanku sudah normal. Aku dipindah di kamar rawat bersama pasien
yang lain. Kamar kelas tiga yang berisi enam pasien.
Aku lega, telah
melewatinya. Tak lama kemudian seorang suster membawa bayiku. Segera kuberi ia
ASI pertama. Katanya ini bisa menjadi antibodi untuk si bayi.
Kuelus kepalanya.
Kupegang jarinya yang mungil. Bayi yang tak bergerak beberapa bulan dalam
kandungan, kini sudah ada di pangkuan. Suami dan kedua anakku masuk ke ruangan.
Nampaknya anak-anak senang dengan hadirnya si adik. Dicubiti pipinya lalu
menciumnya.
Aku tersenyum.
Kebahagiaan menyelimutiku, suami dan ketiga jagoanku.
Bagus...👍👍 Apakah bersambung ?
BalasHapusWaah, kereen Mbak. Dilanjutin lagi sepertinya tetep seru, Mbak
BalasHapus