Kamis, 01 Juli 2021

REVIEW NOVEL BIDADARI UNTUK DEWA BY ASMA NADIA





“Ujian terberat seorang istri adalah ketika suami jatuh di lembah ketidakberdayaan. Dan istri yang baik akan terus bertahan, bukan meninggalkan.”

Novel Bidadari untuk Dewa karya Bunda Asma Nadia ini sangat cocok dibaca oleh para perempuan sekaligus pembisnis. Novel ini merupakan kisah nyata dari seorang entrepreneur Dewa Eka Prayoga yang dikemas apik oleh sang penulis.

Sebelum menuju review novel, berikut blurb dari novel Bidadari untuk Dewa.

BLURB NOVEL BIDADARI UNTUK DEWA

Bisa jadi Dewa adalah satu dari sedikit sosok anak muda fenomenal dari paling banyak membuat kejutan, sebab hidupnya nyaris mirip permainan hidup mati Russian Roullete.

Bagaimana tidak, dari anak muda yang dikagumi karena sudah menghasilkan satu miliar di usia 21 tahun, lalu terjerembab utang nyaris delapan miliar, bangkit sebelum kembali terpuruk dijerat penyakit langka yang dalam kasusnya, delapan puluh persen berpeluang mengantarkannya ke kematian.

Namun, hidupnya tak lantas sunyi, sebab bidadari bermata bak Cleopatra setia menggenggam tangannya, mengalirkan cinta tanpa syarat, tak beranjak meski sepasang sayapnya patah dan terkikis luka.

“Bidadarimu di sini.”

Bisikan lembut terus menguatkan.

Di ujung ujian yang nyaris mematahkan seluruh pertahanan Dewa bangkit seperti Herkules yang marah karena pengkhianatan. Bukan kutukan atau mantra mematikan yang ia lepaskan, tapi semangat istighfar dan kekuatan ridha untuk tetap tegak tanpa boleh sedikit pun melupakan Sang Maha Pencipta.

RINGKASAN KISAH DI NOVEL BIDADARI UNTUK DEWA

Dewa yang merupakan mahasiswa di Universitas Pendidikan Indonesia atau UPI yang berlokasi di Bandung Jawa Barat. Pemuda yang cerdik, berwawasan luas hingga menjadikan dia menjadi salah satu mahasiswan kaya dengan penghasilan satu miliar di usia 21 tahun dengan mendirikan Lembaga Bimbingan Belajar dan menerbitkan buku bertema seputar bisnis dan entrepeneurship.

Menikah muda dengan Haura, teman di kampus sekaligus partner di lembaga Bimbel yang didirikan. Namun, ibu Dewa tidak begitu menyukai Haura. Dewa berusaha mendekatkan keduanya.

Bom kebencian itu meledak di usia pernikahan yang belum genap satu bulan, Dewa tertimpa musibah. Ia tertipu temannya yang berkedok sebagai ustad. Ya, ustad gadungan tepatnya. Tidak sedikit kerugian yang harus ditanggung Dewa, kurang lebih delapan miliar. Kerugian tersebut bukan murni uang Dewa. Karena Dewa mengajak orang lain untuk ikut dalam bisnisnya, dengan penuh tanggung jawab Dewa berjanji akan mengembalikan uang mereka. Ibu mertua Haura semakin benci, mengatakan bahwa Haura merupakan sumber kesialan dalam keluarga baru mereka.

Dewa memutar otak untuk melunasi utangnya kepada pihak yang juga menjadi korban dalam bisnis tersebut. Dibantu kedua sahabatnya ia merintis bisnis kecil dengan memanfaatkan media sosial untuk menawarkan produknya. Perjuangan dan air mata mereka rasakan hingga titik darah penghabisan. Namun, untuk melunasi semua utangnya membutuhkan waktu puluhan tahun. Dewa kembali memutar otak untuk memikirkan bagaimana cara melunasi utang tersebut dengan cepat.

Badai belum berlalu, utang belum sempurna terlunasi. Dewa kembali jatuh. Kali ini jatuh di lembah ketidakberdayaan. Seluruh tubuhnya tidak bisa digerakkan, mulut  tidak bisa untuk mengungkapkan. Dewa terserang penyakit imun yang sangat langka, dan prosentase sembuhnya hanya dua puluh persen saja.

Perjuangan harus kembali digelakkan. Air mata terus bercucuran. Doa dan harapan diagungkan. Hanya Sang Pencipta tempat meminta pertolongan.

Berbulan-bulan Dewa terbaring dalam ketidakberdayaan. Pengobatan dan terapi terus dilakukan. Kerabat dan teman turut berdatangan.  Rendy Saputra, salah satu teman yang datang ke rumah untuk menjenguk Dewa. Ia memiliki cara unik untuk menghibur sekaligus membangkitkan semangat Dewa untuk kesembuhan.

“Mas, Bro! Tanggal 4 Maret hadirlah. Kalau kamu tidak bisa berdiri, duduklah ! Bagaimana pun caranya, kalau kamu tidak bicara, aku yang ngomong. Aku sediakan seribu panggung untukmu di tempat terbaik. Tolong hadir jadi kisah nyata.”

Rupanya undangan dari produser film Dua Kodi Kartika untuk menjadi pembicara itu mampu menyuntikkan semangat Dewa untuk sembuh. Meskipun belum sembuh total, Dewa pun menghadiri seminar tersebut dengan masih menggunakan kursi roda.

BAGIAN YANG SAYA SUKA DI NOVEL BIDADARI UNTUK DEWA

Terlepas penulis novel yang memang saya suka, novel ini dikemas dengan apik yang menggabungkan gaya bahasa dengan dongeng mitologi Yunani. Banyak pengetahuan yang bisa didapat di novel ini. tak kalah menariknya ilmu bisnis juga disematkan oleh penulis karena memang tokoh Dewa dalam cerita merupakan seorang yang sukses dalam berbisnis.

Haura yang berarti bidadari merupakan nama samaran istri Kang Dewa. Haura merupakan sosok istri tang tabah, tangguh, dan setia. Gejolak yang terjadi di rumah tangga mereka sangat menginspirasi keluarga-keluarga muda di luar sana.

Ohya, dari novel ini saya jadi tahu nama-nama Dewa dalam dongeng Mitologi Yunani. Pokoknya keren banget novelnya. Kalian wajib membacanya.

Berikut tadi merupakan review novel Bidadari untuk Dewa dari kacamata saya. Terima kasih sudah berkunjung dan sudi membaca tulisan receh ini. Jangan lupa tinggalkan komen, ya!

1 komentar:

  1. Diterbitkan oleh penerbit mana ya, mbak? Jadi kepo juga nih ^^

    BalasHapus

OVERDOSIS

  Di depan cermin, terlihat   perutku semakin besar. Lalu kuelus bulatan di perut ini. Penyakit yang aku takuti, mungkinkah itu terjadi. Bag...