Kamis, 16 September 2021

OVERDOSIS

 

Di depan cermin, terlihat  perutku semakin besar. Lalu kuelus bulatan di perut ini. Penyakit yang aku takuti, mungkinkah itu terjadi. Bagaimana nasib kedua anakku yang masih kecil.

Berusaha menolak penyakit itu, kucoba untuk melakukan tes kehamilan. Meskipun rasanya tidak mungkin, karena aku menggunakan alat kontrasepsi, yaitu implan. Kata bidan yang memasang implan, kemungkinan sangat kecil bahkan tidak bisa hamil.

Setelah membeli dari apotek, kugunakan tespack itu. Satu garis merah. Artinya aku tidak hamil. Lantas benjolan apa yang ada di perutku ini?

Rasa takut ini semakin menghantuiku. Seperti yang pernah kubaca tentang penyakit yang menyerang rahim ini, rasanya benjolan ini memang benar kista.

Disarankan oleh bidan yang memasang implan ini, untuk periksa kandungan ke Puskesmas.  Dengan ditemani suami dan kedua anakku., menunggu antrean panjang, hingga akhirnya bertemu dengan bidan di Puskesmas itu.

“Sudah dites belum, Buk?” Bidan itu bertanya, setelah mendengar penjelasanku.

“Sudah, Bu,” jawabku.

“Pakek tespack yang harganya sepuluh ribu itu, ya?” tebaknya.

“Iya, Bu. Yang merk nya ****.”

“Tak tes lagi, ya. Ini pakek tespack yang lebih bagus,” jelasnya.

Aku menurut saja yang dikatakan bidan itu.

Lima menit kemudian, bidan menunjukkan tespack itu dengan satu garis merah yang tajam, dan satu garis lagi yang samar. Tidak mau menduga-duga, bidan itu menyarankanku untuk melakukan USG ke dokter kandungan.

Risau dihatiku belum kelar. Belum ada kejelasan atas perutku yang membuncit. Kuraba lagi, tak ada gerakan apapun. Jika ini janin, detak jantungnya tak pernah kurasa. Padahal dengan perut yang sebesar ini, kuperkirakan usia kehamilan lima bulan.

Seperti saran bidan, aku melakukan pemeriksaan ke dokter kandungan. Sama halnya di Puskesmas, di klinik inipun antrean sangat panjang. Lagi-lagi kedua anakku rewel  menunggu sekian lama. Hingga akhirnya aku dipersilakan masuk ruangan oleh seorang asisten dokter. Kedua anakku tinggal diluar dengan ayahnya.

Setelah tanya jawab dengan dokter , aku berbaring di atas ranjang. Asisten dokter menyiapkan peralatan pemeriksaan. Sejurus kemudian Dokter Sonia mulai memeriksa. Kulihat layar kecil di atas kepalaku, yang juga dilihat oleh dokter Sonia. Selesai, kurapikan bajuku lalu turun dari ranjang itu.

“Ibu pakek implan, ya?” tanya Dokter Sonia.

“Iya, Bu. Minggu kemarin  baru saja diganti,” jelasku. Dokter Sonia terlihat terkejut.

“Loh, udah diganti? Gak dites dulu sama bidannya?”

“Enggak, Bu. Mungkin karena langsung. Setelah di lepas terus dipasang lagi yang baru,” jelasku.

“Tapi seharusnya harus dites sebelum memasang alat kontrasepsi,” ujar Dokter Sonia.

“Jadi aku gimana, Bu?”

“Kamu hamil, Bu. Janinnya juga udah besar. Sekitar 24 minggu.”

“Berarti ini bukan kista kan, Bu?” tanyaku.

“Tidak, Bu. Itu janin. Segera dilepas ya implannya!” perintah Bu Sonia.

“Iya, Bu. Tapi kalau ini janin kok belum ada gerakan sama sekali, ya?” penasaran kutanyakan hal itu.

“lha ... itu, makanya saya suruh Ibu lepas implannya. Mungkin efek hormon dalam implan tersebut. Setelah dilepas nanti periksa kesini lagi, ya!” kata Bu Sonia, tangannya sibuk menulis resep untukku.

Aku lega. Ternyata bukan kista yang bersemayam di perutku. Melainkan calon jabang bayi. Hatiku gembali gelisah. Si sulung berusia lima tahun, sedang yang kedua masih berusia tiga tahun, dan sebentar lagi akan punya adik. Tak bisa membayangkan jika harus mengurus tiga anak kecil. Ya Allah ... haruskah aku bahagia? Atau sebaliknya?

Keesokan harinya, aku ke tempat bidan yang memasang implan, dan hendak melepasnya. Kuceritakan yang terjadi, namun bidan hanya diam. Aku tak mempermasalahkan hal ini.

Setelah implan terlepas, betapa terkejutnya aku. Janin yang sebelumnya diam, sekarang bergerak sangat aktif. Kuelus perutku perlahan. Tak kusadari, bulir bening menetes dari kedua mata ini. Aku merasa bersalah. Seakan tak menerima janin dalam perut ini. Aku pasrah. Entah bagaimana nanti repotnya mengurus tiga anak. Dua anak laki-laki sudah membuat penuh pekerjaan harianku.

Kali ini hanya bersama suami, aku pergi ke klinik Dokter Sonia. Kedua anak kutitipkan ke rumah kakak ipar yang tak jauh dari rumah.

“Sudah dilepas, Bu, implannya?” ujar Bu Sonia.

“Sudah, Bu. Alhamdulillah janinnya bergerak aktif sekali.”

“Oh iya ... ngomong-ngomong bayiku cowok atau cewek ya, Bu?” kutanyakan hal ini yang kemarin belum sempat bertanya.

“Sebentar, nanti dilihat lagi, ya.”

“Jadi gini ....” Bu Sonia membenarkan tempat duduknya, hendak menjelaskan sesuatu kepadaku.

“Ibuk itu hormonnya sangat tinggi. Kelebihan hormon. Overdosis istilahnya. Pakek kontrasepsi apapun pasti kebobolan juga. Kasus seperti ini seharusnya harus diganti setengah dari masa aktif  kontrasepsi itu. Misalnya Ibuk pakek implan jangka 3 tahun, setahun setengah harus sudah diganti. Agar hormon diperbarui.”

Aku manggut-manggut mendengarnya. Berpikir hal yang masuk akal. Sebelumnya mempertanyakan hal ini. Kenapa aku bisa hamil. Namun sekarang sudah paham, setelah mendengar penjelasan dari Bu Sonia.

“Terima kasih, Bu.”

“Iya, sekarang mau lihat gak jenis kelamin anaknya?” Senyum Bu Sonia mengembang, mencairkan suasana yang tegang.

“Mau dong, Bu,” celetuk suamiku.

Aku berbaring di atas ranjang, siap diperiksa oleh Bu Sonia.

Beliau menggerak-gerakkan alat di atas perutku, lalu berkata, “kayaknya kok cowok, ya.”

Aku tertawa kecil.

“Cowok lagi!” pekik suami yang berdiri di samping ranjang.

“Inikan cuma prediksi tho, Pak. Bisa saja salah,” ucap Bu Sonia. Sedang aku hanya diam.

***

Aku mulai mempersiapkan peralatan bayi. Rasanya baru kemarin aku ada diposisi seperti ini, sekarang sudah berkemas gurita, bedong, dan gendongan lagi. Untung bekas kakaknya masih bagus, sehingga hanya membeli beberapa saja.

Tanggal perkiraan lahir sudah jatuh dua hari yang lalu. Kembali periksa ke bidan, aku dirujuk ke rumah sakit.

Untung saja aku memiliki kartu KIS, sehingga tidak memikirkan biaya operasi. Iya, akhirnya dokter memutuskan untuk tindakan operasi. Selain mundur dari HPL, riwayat kehamilanku yang mengharuskan untuk dilakukannya operasi.

Aku terbaring di atas ranjang, dengan lampu-lampu diatasnya. Seorang perawat memasang tirai memisahkan bagian dada ke atas dan ke bawah. Sebelumnya dokter memberikan injeksi anestesi di tulang punggungku.

Mata ini terbuka meski terlihat kabur. Dentingan alat operasi terdengar lirih di telingaku. Mungkin dokter sudah menyayat perutku. Mulutku komat-kamit mengucap lafal Allah. Meminta kekuatan kepada Sang Pencipta, juga keselamatan untukku dan bayiku.

Lima belas menit kemudian terdengar tangisan bayi, namun aku merasa sangat lelah. Hingga kemudian tak ingat lagi yang terjadi.

Kubuka mata perlahan. Badanku menggigil. Kulihat ruangan penuh dengan alat entah apa itu namanya. Tak ada seorangpun disini. Kemudian seorang perawat mendekati.

“Ibu sudah sadar, alhamdulillah anaknya sehat dan ganteng,” kata perempuan berbaju putih itu.

“Alhamdulillah .... Suamiku mana, Bu?”

“Ada diluar, nanti saya panggilkan. Saat ini ibu masih harus disini dulu, sampai efek obat bius itu hilang. Nanti setelahnya, Ibu bisa dipindah di ruang rawat,” jelasnya.

Aku hanya mengangguk. Rasa dingin yang sangat kurasakan di tubuhku, membuat sulit untuk bicara. Tak lama kemudian suamiku datang lalu memelukku.

Efek obat bius itu sudah hilang. Badanku sudah normal. Aku dipindah di kamar rawat bersama pasien yang lain. Kamar kelas tiga yang berisi enam pasien.

Aku lega, telah melewatinya. Tak lama kemudian seorang suster membawa bayiku. Segera kuberi ia ASI pertama. Katanya ini bisa menjadi antibodi untuk si bayi.

Kuelus kepalanya. Kupegang jarinya yang mungil. Bayi yang tak bergerak beberapa bulan dalam kandungan, kini sudah ada di pangkuan. Suami dan kedua anakku masuk ke ruangan. Nampaknya anak-anak senang dengan hadirnya si adik. Dicubiti pipinya lalu menciumnya.

Aku tersenyum. Kebahagiaan menyelimutiku, suami dan ketiga jagoanku.

2 komentar:

OVERDOSIS

  Di depan cermin, terlihat   perutku semakin besar. Lalu kuelus bulatan di perut ini. Penyakit yang aku takuti, mungkinkah itu terjadi. Bag...