“Ujian terberat seorang
istri adalah ketika suami jatuh di lembah ketidakberdayaan. Dan istri yang baik
akan terus bertahan, bukan meninggalkan.”
Novel Bidadari untuk
Dewa karya Bunda Asma Nadia ini sangat cocok dibaca oleh para perempuan
sekaligus pembisnis. Novel ini merupakan kisah nyata dari seorang entrepreneur Dewa Eka Prayoga yang
dikemas apik oleh sang penulis.
Sebelum menuju review
novel, berikut blurb dari novel Bidadari untuk Dewa.
BLURB
NOVEL BIDADARI UNTUK DEWA
Bisa jadi Dewa adalah
satu dari sedikit sosok anak muda fenomenal dari paling banyak membuat kejutan,
sebab hidupnya nyaris mirip permainan hidup mati Russian Roullete.
Bagaimana tidak, dari
anak muda yang dikagumi karena sudah menghasilkan satu miliar di usia 21 tahun,
lalu terjerembab utang nyaris delapan miliar, bangkit sebelum kembali terpuruk
dijerat penyakit langka yang dalam kasusnya, delapan puluh persen berpeluang
mengantarkannya ke kematian.
Namun, hidupnya tak
lantas sunyi, sebab bidadari bermata bak Cleopatra setia menggenggam tangannya,
mengalirkan cinta tanpa syarat, tak beranjak meski sepasang sayapnya patah dan
terkikis luka.
“Bidadarimu di sini.”
Bisikan lembut terus
menguatkan.
Di ujung ujian yang
nyaris mematahkan seluruh pertahanan Dewa bangkit seperti Herkules yang marah
karena pengkhianatan. Bukan kutukan atau mantra mematikan yang ia lepaskan,
tapi semangat istighfar dan kekuatan ridha untuk tetap tegak tanpa boleh
sedikit pun melupakan Sang Maha Pencipta.
RINGKASAN
KISAH DI NOVEL BIDADARI UNTUK DEWA
Dewa yang merupakan
mahasiswa di Universitas Pendidikan Indonesia atau UPI yang berlokasi di
Bandung Jawa Barat. Pemuda yang cerdik, berwawasan luas hingga menjadikan dia
menjadi salah satu mahasiswan kaya dengan penghasilan satu miliar di usia 21
tahun dengan mendirikan Lembaga Bimbingan Belajar dan menerbitkan buku bertema
seputar bisnis dan entrepeneurship.
Menikah muda dengan
Haura, teman di kampus sekaligus partner
di lembaga Bimbel yang didirikan. Namun, ibu Dewa tidak begitu menyukai Haura.
Dewa berusaha mendekatkan keduanya.
Bom kebencian itu
meledak di usia pernikahan yang belum genap satu bulan, Dewa tertimpa musibah.
Ia tertipu temannya yang berkedok sebagai ustad. Ya, ustad gadungan tepatnya.
Tidak sedikit kerugian yang harus ditanggung Dewa, kurang lebih delapan miliar.
Kerugian tersebut bukan murni uang Dewa. Karena Dewa mengajak orang lain untuk
ikut dalam bisnisnya, dengan penuh tanggung jawab Dewa berjanji akan
mengembalikan uang mereka. Ibu mertua Haura semakin benci, mengatakan bahwa
Haura merupakan sumber kesialan dalam keluarga baru mereka.
Dewa memutar otak untuk
melunasi utangnya kepada pihak yang juga menjadi korban dalam bisnis tersebut.
Dibantu kedua sahabatnya ia merintis bisnis kecil dengan memanfaatkan media
sosial untuk menawarkan produknya. Perjuangan dan air mata mereka rasakan
hingga titik darah penghabisan. Namun, untuk melunasi semua utangnya
membutuhkan waktu puluhan tahun. Dewa kembali memutar otak untuk memikirkan
bagaimana cara melunasi utang tersebut dengan cepat.
Badai belum berlalu,
utang belum sempurna terlunasi. Dewa kembali jatuh. Kali ini jatuh di lembah
ketidakberdayaan. Seluruh tubuhnya tidak bisa digerakkan, mulut tidak bisa untuk mengungkapkan. Dewa
terserang penyakit imun yang sangat langka, dan prosentase sembuhnya hanya dua
puluh persen saja.
Perjuangan harus
kembali digelakkan. Air mata terus bercucuran. Doa dan harapan diagungkan.
Hanya Sang Pencipta tempat meminta pertolongan.
Berbulan-bulan Dewa
terbaring dalam ketidakberdayaan. Pengobatan dan terapi terus dilakukan.
Kerabat dan teman turut berdatangan. Rendy Saputra, salah satu teman yang datang ke
rumah untuk menjenguk Dewa. Ia memiliki cara unik untuk menghibur sekaligus
membangkitkan semangat Dewa untuk kesembuhan.
“Mas, Bro! Tanggal 4
Maret hadirlah. Kalau kamu tidak bisa berdiri, duduklah ! Bagaimana pun
caranya, kalau kamu tidak bicara, aku yang ngomong. Aku sediakan seribu
panggung untukmu di tempat terbaik. Tolong hadir jadi kisah nyata.”
Rupanya undangan dari
produser film Dua Kodi Kartika untuk menjadi pembicara itu mampu menyuntikkan
semangat Dewa untuk sembuh. Meskipun belum sembuh total, Dewa pun menghadiri
seminar tersebut dengan masih menggunakan kursi roda.
BAGIAN
YANG SAYA SUKA DI NOVEL BIDADARI UNTUK DEWA
Terlepas penulis novel
yang memang saya suka, novel ini dikemas dengan apik yang menggabungkan gaya
bahasa dengan dongeng mitologi Yunani. Banyak pengetahuan yang bisa didapat di
novel ini. tak kalah menariknya ilmu bisnis juga disematkan oleh penulis karena
memang tokoh Dewa dalam cerita merupakan seorang yang sukses dalam berbisnis.
Haura yang berarti
bidadari merupakan nama samaran istri Kang Dewa. Haura merupakan sosok istri
tang tabah, tangguh, dan setia. Gejolak yang terjadi di rumah tangga mereka
sangat menginspirasi keluarga-keluarga muda di luar sana.
Ohya, dari novel ini
saya jadi tahu nama-nama Dewa dalam dongeng Mitologi Yunani. Pokoknya keren
banget novelnya. Kalian wajib membacanya.
Berikut tadi merupakan
review novel Bidadari untuk Dewa dari kacamata saya. Terima kasih sudah
berkunjung dan sudi membaca tulisan receh ini. Jangan lupa tinggalkan komen,
ya!

Diterbitkan oleh penerbit mana ya, mbak? Jadi kepo juga nih ^^
BalasHapus